KOTA MALANG – Pasca akses kawasan Kayutangan dibuka kembali pada Senin (21/12) lalu, komentar warganet terus mengalir. Sebagian warganet menyebut ternyata kawasan Kayutangan tak seindah yang mereka bayangkan. Sebagian yang lain memberi dukungannya pada Pemerintah Kota (Pemkot) Malang.
Sebelumnya, pada Senin (21/12), Wali Kota Malang Sutiaji mengunggah video di Instagram pribadinya @sam.sutiaji untuk merespon komentar warganet. Video sepanjang 2 menit 37 detik tersebut sekaligus mengklarifikasi bahwa Kayutangan memang belum resmi dibuka.
Abimantha P. Ratri, @alfonsusabim di Twitter, menyampaikan kelegaannya terkait proyek pembangunan Kayutangan. Dalam cuitannya, ia menulis “Rodok lego tibak e Kayutangan gak berakhir “mek ngono tok” (Agak lega karena ternyata Kayutangan tidak berakhir “gini doang”, -red). Semoga saja hasil akhir tidak mblendes (mengecewakan,-red) seperti logo Beautiful Malang.” Ia juga mengunggah video unggahan Sutiaji di Instagram pribadinya.
Komentar senada diberikan pengguna akun Facebook Agil. Ia mengunggah pendapatnya di grup Komunitas Peduli Malang (ASLI Malang) pada 21 Desember lalu mengenai Kayutangan dilengkapi dengan tangkapan layar video penjelasan Sutiaji. Seturut video tersebut, Agil menyatakan masih banyak pembangunan belum selesai dan meminta masyarakat untuk bersabar.
Masih di grup Komunitas Peduli Malang (ASLI Malang), pengguna akun Fariz Chamim Udien mengungkapkan, pemerintah daerah perlu membuat website untuk mengunggah rencana kerja dan anggaran, desain dan pelaksanaan. Sehingga meminimalisir salah paham dan untuk transparansi. “Sudah waktunya bicara dengan data yang mudah dimengerti publik,” ujarnya.
Di sisi lain, Sutiaji melalui unggahannya di akun Instagram pribadinya menyatakan, yang dibuka itu hanya akses jalan masuk saja. “Jadi yang dibenahi itu adalah kanan kiri,” jelas Sutiaji melalui video.
Selain itu, Sutiaji mengatakan bahwa yang dibuka adalah jalan yang telah diberi batu andesit. Pemasangan batu andesit, tutur Sutiaji, agar masyarakat yang melintas bisa menikmati Kayutangan. Proyek pembangunan kawasan Kayutangan ini akan diresmikan Agustus 2021 sebagai ibukota heritage Malang.
Terkait hal ini, pengamat komunikasi Universitas Brawijaya (UB) Abdul Wahid, menilai hal semacam ini lumrah belaka. Pasalnya, di media sosial semua orang berhak memberi komentar. Media sosial, menurutnya, adalah ruang baru bagi komunikasi politik pejabat publik.
“Siapapun bisa berkomentar apapun. Apalagi, penggunaan media sosial sebagai alat komunikasi merupakan pembukaan ruang baru bagi diskusi publik,” kata Wahid pada Blok-A.










Balas