Kota Malang, blok-A.com – Setelah mendapat penanganan di Posko Trauma Healing UMM, salah satu relawan rescue 020 tragedi Kanjuruhan, akhirnya sedikit merasa lega.
Dewa namanya. Ia merupakan anggota relawan 020, sekaligus tim medis di Yayasan Peduli Kasih KNDJH. Saat ditemui blok-A.com di Posko Trauma Healing UMM, ia pun bersedia menceritakan kisah kelam yang pernah dialaminya, Minggu (09/10/2022).
Sejak menit-menit setelah berakhir pertandingan antara Arema FC Vs Persebaya, Dewa melihat ada suporter yang turun ke lapangan saat itu. Keadaan pun tiba-tiba kacau.
Ia melihat tim medis lainnya, dipukul dan dikeroyok oleh oknum berpakaian aparat keamanan dan suporter. Dia pun termasuk korban pemukulan itu.
Di saat kerusuhan terjadi, ia berusaha mencari pintu keluar, namun nyatanya pintu semua sudah ditutup. Akhirnya, Dewa pun kembali menuju lapangan dan melihat aparat sedang menembakkan gas air mata ke tribun.
“Saya ke lapangan lagi untuk membantu suporter Aremania. Akhirnya, terjadi tembakan gas air ata ke tribun ekonomi dan VVIP,” ujar Dewa.
“Banyak yang ditendang oleh aparat dan suporter. Saya juga termasuk (yang dipukul). Mereka yang mukul tahu kalau saya adalah tim medis. Saya pakai APD lengkap dengan tas medis,” tambahnya.
Akhirnya Dewa pun langsung ke luar stadion lewat gerbang besar di sisi selatan tribune VIP.
Penyesalan Dewa Tidak Bisa Menolong Anak Kecil
Menurut pengakuannya, ia masih terbayang rasa bersalah saat hendak menyelamatkan anak kecil di luar area Stadion Kanjuruhan. Anak kecil itu meninggal, tepat di depan mata kepala Dewa sendiri.
Situasi di luar stadion tak berbeda banyak dengan di dalam stadion. Banyak suporter yang tergeletak dan juga teriakan minta tolong adalah gambaran kekacauan itu.
“Saat menggendong anak kecil itu, tangan saya bergetar,” ucapnya.
Saat melakukan penyelamatan itu, Dewa mengaku, dipukul oleh oknum berseragam aparat sebanyak lima kali. Dia mengaku dipukul di bagian belakang kepalanya.
“Dipukul lima kali oleh aparat dibagian belakang kepala, saat hendak menolong anak kecil itu. Saya sempat kejang di lokasi setelah dipukul oleh aparat,” tuturnya.
“Lokasinya di Patung Singa, di luar stadion,” tambahnya.
Setelah kerusuhan terjadi, Dewa kondisinya kritis. Dewa kemudian dirawat di RSUD Kanjuruhan dari jam 23.00 WIB – 02.00 WIB. Kemudian, sekitar jam 10.00 paginya, ia dijemput pimpinan medis untuk pulang. Namun, sorenya dikabarkan ia mengalami keluhan dan dirawat di RS Unisma selama seminggu.
“Alhamdulillah tidak ada retakan, cuman masih sakit dibagian belakang kepala dan rasa bersalah tidak bisa menyelamatkan anak kecil itu,” ucapnya.
Kejadian kelam itu menimbulkan efek berarti bagi Dewa. Ia pun mengalami susah tidur setiap harinya.
“Susah tidur, biasa jam 22.00 WIB tidur, sekarang bisa jam 02.00 WIB tidurnya, bangunnya lebih cepat karena masih terbayang,” ungkapnya.
Dewa Mendapatkan Perawatan Trauma Healing UMM
Tepat di hari ini, Minggu (09/10/2022) Dewa ditemani oleh temannya mengunjungi Posko Trauma Healing yang ada di Universitas Muhammadiyah Malang. Dari pengakuannya, ia hanya bercerita kejadian sebelumnya, sekaligus mendapatkan saran untuk perawatan dirumah. Dewa merasa sedikit lega setelah bercerita di Posko Trauma Healing UMM.
“Alhamdulillah, sudah agak mendingan dan tenang. Jadi dirumah pemulihan lagi,” ucapnya
“Sarannya tadi lebih banyak berdoa, perbanyak wudhu dan salat, itu anjurannya,” ucap Dewa
Terpisah, Ketua HIMPSI Cabang Malang, Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., PhD menjelaskan bahwa posko yang disediakan UMM ini, membantu korban untuk bercerita ataupun mengalami gangguan trauma atas kejadian Kanjuruhan.
“Jadi di posko ini kita sediakan relawan mahasiswa, Psikolog UMM ,lewat hotline ataupun datang kesini, juga bisa datang kerumah,” ucapnya.
Lanjut Salis, kebanyakan yang datang merupakan suporter, tim medis yang melihat langsung kejadian saat itu. Mayoritas korban mengalami PTSD atas tragedi kelam Kanjuruhan.
“PTSD, stres akibat kejadian traumatis melihat langsung kejadian itu, sehingga kenangan-kenangan itu sangat menghantui mereka,” ungkap Salis.
Terlebih, efek yang ditimbulkan meliputi kesulitan tidur, makan , bahkan ada yang sempat mengalami histeria atau teriak-teriak dan nangis dengan sendirinya. Salis memberikan treatment atau terapi untuk korban tersebut.
“Solusinya, kita dengarkan dulu cerita mereka, agar lebih lega. Relaksasi secara psikis, bisa meredakan ketegangan mereka,” tuturnya.
Setelah mendengarkan, Salis mengajak korban untuk berdoa kepada orang-orang yang sudah meninggal, guna bisa menerima dengan lapang dada kejadian itu. Terapi lainnya meliputi perubahan mindset, untuk masa depan yang lebih baik. Salis menjelaskan berapa lama psikis korban bisa sembuh kedepannya.
“Paling tidak 10 hari, mengikuti saran dari tim. Jadi tahapan standar dari kita seperti itu,” tutup Salis.
(rco/bob).










Balas