Bahaya Gas Air Mata, Bagaimana Cara Penanganannya?

Ilustrasi: gas air mata (ist)
Ilustrasi: gas air mata (ist)

Blok-A.com – Tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan usai laga Arema FC vs Persebaya dengan skor akhir 2-3 menewaskan sedikitnya 131 korban jiwa.

Hal tersebut diduga akibat adanya tindakan yang dilakukan oleh petugas keamanan yakni dengan menembakkan gas air mata pada suporter Arema FC, Aremania.

Sedangkan ambang batas iritasi yang paling besar untuk CN (1.0 mg m3), iikuti oleh CS (0,004 mg m3) dan OC (0,002 mg m3). Mata dan sistem pernapasan adalah target utama paparan gas air mata, dengan timbulnya iritasi mata dan saluran pernapasan yang terjadi kurang lebih dalam 20 hingga 60 detik.

Gejala mata termasuk nyeri, blepharospasm (kondisi di mana kelopak mata berkedip), fotofobia, konjungtivitas (mata merah akibat peradangan) dan injeksi scleral, edma periorbital (mata berkantung), eritema kelopak mata dan lakrimasi (menghasilkan air mata)

Sedangkan, beberapa ahli berpendapat bahwa kandungan dalam gas air mata yang mungkin kerkontribusi pada lecet kornea. Pada pernapasan, setelah terhirup maka efeknya bisa berupa perih atau sensasi terbakar di hidung, sesak dan nyeri di dada, perih tenggorokan, sesak nafas, batuk, bersin dan kesulitan bernapas.

Sedangkan air liur yang terkontaminasi dan tertelan dapat menyebabkan ketidaknyamanan epigastrium (rasa sakit di ulu hati), mual, muntah, dan diare.

Bahkan bila terpapar pada orang yang memiliki riwayat penyakit asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), gas air mata dapat menyebabkan kematian.

Lalu bagaimana cara mengatasi atau pertolongan pertama bagi orang yang terpapar gas air mata ?

Pertolongan Pertama Usai Terkena Gas Air Mata

Penanganan pertama untuk paparan gas air mata pada mata awalnya harus dihilangkan dulu kontaminasinya, dengan cara membilas mata dengan air selama 10 hingga 20 menit.

Lalu pertolongan untuk paparan saluran penapasan, yakni dengan sesegera mungkin menjauhi pusat kerumunan penembakan gas air mata. Konsentrasi tinggi atau periode paparan yang sangat lama dapat menyebabkan gejala pada pernapasan yang cukup signifikan. Pemantauan dan dukungan fungsi pernapasan penting bagi pasien bergejala. Kegagalan pernapasan mungkin jarang terjadi, namun dapat terjadi akibat spasme laring yang menghambat jalan napas sehingga ventilasi bantuan mungkin diperlukan.

Selanjutnya pertolongan untuk paparan kulit. Harus diketahui kulit juga bisa menjadi target paparan gas air mata. Paparan pada kulit juga harus didekontaminasi secara menyeluruh dengan air mengalir dan sabun untuk menghilangkan kontaminasi sekaligus menenangkan sensasi terbakar. Wajah juga harus dibersihkan dengan cara disabun.

Terakhir, pertolongan untuk paparan saluran pencernaan. Gejala gastrointestinal (gangguan saluran pencernaan) ini tidak umum, namun bisa saja terjadi muntah, mual, dan muntah karena efek iritan. Beberapa orang yang sangat sensitif dengan efeknya akan mungkin lebih mudah muntah.

Apabila air liur yang telah terkontaminasi kandungan gas air mata sampai tertelan, juga dapat menyebabkan muntah dan diare. Biasanya gejala gastrointestinal keseluruhan sembuh secara spontan, dan pengobatan spesifik lebih lanjut tidak dibutuhkan. Namun, jika muntah atau diare terus berlanjut atau parah, ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan cairan elektrolit, asidosis (penumpukan asam dalam darah), syok, kejang, obtundasi (penurunan kesadaran) dan hipokal- aemia (kadar kalium yang rendah dalam darah). Dalam situasi ini, pasien mungkin memerlukan perawatan lebih lanjut.

(mg2/ptu)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com