Minta Pemerintah Turun Tangan, Ecoton Soroti Penurunan Kualitas Air Laut hingga Mangrove Mati di Pesisir Gresik

Temuan mangrove mati tim susur pesisir laut Ecoton di Manyarejo, Manyar, Gresik (foto: Blok-a.com/Ivan)
Temuan mangrove mati tim susur pesisir laut Ecoton di Manyarejo, Manyar, Gresik (foto: Blok-a.com/Ivan)

Gresik, Blok-a.com – Temuan penurunan kualitas air laut di kawasan pesisir Manyarejo-Mengare, Kecamatan Manyar, Gresik, mulai memantik perhatian serius.

Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) mendesak pemerintah daerah segera melakukan pengawasan menyeluruh terhadap aktivitas reklamasi yang berlangsung di kawasan tersebut.

Desakan itu muncul setelah Ecoton melakukan pengujian kualitas air laut di sejumlah titik perairan sekitar kawasan reklamasi. Penelitian dilakukan menyusul banyaknya keluhan nelayan Mengare yang mengaku hasil tangkapannya terus merosot dalam beberapa tahun terakhir.

Dari hasil pengukuran awal, Ecoton menemukan kadar fosfat dan amonia cukup tinggi di area perairan yang berdekatan dengan proyek reklamasi. Selain itu, kadar oksigen terlarut di kawasan tersebut juga tercatat rendah.

Direktur Eksekutif Ecoton, Dr Daru Setyorini, mengatakan kondisi itu perlu segera ditindaklanjuti oleh instansi terkait karena berpotensi memengaruhi ekosistem pesisir dan kehidupan biota laut.

“Kami berharap Dinas Kelautan dan Perikanan maupun Dinas Lingkungan Hidup bisa melakukan monitoring lebih lanjut di kawasan ini. Karena kami melihat aktivitas reklamasi masih berlangsung,” ujar Daru, Kamis (14/5/2026).

Saat melakukan penelusuran lapangan, tim Ecoton juga mendapati aktivitas truk pengangkut material urukan di area reklamasi. Selain itu, mereka menemukan hamparan mangrove yang telah mati di sekitar garis pantai.

Tim Ecoton Uji Kualitas Air Laut Mengare

Nelayan Sebut Air Laut Mengare Tidak Asin Lagi, Ecoton Temukan Penurunan Kualitas di Pesisir JIIPE Gresik

Menurut Daru, pemerintah perlu memastikan apakah seluruh aktivitas di kawasan pesisir Manyarejo-Mengare telah memenuhi ketentuan perizinan yang diwajibkan.

“Kami meminta dinas terkait memastikan apakah kegiatan di sepanjang garis pantai ini sudah memiliki izin sesuai aturan atau belum. Selain itu, dampaknya terhadap kualitas perairan juga harus diperiksa,” lanjutnya.

Temuan lain yang menjadi sorotan adalah keberadaan area mangrove mati dalam luasan cukup besar. Secara fisik, vegetasi mangrove tersebut masih berdiri, namun batangnya terlihat mengering dan berubah kecoklatan.

Kondisi itu dinilai perlu ditelusuri lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti kerusakan ekosistem mangrove di kawasan tersebut.

“Kami melihat ada mangrove yang mati. Ini perlu ditelusuri lagi karena kami khawatir ada aktivitas tertentu yang berdampak terhadap ekosistem pesisir,” kata Daru.

Ecoton juga meminta pemerintah melakukan investigasi menyeluruh terhadap aktivitas reklamasi di pesisir Manyarejo-Mengare, termasuk kemungkinan dampak terhadap lingkungan laut dan kawasan mangrove.

Sebelumnya, kawasan pesisir Manyar-Mengare menjadi sorotan setelah muncul dugaan adanya reklamasi dan pemanfaatan ruang laut yang belum sepenuhnya mengantongi Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL).

Di sisi lain, nelayan setempat mengaku hasil tangkapan mereka terus menurun sejak perubahan bentang pesisir terjadi. Mereka menyebut kawasan yang dulunya menjadi lokasi tangkap ikan dan rajungan kini sebagian telah berubah menjadi daratan reklamasi. (ivn/ova)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com