Blitar, Blok-a.com – Upaya menekan angka kesakitan, kematian, serta berbagai dampak buruk akibat penyakit diabetes melitus terus digalakkan, seiring dengan makin meningkatnya jumlah penderita baik di tingkat nasional maupun daerah.
RSUD Ngudi Waluyo Wlingi mengambil langkah nyata dengan melahirkan inovasi pelayanan kesehatan bernama Jejak Dyah Gayatri. Ini merupakan singkatan dari “Jejaring Komunitas Diabetes Melitus dengan Edukasi Keluarga dan Pelayanan Terintegrasi”.
Direktur RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, dr. Endah Woro Utami, MMRS mengatakan, terobosan ini dirancang sebagai jawaban atas berbagai tantangan penanganan penyakit tersebut. Sekaligus bentuk upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas layanan yang diberikan kepada masyarakat.
“Kami terus menggali berbagai gagasan dan terobosan baru agar penanganan penyakit diabetes tidak hanya berpusat pada pengobatan saat pasien sakit, melainkan juga menyentuh aspek pencegahan, pembinaan, serta pendampingan yang berlangsung terus-menerus. Jejak Dyah Gayatri merupakan bentuk perwujudan kesungguhan kami untuk memberikan pelayanan terbaik dan menyeluruh,” kata Endah Woro, Rabu (13/5/2026).
Data dan Angka Diabetes Melitus
Inovasi yang tidak mengandalkan sistem berbasis teknologi canggih ini mulai diuji coba dan diterapkan secara bertahap sejak tahun 2023. Langkah tersebut diambil menanggapi data kesehatan yang menunjukkan jumlah penderita diabetes di Indonesia. Di mana, angkanya mencapai 19,5 juta orang pada tahun 2021, dan diproyeksikan akan melonjak menjadi 28,6 juta orang pada tahun 2045 mendatang.
Menurut Endah, kondisi tersebut menjadi perhatian serius. Terlebih karena penyakit ini kerap disebut sebagai “ibu dari segala penyakit” dan menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi. Diabetes memiliki potensi besar memicu berbagai gangguan kesehatan lain yang berat. Mulai dari kerusakan pembuluh darah, gangguan fungsi saraf, hingga munculnya luka kronis yang sulit sembuh, terutama pada bagian kaki.
“Diketahui bahwa sekitar 60 persen penderita diabetes mengalami masalah kesehatan pada kaki. Dan jika tidak ditangani dengan tepat serta dini, kondisi tersebut dapat memburuk hingga membutuhkan tindakan pengamputan. Hal ini tentu sangat memengaruhi kualitas hidup dan keselamatan pasien, sehingga penanganan yang cermat dan menyeluruh sangat diperlukan,” jelas Endah Woro.
Kondisi serupa juga tercatat jelas di lingkungan RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, khususnya di ruang perawatan penyakit dalam. Catatan selama kurun waktu Juli 2022 hingga Juni 2023 menunjukkan adanya kenaikan jumlah pasien diabetes yang dirawat akibat menderita komplikasi, terutama luka yang sulit sembuh.
Tak hanya itu, tingkat kepuasan pasien juga mengalami penurunan, yakni dari 89,1 persen pada tahun 2022 turun menjadi 86,30 persen pada tahun berikutnya. Angka tersebut masih berada di bawah sasaran minimal yang ditetapkan rumah sakit sebesar 90 persen.
“Kenyataan yang kami temui di lapangan menjadi landasan kuat dan alasan utama bagi kami untuk segera melakukan pembaruan serta penyempurnaan sistem pelayanan. Kami menyadari pendekatan yang hanya menitikberatkan pada aspek pengobatan medis saja belum cukup memberikan hasil yang maksimal dan tahan lama,” tandasnya.
Inovasi Jejak Dyah Gayatri
Berdasarkan permasalahan tersebut, Jejak Dyah Gayatri kemudian dibangun sebagai model pelayanan kesehatan yang berlandaskan pada keterlibatan aktif masyarakat serta peran sentral anggota keluarga.
