Kota Malang, blok-A.com – Rata-rata keluhan korban Kanjuruhan yang selamat masih alami mata memerah dan sesak napas, hal tersebut diungkapkan langsung oleh dr. Syifa Mustika.
Dr. Syifa Mustika merupakan salah satu dokter yang menangani korban selamat dari peristiwa tragedi Kanjuruhan. Ia mengatakan sebanyak 13 pasien yang ditangani di Posko Crisis Center Tragedi Stadion Kanjuruhan di Kantor PCNU kota Malang.
Beberapa korban yang sedang menjalani rawat jalan mengeluhkan dada yang sesak, pegal-pegal yang diduga disebabkan karena desakan, sehingga terjatuh dan terinjak-injak. Tidak hanya itu, ia juga mengatakan beberapa korban mengalami trauma mata.
“Matanya sampai merah banget itu, beberapa kita rujuk ke rumah sakit karena memang butuh penanganan lebih lanjut karena merah banget mungkin karena iritasi dikucek-kucek,” ungkap dr Syifa.
Selain di Posko PCNU, dr. Syifa juga menangani pasien di salah satu rumah sakit di kota Malang. Ia menyebutkan beberapa keluhan yang dirasakan oleh korban lainnya, salah satunya sesak napas hingga muntah.
“Di rumah sakit juga, keluhannya sesak napas, ada yang mual muntah,” tambahnya.
Menurutnya, gas air mata memiliki kandungan berbagai bahan kimia sehingga bisa menimbulkan efek reaksi terhadap tubuh yang terpapar.
Partikel-partikel bahan kimia yang ada di dalam gas air mata tersebut bila terhirup akan masuk ke paru paru, sehingga dapat menimbulkan reaksi seperti sesak napas. Kemudian jika terkena kulit maka akan ada efek panas seperti terasa terbakar. Sedangkan jika terpapar pada area mata, kemudian dikucek-kucek dapat mengakibatkan terjadinya trauma mata atau radang kornea.
Ia mengatakan cara mengatasi tubuh bila terkena gas air mata cukup dengan membilas menggunakan air bersih.
Dampak dari reaksi tubuh yang terasa sakit karena terpapar gas air mata, seharusnya tidak berkepanjangan atau hanya beberapa jam saja. Namun hal tersebut, dikatakannya juga tergantung dari kandungan kimia yang ada di dalam gas air mata tersebut.
“Partikel untuk pencampurannya, ibarat teh ada yang kental dan encer. Campuran itu mempengaruhi potensi dari dampak gas air mata tersebut, otomatis konsentrasi lebih pekat dampaknya akan lebih berat, seperti mata merah, iritasi, sesak nafas dan lainnya,” imbuhnya.
Terpisah, Raffi Atha Dziaulhamdi (14), salah satu korban Kanjuruhan yang selamat masih merasakan rasa yang tidak nyaman di matanya. Terlihat matanya masih memerah, lebih parahnya sampai bagian putih matanya pun hampir tak terlihat.
Ia mengaku menjadi salah satu korban dari tembakan gas air mata oleh aparat kemananan dalam tragedi Kanjuruhan tersebut. Ia juga mengaku sempat tak sadarkan diri pada saat kejadian tersebut.
“Mata saya memerah pas saya sudah sadar dari pingsan di Rumah Sakit Teja Husada,” paparnya.
Walau kondisi matanya memerah pekat, namun menurut pengakuannya ia sudah tidak merasakan sakit dan penglihatannya pun mulai kembali normal.
Ia pun mengaku sempat menjalani perobatan di RSSA kota Malang dan Rumah Sakit Hermina Malang. Hingga kini hasil pemeriksaan menduga mata merahnya dikarenakan iritasi karena tembakan gas air mata.
(mg2/ptu)










Balas
Lihat komentar