Blitar, Blok-a.com – Mantan Wali Kota Blitar, Mohammad Samanhudi Anwar, secara resmi terpilih menjadi Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Blitar masa bakti 2026–2030. Penetapan itu dilakukan dalam Musyawarah Olahraga Kota (Musorkot) yang digelar Selasa (19/5/2026).
Dalam pemilihan tersebut, Samanhudi mengantongi dukungan 22 suara, unggul selisih 7 suara dari satu-satunya lawannya, Tony Andreas, yang hanya memperoleh 15 suara.
Usai dinyatakan sebagai pemenang, Samanhudi langsung melontarkan pernyataan keras terkait dugaan adanya intervensi dari Pemerintah Kota Blitar dalam proses pemilihan kali ini. Ia menilai campur tangan tersebut tidak perlu dilakukan, apalagi KONI adalah lembaga mandiri.
“Saya sayangkan kenapa Pemda terlalu intervensi. Enggak perlu kita (KONI) dan dinas-dinas, khususnya Wali Kota, ikut-ikut ini. Biarkan berjalan alami. Ini satu-satunya cara untuk menunjukkan bahwa di sini tidak ada permainan politik dari pemerintah, dan aspirasi masyarakat bisa tersalurkan dengan benar,” kata Samanhudi.
Samanhudi menegaskan, kritik yang disampaikannya ditujukan secara kelembagaan kepada pemerintah daerah, bukan kepada sosok tertentu secara personal. Menurutnya, selama ini KONI kerap dianggap hanya mengikuti kehendak pemerintah, namun hasil pemilihan kali ini menjadi bukti lain.
“Sekarang jagonya pemerintah daerah kan kalah. Ini membuktikan kekuatan rakyat dan insan olahraga di Kota Blitar masih ada. Saya tidak mau menganggap ini kemenangan perorangan, tapi ini kemenangan bersama. Saya juga sudah sampaikan kepada kepala dinas terkait, bahwa KONI itu lembaga, bukan milik orang pribadi,” tegasnya.
Samanhudi mengaku sejatinya tidak memiliki ambisi untuk maju sebagai Ketua KONI. Namun, dorongan yang kuat dari sejumlah pengurus cabang olahraga membuat dirinya akhirnya bersedia menerima amanah tersebut.
“Ini sejujurnya nggak pengen jadi ketua ini, karena amanah ini datangnya dari teman-teman, dari pengurus cabang olahraga, yang menginginkan KONI dipimpin oleh putra daerah asli. Saya sayangkan kalau selama ini terlalu banyak intervensi, seolah-olah tidak ada kader lokal yang berkualitas. Padahal kalau ada calon dari sini, seharusnya kita mengutamakan mereka, tidak perlu mengadopsi dari luar,” jelasnya.
Samanhudi juga menyadari bahwa jabatan ini dianggap lebih rendah dibandingkan posisinya sebelumnya sebagai Wali Kota. Namun hal itu tidak menjadi masalah karena yang diutamakan adalah martabat dan kemandirian lembaga.
“Ini menurut saya grade saya sebenarnya turun, dari Wali Kota jadi Ketua KONI. Tapi ini soal marwah. KONI harus dipimpin putra daerah, kita punya banyak orang berkualitas, tidak perlu adopsi dari luar. Saya akan mundur kalau ada putra daerah lain yang mampu, tapi tidak hari ini. Kini saatnya KONI bangkit,” tambahnya.
Menanggapi isu kemungkinan pemotongan anggaran jika dirinya terpilih, Samanhudi menegaskan, bahwa pengelolaan keuangan daerah memiliki aturan dan mekanisme hukum yang jelas, sehingga tidak bisa diputuskan secara sepihak atau dijadikan alat tekanan.
“Jangan mengancam ‘Nanti kalau menang Samanhudi tidak dikasih dana’. Enggak boleh begitu. Aturannya sudah ada, saya juga pernah menangani soal anggaran selama 15 tahun, jadi paham betul. Semuanya tergantung Dewan dan Gubernur juga. Jadi tidak bisa sembarangan,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Pak Hudi itu juga memaparkan visinya untuk memajukan olahraga di daerah ini, yaitu menyatukan tiga pilar utama agar berjalan selaras, tidak saling menjatuhkan.
“Di sini ada tiga pilar yang harus berjalan sinkron: pertama, masyarakat dan pelaku olahraga, kedua, lembaga legislatif, ketiga, pemerintah. Ketiganya tidak boleh saling mengancam. Pemerintah cukup berperan sebagai pembina dan memberi ruang, selebihnya biarkan KONI bekerja,” tegasnya.
Selain itu, Samanhudi menyadari pentingnya mengikuti perkembangan zaman, sehingga dirinya berkomitmen mengoptimalkan peran teknologi informasi serta kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk media.
“Dunia itu ada tiga, dunia nyata, dunia gaib, dan dunia IT. Kalau sekarang kita tidak mengikuti perkembangan IT, kita akan tertinggal. Oleh karena itu, ke depannya kita akan banyak bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk media, untuk menyebarluaskan informasi dan memajukan olahraga di daerah ini,” tandasnya.
Samanhudi menyebut kemenangan yang diraihnya merupakan bentuk dukungan nyata dari insan olahraga Kota Blitar.
“Suara rakyat adalah suara Tuhan. Itu yang terpenting bagi saya sekarang,” pungkas Ketua KONI Kota Blitar terpilih. (jar/ova)










Balas
Lihat komentar