“Inovasi ini menyatukan penanganan medis yang terstandar dengan pendekatan yang bersifat mendidik dan membimbing. Salah satunya melalui pembentukan kelompok komunikasi yang menghimpun para penderita diabetes beserta keluarganya dalam satu wadah percakapan di aplikasi pesan,” imbuhnya.
Melalui sarana tersebut, pasien dan keluarga secara berkala memperoleh penyuluhan, penjelasan, serta panduan yang mendalam dan berkesinambungan mengenai cara mengelola penyakit secara mandiri dan benar.
“Materi yang disampaikan mencakup berbagai hal penting, mulai dari pengaturan pola makan yang sehat dan sesuai kebutuhan, teknik pemberian obat maupun suntikan insulin yang tepat dan aman, ragam gerakan serta latihan fisik yang dianjurkan, hingga tata cara merawat tubuh dan bagian kaki agar terhindar dari risiko cedera maupun infeksi,” ujarnya.
Salah satu bentuk pelayanan unggulan yang ditawarkan adalah terapi perawatan kaki khusus bagi penderita diabetes. Meliputi latihan gerakan kaki, pembersihan menyeluruh, penggunaan bahan perawatan kulit, perawatan kuku, hingga pemijatan lembut guna melancarkan aliran darah. Tenaga kesehatan juga melibatkan keluarga pasien dan memberikan pelatihan khusus, agar cara perawatan tersebut dapat dipahami, dikuasai, serta dilakukan secara mandiri dan rutin di rumah.
“Keterlibatan keluarga menjadi kunci utama dan faktor penentu keberhasilan dalam upaya pengendalian penyakit diabetes. Dengan pemberian edukasi yang tepat, jelas, dan mudah dipahami, pasien akan tumbuh kesadaran serta kemauan yang kuat untuk lebih patuh menjalani segala langkah perawatan yang disarankan, sehingga risiko timbulnya komplikasi dapat ditekan serendah mungkin,” tegas Endah.
Dalam pelaksanaannya, program ini menetapkan sejumlah sasaran yang terukur. Antara lain meningkatkan tingkat kepatuhan pasien melakukan pemeriksaan kesehatan berkala hingga melampaui angka 80 persen, menaikkan tingkat kepuasan layanan kesehatan agar mencapai angka minimal 90 persen, serta menjaga tingkat pemanfaatan ruang rawat inap berada pada kisaran yang dianggap ideal, yaitu antara 60 persen hingga 85 persen.
“Kami tidak hanya mengejar perbaikan dalam jangka pendek, melainkan ingin membangun sistem pelayanan yang berjalan terus-menerus, bermanfaat luas, serta memiliki pola yang dapat dijadikan rujukan bagi tempat pelayanan kesehatan lainnya di masa mendatang,” ungkapnya.
Hingga saat ini, hasil penerapan inovasi tersebut mulai menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Sistem penanganan yang dijalankan menjadi lebih terpadu dan menyeluruh. Risiko timbulnya gangguan kesehatan tambahan pada pasien dapat dikurangi secara nyata. Kesadaran dan kesediaan pasien mengikuti aturan pengobatan semakin meningkat. Serta, mutu pelayanan yang diberikan pun mengalami perbaikan yang berarti dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Melalui pendekatan kerja sama yang erat antara tenaga medis, penderita, dan anggota keluarga, kami sangat berharap Jejak Dyah Gayatri kelak dapat menjadi contoh model pelayanan kesehatan yang andal, mampu menjawab berbagai tantangan penanganan penyakit yang tidak menular, serta turut mendukung arah kebijakan pembangunan kesehatan di tingkat nasional demi terwujudnya masyarakat yang sehat dan sejahtera,” pungkas Direktur RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. (jar/ova)










Balas
Lihat komentar