Gangguan Psikologis Korban Kanjuruhan: Susah Makan, Tidur Hingga Teriak-Teriak dan Menangis Sendiri

Tragedi Kelam Kanjuruhan Foto UMM Korban Psikologis
Sepatu berjejer tragedi kelam kanjuruhan di gate 12 (blok-A/Bob Bimantara Leander)

Kota Malang, blok-A.com – Ketua HIMPSI Cabang Malang, Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., PhD sebut mayoritas korban trauma tragedi Kanjuruhan mengalami PTSD. Apa itu PTSD?

PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) atau gangguan stres pascatrauma. Itu adalah kondisi kesehatan jiwa yang dipicu oleh peristiwa traumatis.

Salah satu faktor pemicu PTSD ialah pengalaman yang menakutkan dan disaksikan serta dialami langsung.

Hal itu dibenarkan oleh Ketua HIMPSI Cabang Malang, Salis.

“PTSD, stres akibat kejadian traumatis melihat langsung kejadian itu, sehingga kenangan-kenangan itu sangat menghantui mereka,” ungkap Salis pada Minggu (09/10/2022).

Salis menuturkan bahwa PTSD memiliki efek yang bermacam-macam. Mulai dari gangguan tidur, hingga susah makan.

“Efek yang ditimbulkan meliputi kesulitan tidur, makan, bahkan ada yang sempat mengalami histeria atau teriak-teriak dan nangis dengan sendirinya,” tutur Salis.

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyediakan Posko Trauma Healing, untuk para korban yang mengalami trauma akibat tragedi kelam Kanjuruhan. Salis bersama relawan mahasiswa, psikolog UMM, melakukan treatment kepada korban yang mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Disorder).

“Jadi di posko ini kita sediakan relawan mahasiswa, Psikolog UMM ,lewat hotline ataupun datang ke sini, juga bisa datang ke rumah,” ucapnya.

Solusi yang ditawarkan oleh Tim Posko Trauma Healing UMM adalah dengan mendengarkan cerita dari korban, kemudian memberikan perawatan lanjutan untuk dilakukan di rumah.

“Solusinya, kita dengarkan dulu cerita mereka, agar lebih lega. Relaksasi secara psikis, bisa meredakan ketegangan mereka,” tuturnya.

Setelah mendengarkan, Salis mengajak korban untuk berdoa kepada orang-orang yang sudah meninggal. Tujuannya adalah agar korban bisa menerima dengan lapang dada kejadian itu. Terapi lainnya meliputi perubahan mindset, untuk masa depan yang lebih baik. Salis juga menjelaskan berapa lama psikis korban bisa sembuh kedepannya.

“Paling tidak 10 hari, mengikuti saran dari tim. Jadi tahapan standar dari kita seperti itu,” tutup Salis.
(rco/bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com

Redaktur pelaksana sekaligus Jurnalis blok-a.com yang memfokuskan liputan pada isu sosial, politik, dan peristiwa terkini di Malang Raya.