Dugaan Suntikan Membawa Kematian Bocah Enam Tahun di RS Prasetya Husada Karangploso Malang

Ilustrasi suntik (ist.)
Ilustrasi suntik (ist.)

Kabupaten Malang, blok-a.com
Dugaan malpraktek RS Prasetya Husada yang berada di Jalan Raya Ngijo Karangploso no 25 Desa Kepuharjo Kecamatan Karangploso, atas kematian pasien bernama Alvito (6) mendapatkan sorotan baik anggota DPRD Kabupaten Malang maupun Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Malang Raya.

Perlu diketahui , pasien bernama Alvito Ghaniyyu Maulidan, bocah umur enam tahun asal Jalan Pertamanan, Desa Kepuharjo, Kecamatan Karangploso, diduga usai disuntik meninggal dunia (13/6/2023).

Kejadian tersebut membuat keluarga korban merasa ada yang janggal dalam kematian Alvito.

Pasalnya, saat di bawa ke RS tersebut kondisinya masih bisa berjalan dan terlihat tidak terlalu parah.

Bocah tersebut nyawanya tidak tertolong pada Rabu (14/6/2023) dini hari. Hal itu dibenarkan oleh ayah korban, Imam Jazuli di kediamannya, Jalan Pertamanan, Desa Kepuharjo, Kecamatan Karangploso pada Kamis (22/6/2023).

Imam Zazuli, orang tua korban menceritakan sebelum putra bungsunya meninggal dunia, Awalnya hari Minggu (11/6/2023), putranya tidak mengeluhkan sakit apapun, ia masih bermain sepak bola bersama teman-temannya.

Kemudian Senin (12/6/2023) ia juga masih masuk sekolah seperti biasanya. Tapi setelah pulang, dia mulai mengeluhkan pusing. Keluhan itu disampaikan kepada mamanya, dan ia pun diberi obat penurun panas. Kemudian Selasa (13/6) dia sudah tidak nafsu makan, hanya satu sampai tiga suap sendok.

“Kondisinya semakin menurun tapi masih bisa jalan, dari pada nanti semakin sakit, akhirnya saya bawa ke rumah sakit pada Selasa (13/6) pukul  23.30 WIB, malam hari, saya bawa bersama istri ke Rumah Sakit Prasetya Husada yang dekat dengan rumah,” ujarnya .

Di sana, putranya langsung mendapat penangganan. Hasil pemeriksaan petugas kesehatan, nampaknya putranya sakit lambung. Sebab kalau tifus atau demam berdarah harus menunggu hasil laboratorium.

“Setelah itu anak saya dipasangi infus, nah setelah itu tubuh Alvito nampak membaik dan segar, bahkan korban sempat makan dan minum. Setelah itu, tiba-tiba anak saya mengalami mual dan mau muntah, saya sampaikan ke nakes. Setelah observasi, nakes membawa dua spet obat dan langsung menyuntikkannya ke cairan infus anak saya,” tuturnya.

Imam tidak mengetahui obat apa yang disuntikkan, bahkan tanpa persetujuan dari keluarga, pihak nakes langsung menyuntikkan obat ke infus putranya.

Tak berselang lama sekitar lima menit, tubuhnya mengalami kejang-kejang dan membiru, bahkan putranya sempat berteriak. Dirinya pun panik dan menanyakan ke nakes.

“Waktu itu saya panik dan berteriak bagaimana ini dok? Alasan saya teriak karena kesannya dokter atau nakes yang bertugas membiarkan putra saya kejang-kejang, tidak langsung merespon. Bahkan beralasan akan mengambil alat, tapi tidak kunjung ada penanganan,” keluhnya.

Imam semakin panik dan sedih saat mengetahui detak jantung putranya berhenti dan dinyatakan meninggal dunia. Dirinya pun sontak menanyakan ke nakes yang bertugas.

“Karena panik saya kembali bertanya, tadi anak saya kamu suntik apa? Nakes itu menjawab katanya hanya diberi suntik obat lambung. Jadi putra saya tak bawa ke RS jam setengah sebelas dan malam pada Rabu pukul 00.30 WIB meninggal dunia, sekitar dua jam di rumah sakit,” katanya.

Imam pun akhirnya membawa jenazah putranya ke rumah duka dan dimakamkan di pagi hari. Selain itu, Imam meminta penjelasan penyebab kematian anaknya melalui rekam medis.

“Tapi hasil dari rekam medis tidak sesuai dengan jam, contohnya waktu anak saya kejang setelah diberi suntikan obat itu memiliki jeda waktu hanya lima menit, tapi di rekam medis 20 menit. Itu yang membuat saya tidak puas dan meminta rekam medis direvisi,” pungkasnya .

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Malang, Saiful Efendi menyoroti bahwa kejadian tersebut sangat merugikan masyarakat, dalam hal ini korban dan keluarga.

“Kami sangat mendorong agar kasus ini diusut secara menyeluruh dari kronologi hingga sisi medis yang menyebabkan Alvito meninggal,” ujarnya.

Pihaknya mengaku sudah mengkomunikasikan ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang dan minta dilakukan pengusutan mulai awal.

“Faskes itu juga dibawah Dinkes. Pihak dinkes pada waktu itu sudah mengutus stafnya kesana, sudah ada hasil, tapi belum dapat kesimpulan,” jelas Saiful saat dikonfirmasi, kemarin.

Dirinya belum bisa menyimpulkan adanya malpraktik atau tidak dalam peristiwa itu. Dinkes diminta serius dalam melakukan proses penanganan dan pengusutannya.

“Setelah telaah kasus, perlu pendalaman karena faktor apakah meninggalnya. Dalam dua hari ini, akan dipertajam oleh tim Dinkes,” terangnya.

Terkait masalah medis, kata Saiful, memang tidak mudah dipahami semua orang dari kalangan awam. Namun, selama masyarakat merasa dirugikan, berhak untuk meminta pertanggungjawaban

“Yang jelas harus dievaluasi. Kalau merugikan masyarakat, harus jemput bola dan diusut,” jelasnya .

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Malang Raya, Sasmoyo Widito melalui Humas Nanik Setijowati menyampaikan, IDI menghargai proses yang sedang berlangsung. Dia berharap semua diselesaikan dengan baik. Dikatakannya, IDI sesuai perannya, akan membantu proses audit medis yang dilakukan oleh RS Prasetya Husada.

“Untuk melihat apakah terdapat pelanggaran prosedur medis atau tidak. Ada berbagai masalah yang mungkin ditemukan, seperti ketidaksesuaian dalam pelayanan, dan sebagainya. Selalu diupayakan telaah detil dan diupayakan solusi terbaik. Jika ada temuan kurang tepat, pasti dilakukan koreksi,” jelas Nanik dihubungi terpisah.

Menurutnya, IDI melalui Biro Hukum, Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BHP2A) bersama Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), siap membantu melakukan mediasi terutama dengan keluarga pasien. Di sisi lain, Kadinkes Kabupaten Malang, drg. Wiyanto Wijoyo, MM.Kes menyebut, pihaknya masih menunggu proses laporan resmi RS dari RS Prasetya Husada.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak RS Prasetya Husada. Saat dihubungi lewat nomor layanan 0341-460558 salah satu petugas mengatakan akan disampaikan ke direksi RS. (mg1/bob).

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?