Maksa Mandi di Sungai, Santri ini Hanyut di Sungai Brantas Sukoharjo Kepanjen

Caption : Kondisi terkini pencarian santri Ponpes Dampit hanyut di sungai Sukoharjo, Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang, Rabu (8/03/2023) (Blok-a.com / Putu Ayu Pratama S)
Caption : Kondisi terkini pencarian santri Ponpes Dampit hanyut di sungai Sukoharjo, Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang, Rabu (8/03/2023) (Blok-a.com / Putu Ayu Pratama S)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Santri asal Kepanjen, Kabupaten Malang terseret arus air sungai brantas saat mandi, hingga kini belum ditemukan.

Beredar di media sosial, kabar santri pondok pesantren (Ponpes) Dampit atas nama Agung Pribadi Romadhon (15) terseret arus saat mandi di sungai Brantas tepatnya di belakang Ponpes Ketapang, Sukoharjo, Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang.

Hal tersebut dibenarkan oleh Kapolsek Kepanjen, Kompol Sri Widyaningsih. Korban yang merupakan warga Kepanjen tersebut hingga kini masih dalam pencarian tim SAR gabungan.

“Belum ada perkembangan, gabungan bersama basarnas, tagana, SAR Kanjuruhan lengkap disini belum ada perkembangan,” terang Kompol Widya sapaan karabnya saat dikonfirmasi Blok-a.com, Rabu (8/03/2023).

Terkait kronologi, kata Widya, korban yang tengah mengikuti acara pondok di Ponpes PPAI Ketapang sedang mandi di sungai bersama 5 orang temannya.

Bahkan, Widya menambahkan, sedari awal korban dan 5 temannya telah dilarang oleh petugas setempat. Banner larangan larangan mandi di sungai juga sudah tertera di lokasi tersebut, namun korban tetap memaksakan kehendak untuk mandi dan berenang.

“Jadi dia mandi disitu terus berenang, di tengah tengah perjalanan dia gak kuat karena terseret arus deras. Teman-temanya yang lain sudah naik, dia belum naik juga,” beber Widya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh salah satu relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana), Mustofa mengatakan bahwa larangan mandi disungai sudah disampaikan kepada korban beraama 5 temannya.

“Aslinya gak boleh (mandi di sungai), sudah di larang tapi maksa mandi disini. Sebelum magrib setengah lima sore,” terang Mustofa saat ditemui awakmedia di sungai Brantas, Desa Sukoharjo, Rabu (8/03/2023).

Lebih lanjut, Mustofa menyebut sebelumnya di sungai tersebut memang tidak diperbolehkan untuk mandi karena sangat membahayakan.

“Gak, gak ada warga yang mandi disinu. Kalau dulu iya, temen temen pondok,” tegasnya.

Hingga kini proses pencarian korban masih berlanjut, SAR gabungan mulai menyisir Jembatan Panarukan sampai dengen Jembatan Kedungpedaringan, DAM Jepang Kendalsari sampai dengan Bumiayu, hingga titik terakgir di Bendungan Sengguruh.

Pencarian santri yang terseret arus sungai Brantas di Kepanjen itu dilakukan oleh kurang lebih sebanyak 50 personel, dari berbagai tim SAR Malang Raya bersama dengan Basarnas.

“Yang turun sekitar 50, dari tagana, SAR Malang Kota, Basarnas, Awangga, SAR Kanjuruhan dan masih banyak lainnya,”

Sementara ini, dikatakan Mustofa belum juga ditemukan tanda tanda keberadaan korban.

(ptu/bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com