Nasib Pedagang Wisata Belanja Tugu Bergantung Pada Ramainya Pengunjung CFD Kota Malang

Suasana sepi Wisata Belanja Tugu Kota Malang, Minggu (4/09/2022) (blok-A.com/Defrico Alfan)

Kota Malang, blok-A.com – Tepat di depan Stadion Gajayana, Wisata Belanja Tugu Malang dihiasi dengan pedagang dan pembelinya di hari Minggu.

Tidak padat, cukup luas untuk berjalan-jalan. Pedagang disana tampak diam, dan menunggu pengunjung datang.

Dari kejauhan, nampak pedagang buku yang duduk di kursi plastiknya, hanya melihat lihat pejalan kaki yang lewat. Wartawan online saat itu menghampirinya.

Bukunya usang dan berdebu. Sekitar puluhan buku terpampang di alas tikarnya, tidak ada yang menyentuh sama sekali. Saat ditanya wartawan online, ia pun bersedia untuk diwawancarai.

Marlan namanya. Pria paruh baya itu hanya seorang pedagang buku pasar minggu. Ia sudah terjun di dunia perbukuan selama 20 tahu. Hanya mengenakan jaket bomber biru, juga topi hitamnya, ia siap berjualan di tengah Wisata Belanja Tugu Malang.

“Sudah 20 tahun mas disini. Jualan buku pelajaran dari TK, SD, dan umum,” ujarnya pada Minggu (04/09/2022).

Karena tidak ada kegiatan dirumah, ia memutuskan untuk pergi berjualan buku di pasar minggu. Walau sepi, ia mengungkapkan rasa senangnya ketika berjualan disana.

“Karena tidak ada kegiatan mas, jadi saya jualan ini. Saya senang berjualan karena ketemu banyak teman, saudara, bisa ngobrol juga,” tuturnya sambil tertawa kecil.

Saat ditanya blok-A.com, dugaan itu benar. Pasar minggu sudah jarang dikunjungi dan Covid-19 memperparah keadaan saat itu. Marlan sebagai pedagang buku, sangat merasakan dampak dari pandemi, yang masih ia rasakan sampai saat ini.

“Betul itu mas. Dua tahun itu, sebulan dua kali jualan. Karena pandemi, saya tidak menambah stok, tapi habisin stok saja.
Penurunannya banyak sekali mas, dan pengunjungnya sedikit sekali,” ujarnya.

Ia menjual buku dikisaran Rp 10 ribu – Rp 15 ribu. Namun ,ada juga beberapa buku yang ia jual sebesar Rp 5 ribu saja.

Dengan berjualan buku, Marlan bisa meraup untung sebesar Rp 700 ribu – Rp 800 ribu perbulannya. Namun tidak untuk sekarang. Mendapatkan uang Rp 100 ribu saja, ia sudah bersyukur.

“Sebelum pandemi bisa sampai Rp 700 ribu – Rp 800 ribu mas. Kalau sekarang, dapat Rp 100 ribu saja alhamdulillah. Belum ada kenaikan mas,” ucapnya sambil tertawa.

Saat ditanya keinginannya, ia hanya megatakan bahwa pasar minggu itu masih ada. Marlan menginginkan pengunjung bisa ramai seperti dulu lagi.

“Solusinya promosi bisa diperluas, terutama koran dan berita ya. Mudahan pasar minggu masih tetap eksis seperti dulu, yang belum jualan, ayo jualan disini biar ramai,” tutupnya.

Penurunan Pedagang, Covid-19 dan Perputaran Transaksi

Setelah 15 menitan mengobrol dengan pedagang, akhirnya wartawan bertemu dengan Ketua Ikatan Pedagang Wisata Belanja Tugu (IPWBT), untuk mendaptkan infromasi lebih tentang pasar minggu tersebut.

Saat itu, ia sedang berkumpul bersama rekannya, di salah satu tenant dekat lapangan tenis. Wartawan online pun berbicara dengannya.

Ketua Ikatan Pedagang Wisata Belanja Tugu (IPWBT), Mecky mengatakan ada dua hal yang menjadi penurunan dalam Wisata Belanja Tugu hingga sekarang. Ia membeberkan cerita dibalik penurunan tersebut.

“Ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, penurunan anggota Wisata Belanja Tugu, didasari karena tujuh tahun yang lalu, terjadi pemindahan pasar minggu, dari Jalan Semeru, menuju halaman depan Stadion Gajayana Luar,” ucapnya pada Minggu (04/09/2022).

Hal tersebut mengakibatkan jumlah keanggotaan Wisata Belanja Tugu, menurun. Dari 456 anggota, kian mengikis menjadi 300-an anggota saja.

“Kedua, diperparah hadirnya covid, pedagang banyak yang berkelingpungan. Kita harus mengakui bahwa covid berdampak langsung ke UMKM,” ujarnya pada blok-A.com.

Terlebih, Mecky menuturkan bahwa banyak pasar-pasar baru yang menjadi opsi pengunjung, berbelanja ditempat lain.

