Kisah Supriatna Raup Untung Ratusan Juta dengan Modal Ban Bekas

Supriatna sedang melakukan pengecatan replika bunga untuk dikirim di wilayah Solo Jawa Tengah (Blok-a.com / Putu Ayu Pratama S)
Supriatna sedang melakukan pengecatan replika bunga untuk dikirim di wilayah Solo Jawa Tengah (Blok-a.com / Putu Ayu Pratama S)

Kabupaten Malang, Blok-a.com – Berkat keuletannya mengolah sampah, Supriatna kini sukses jalankan bisnis replika berbahan ban bekas hingga raup untung ratusan juta rupiah.

Awalnya berniat mengurangi tumpukan sampah ban bekas di Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Pria asal Malang ini justru beruntung mendapatkan ladang bisnis baru yang lebih menjanjikan dari pekerjaan sebelumnya.

Pada tahun 2016 silam, Supriatna memulai ide kreatifnya dengan mengolah ban bekas menjadi kerajinan bernilai jual.

Bahkan tak terpikirkan sebelumnya kalau ia bakal meraup untung yang lebih menggiurkan dengan mengolah ban bekas.

“Kebetulan dulu saya aktivitasnya di tempat pengolahan sampah TPS 3R di Sumedang, Kepanjen. Waktu itu saya ambil organiknya, terus saya proses jadi kompos,” terang Supriatna saat ditemui di kediamannya, Sabtu (1/07/2023).

Awal Mula Mengolah Ban Bekas

Melihat tumpukan ban bekas tak terpakai, ia kemudian memutar otak untuk memanfaatkannya agar bernilai jual. Terlebih, menurutnya sampah tersebut dirasa sulit untuk terurai.

“Jadi waktu itu gimana bisa mengurangi ban sebanyak ini. Saya berpikir cobalah dibuat karya. Minimal bisa mengurangi sampah ban,” terangnya.

Karena kegemarannya membuat kerajinan, bermodalkan pisau tajam di TPS Sumedang, Nana, sapaan akrabnya mulai kepikiran membuat replika burung dari ban bekas tersebut.

“Saya belajarnya otodidak. Coba menggunakan alat seadanya. Saya menggukan pisau, saya coba bikin burung tapi ternyata tidak mudah,” katanya.

Tentunya hal itu tidak serta merta berjalan dengan mulus, Nana dihadapkan dengan berbagai kesulitan. Ia membutuhkan waktu cukup panjang untuk mendapat hasil yang sempurna kala itu.

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?