Kota Malang, blok-A.com – Sutiani (59) tangisnya belum kering pasca 21 hari Tragedi Kelam Kanjuruhan Selasa (22/10/2022).
Warga asal Desa Sindurejo Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang itu masih meneteskan air matanya di hadapan Menteri Sosial, Tri Rismaharani. Dia kehilangan menantunya, Hermawan Effendi (22).
Betapa tidak, Hermawan meninggalkan putrinya yang sedang hamil dua bulan, Rohmatul Ula Fitria (21). Sutiani pun susah menyembunyikan kesedihan dihadapan Risma karena putrinya Fitri hendak wisuda.
Fitria setelah ini akan lulus dari Unisma (Universitas Islam Malang) sebagai sarjana pendidikan pada tanggal 29 Oktober 2022 nanti.
“Anak saya ini sudah hamil dua bulan dan ini mau wisuda tapi kehilangan suaminya,” kata Sutiani di Kantor Kecamatan Kedungkandang, Sabtu (22/10/2022).
Sutiani menjelaskan, putrinya cukup terpukul karena Hermawan sebenarnya masih hidup pasca Tragedi Kelam Kanjuruhan.
Hermawan sempat pulang ke Kecamatan Lawang Kabupaten Malang. Kata Sutiani, tidak ada luka lebam atau luka bekas terinjak.
Hermawan waktu tragedi terjadi selamat dari kekacauan. Hermawan waktu itu menolong teman-temannya.
“Dia gak papa bahkan dia nolong dua temannya itu. Ditolongnya itu pakai syal Arema dikasih air ditaruh dimukanya, Jadi gak ada apa-apa itu,” kata dia.
Waktu pulang ke Lawang, Sutiani bercerita, Hermawan pun langsung mengeluh panas dan sesak nafas. Hermawan dibawa ke Puskesmas untuk perawatan.
Lima hari berselang kondisinya tidak membaik. Hari ke-empat pasca Tragedi Kelam Kanjuruhan atau Rabu (5/10/2022) Hermawan langsung tidak bisa diajak bicara.
“Dia kondisi kritis itu gak bisa omong. Akhirnya Kamis (6/10/2022) dia meninggal dunia,” ujarnya.
Saat ditanya apa sebab Hermawan meninggal, Sutiani menyebut, karena dampak gas air mata. Gas air mata itu sempat dihirup Hermawan saat Tragedi Kelam Kanjuruhan.
“Gak keinjek atau gak kenak apa kok. Ya kenanya gas itu disemprot. Kenak semprotan gas air mata perih katanya. Pas meninggal dadanya itu gosong di daerah sini (sekitar dada dan di atas perut) gosong. Ya kan paru-paru, (dan) kata dokter ya kena gas air (mata) itu. Dampaknya,” katanya.
Atas kondisi yang memprihatinkan itu, Sutiani mendapat uang santunan Rp 15 juta dari Mensos Risma. Uang itu kata Sutiani akan digunakan untuk proses kehamilan istri Hermawan.
“Ya buat slametannya menantu saya dan persiapan kelahiran anaknya itu,” ujarnya.
Risma Beri Bantuan ke Sejumlah Korban Tragedi Kanjuruhan
Menteri Sosial Trirismaharani memberikan santunan ke sejumlah korban Tragedi Kanjuruhan. Ada 18 korban yang diberikan santunan di Kecamatan Kedungkandang.
Untuk korban meninggal bantuan yang diberikan adalah santunan uang Rp15 juta. Sementara Rp5 juta untuk korban luka berat dan Rp2,5 juta untuk korban luka ringan.
Selain itu, setiap korban juga mendapat paket sembako.
Risma mengaku bantuan ini tidak bisa mengembalikan apa yang telah hilang dari keluarga korban. Bantuan ini hanya bentuk duka Risma atas tragedi ini untuk keluarga korban.
“Kami datang bukan untuk mengganti, tapi kami ikut berbelasungkawa dengan menyampaikan bantuan sesuai tugas pokok fungsi kami. Kami tidak mungkin bisa menggantikan putra putri atau saudara keluarga korban,” kata Risma.
Risma berharap, korban yang masih menjalani perawatan dapat segera kembali pulih. Kementerian Sosial (Kemensos) akan terus berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan setempat untuk mendata korban yang belum tersentuh bantuan.
“Kami berharap kejadian ini tak terulang lagi baik di Indonesia maupun di dunia. Sehingga tak ada lagi kesedihan, yang turut bersedih bukan hanya warga Malang, tapi seluruh dunia juga ikut bersedih atas kejadian itu,” jelasnya. (bob)










Balas