Ditengah pembicaraan, Mecky sempat menceritakan bahwa Wisata Belanja Tugu Malang, pernah menyabet gelar Juara Dua Objek Wisata Tingkat Jawa Timur. Okupansi pengunjungnya pun ribuan, bahkan perputaran transaksinya hingga milyaran.

“Sebelum Covid, pasar wisata ini pernah mendapatkan gelar Juara Dua Objek Wisata Tingkat Jawa Timur. Pengunjungnya pun ramai, sekitar ribuan. Bahkan, perputaran transaksinya bisa mencapai Rp 1,3 Milyar – Rp 1,4 Milyar di hari Minggu. Pedagang bisa bawa pulang Rp 2 juta – Rp 4 juta saat itu,” ucapnya.

Namun itu dulu. Sekarang, perputaran transaksi senilai Rp 10 juta saja. Pedagang hanya bisa membawa uang sebesar Rp 100 ribu – Rp 300 ribu per hari Minggu. Hal tersebut dipastikan langsung oleh Mecky, saat bertanya ke salah satu pedagang di dekatnya.

“Mbah, berapa jumlah transaksi hari ini, ucapnya pada salah satu pedagang.

“Rp 300 ribu,” tutur pedagang tersebut.

Melihat penuruan transaksi di Wisata Belanja Tugu Malang, seakan membutuhkan solusi terhadap pasar tersebut. Ketika ditanya, Mecky pun menjawab langkah apa yang sudah dilakukan untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan pengunjungnya.

“Yang pertama kita tidak menyalahkan manapun ,internal tetap pembenahan saja. Kita diberi fasilitas oleh Disporapar, untuk menggunakan toilet dalam,” pungkasny.

“Ada perbaikan cover tenda, setidaknya wajahnya bisa lebih cantik. Melakukan protokol kesehatan, hingga pendataan ulang untuk yang mau beraktivitas disini,” ucapnya.

Sebagai informasi, total terdata pedagang yang ada di Wisata Belanja Tugu, sebesar 186 pedagang. Mecky tidak akan menambah jumlah keanggotaan, karena harus sesuai dengan keputusan dinas nantinya. Ia menginginkan Wisata Belanja Tugu itu, berubah menjadi ramai.

Solusi Disporapar, Hingga Penertiban Pedagang Liar

Saat blok-A.com mengonfirmasi terkait sepinya Wisata Belanja Tugu Disporapar akhirnya buka suara.

Kepala Disporapar Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni mengutarakan solusi yang diberikan untuk meramaikan Wisata Belanja Tugu tersebut. Ia menyarankan bahwa CFD (Car Free Day) akan dibuka hingga ke Jalan Tenes.

“Untuk meramaikan, rencana CFD akan diperluas sampai ke Jalan Tenes, sehingga pejalan bisa mampir ke Wisata Belanja Tugu Malang,” ucapnya pada Rabu (07/09/2022).

Ia menuturkan bahwa CFD akan dibuka kembali pada Minggu ini ,(11/09/2022). Untuk lebih lanjutnya, ia memberikan amanah untuk menanyakan terhadap Wali Kota, Sutiaji.

“Rencana minggu besok, untuk CFD nya, bisa tanya Wali Kota,” tuturnya.

Sampai saat ini, hanya itu sosusi yang diberikan oleh Ketua Disporapar Kota Malang. Dugaan lainnya, datang dari pedagang liar yang berjualan di Jalan Ijen ataupun sekitarnya. Blok-A.com langsung mengonfirmasi ke Kabid Trantibum Satpol PP.

Ketika wartawan mewawancarainya via telpon, Kabid Trantibum Satpol PP, Rahmat Hidayat meragukan bahwa pedagang liar menjadi penyebab sepinya Wisata Belanja Tugu.

“Kalau Wisata Belanja Tugu, kan dari Covid mas. Jika pedagang liar, kami sudah tertibkan,” ucapnya.

Sesuai dengan Perda 2 Tahun 2012, Satpol PP sudah menindak tegas adanya pedagang liar yang berkeliaran di sekitar Jalan Ijen, dan lain- lain. Rahmat menuturkan langkah apa saja yang diambil, untuk menertibkan pedagang liar tersebut.

“Kita menggunakan langkah yang humanis, seperti teguran satu, dua, dan tiga. Jika masih bandel, kita lakukan tipiring mas,” ucapnya pada Senin (05/09/2022).

Perbulannya, ada sekitar 10-20 pedagang liar yang masih berkeliaran di Kota Malang. Hadirnya Satpol PP, bukan semata-mata menindak tegas para pedagang liar. Namun juga didasari aturan yang melarangnya.

“Satpol PP menyadari kebutuhan hidup mereka, tapi memang ada aturan yang melarang. Jika tidak ditertibkan, akan menjadi kumuh dan membuat Kota Malang tidak bagus,” pungkasnya.

Rahmat menjelaskan bahwa pedagang liar di Kota Malang masih berpindah-pindah, untuk itu perlu ada tindakan dari Satpol PP, untuk mengindahkan tata kota Malang yang terhindar dari kata kumuh. Ia hanya menduga, sepinya Pasar Wisata Belanja Tugu, murni dari efek pandemi yang berkepanjangan.(mg1/bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com