Harga Beras di Malang Naik: Pedagang Jual Eceran, Pengusaha Catering Gigit Jari

Pemilik catering dan Kedai Lek Wid, Nila menuangkan beras terakhirnya untuk mengerjakan pesanan nasi kotak.(blok-a.com/Widya Amalia)
Pemilik catering dan Kedai Lek Wid, Nila menuangkan beras terakhirnya untuk mengerjakan pesanan nasi kotak.(blok-a.com/Widya Amalia)

Kota Malang, blok-a.com – Fenomena kenaikan harga beras kian santer menjadi perbincangan warga Kota Malang. Dampaknya begitu luas dan dirasakan hingga berbagai lapisan masyarakat.

Salah satunya bagi pemilik Toko Barokah Pasar Tawangmangu, Wildan. Lelaki paruh baya ini harus mengelus dada kenaikan beras yang begitu cepat.

“Sebelumnya 13 ribu naiknya langsung seribu,” ujarnya.

Lelaki yang kerap disapa Abah Wildan ini menjelaskan, kini beras mencapai harga 14 ribu per kilonya. Hal itu juga berlaku untuk beras per 5 kiloan. Beras dengan merk Lahap itu dijual seharga 70 ribuan per 5 kilonya.

“Naik, mahal sekarang, semua mahal gak ada yang murah,” keluhnya.

Wildan menjelaskan, banyak langganannya juga turut mengeluh. Untuk menyiasati, ia pun menjual beras secara eceran.

“Beras ngecer ya kiloan. Yang lima kiloan sama aja semua naik, sekarang banyak beli kiloan,” beber lelaki berkopiah itu.

Pemilik Catering Gigit Jari

Di sisi lain, pemilik Catering dan Kedai Lek Wid, Nila, juga mengeluh hebat.

Usai dihajar naiknya harga ayam, kini dia harus dihadapkan dengan harga beras naik. Wanita asli Jombang ini menyebut, dia terpaksa harus menurunkan persentase laba.

Baca Juga: Sabar, Harga Beras Kota Malang Naik Rp 8 Ribu per Kilogram

“Mau tidak mau ya kami ini, mengurangi laba. Karena bagaimana, mahasiswa semua,” bebernya.

Memang, Nila tidak bisa mematok harga terlalu tinggi. Target pasar dan langganannya mayoritas mahasiswa. Artinya, tidak bisa memukul harga yang mahal kalau ingin usaha bertahan.

Dia menyebut, keuntungan harus di kurangi di bawah 25 persen harga jual. Untuk menunya sendiri paling murah dijual dengan harga Rp. 13 ribu hingga Rp. 17 ribu.

“Kami dapat beras lahap 5 kiloan sampai 70 ribu, kalau kepepet untuk dagang di kedai ya kami pakai eceran. Kalau untuk pesanan seperti ini, ya kami harus beli 5 kiloan,” jelas ibu anak satu ini.

Bersama sang suami, Nila selalu berburu toko sembako murah. Meski berjarak lebih murah dari sembako pada umumnya, namun nyatanya membantu usaha Nila.

Bagi Nila, yang penting uang usaha berputar dan dia tidak kehilangan pelanggan. Baru-baru ini, dia juga harus memutar otak untuk mengerjakan 200 kotak pesanan catering ketika harga beras dan ayam naik.

“Ini kita ada pesanan 200 kotak, selain beras kemarin aku beli ayam juga astaga mahal sekali, ayam sekilo sampai 36 ribu,” keluhnya. (mg2/lio)