Pria Ngaku Aparat Palak Warung Madura di Mojoagung Rp500 Ribu Saat Malam Hari

Pelaku yang mengaku aparat penegak hukum dan melakukan aksi pembalakan di sejumlah toko Madura (foto blok-a.com/Syahrul Wijaya)
Pelaku yang mengaku aparat penegak hukum dan melakukan aksi pembalakan di sejumlah toko Madura (foto: Blok-a.com/Syahrul Wijaya)

Jombang, Blok-a.com – Aksi premanisme dengan modus mengaku sebagai aparat penegak hukum mulai meresahkan para pelaku usaha kecil di wilayah Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang. Sejumlah Toko Madura diduga menjadi sasaran pemalakan berkedok penindakan penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) eceran.

Pelaku memanfaatkan ketidaktahuan pedagang terkait aturan penjualan bensin eceran untuk menekan dan meminta uang damai dengan nominal besar. Modus tersebut dilakukan secara intimidatif, bahkan disertai ancaman membawa persoalan ke ranah hukum.

Salah satu korban berinisial S, penjaga Toko Madura di wilayah Mojoagung, mengaku menjadi korban pemerasan oleh dua pria tak dikenal pada Senin malam (18/5/2026) sekitar pukul 23.00 WIB.

Menurut pengakuannya, kedua pelaku datang ke toko saat kondisi sedang sepi. Salah satu pria mengenakan jaket hijau ojek online, sementara pelaku lainnya memakai hoodie dan helm yang tetap dikenakan untuk menutupi identitas.

Setibanya di lokasi, kedua pria itu langsung menuduh toko yang dijaganya melanggar hukum karena menjual bensin eceran. Dengan nada tinggi dan penuh tekanan, pelaku meminta uang sebesar Rp1 juta agar kasus tersebut tidak diproses secara hukum.

“Saya nggak kenal mereka. Anak saya sempat merekam kejadian itu secara sembunyi-sembunyi karena takut,” ujar S, Rabu (20/5/2026).

Korban mengaku situasi saat itu sangat menegangkan. Pelaku terus membentak dan mendesak agar uang segera diserahkan.

“Memintanya dengan membentak,” lanjutnya.

Dalam kondisi tertekan, S sempat mencoba menjelaskan bahwa dirinya hanya pekerja toko dan bukan pemilik usaha. Ia bahkan menawarkan untuk menghubungi pemilik toko agar persoalan bisa dibicarakan secara langsung dan terbuka.

Namun tawaran tersebut ditolak mentah-mentah oleh para pelaku.

“Saya bilang kalau memang minta uang sebanyak itu, saya telepon dulu pemilik toko. Tapi mereka tidak mau,” ungkapnya.

Negosiasi pun berlangsung alot. S yang saat itu hanya memegang uang tunai Rp200 ribu berusaha menjelaskan kondisi keuangan toko. Namun karena terus mendapat tekanan dan khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan, korban akhirnya menyerahkan uang operasional toko sebesar Rp500 ribu.

“Saya bilang cuma punya Rp200 ribu,” katanya.

“Daripada ramai terus, akhirnya saya kasih Rp500 ribu,” imbuhnya.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, aksi serupa diduga tidak hanya terjadi di satu lokasi. Beberapa jaringan Toko Madura di kawasan Mojoagung disebut juga pernah didatangi orang tak dikenal dengan pola intimidasi yang hampir sama, terutama pada malam hari.

Kondisi tersebut membuat para pelaku usaha kecil merasa resah dan tidak nyaman saat menjalankan aktivitas perdagangan.

Korban berharap aparat kepolisian segera mengambil langkah tegas untuk menindak pelaku premanisme yang mencatut nama institusi penegak hukum demi memeras pedagang kecil.

“Saya berharap polisi bisa menindaklanjuti supaya kami merasa aman dan nyaman dalam berniaga,” pungkasnya.

Terpisah, Kapolres Jombang Ardi Kurniawan merespons cepat informasi tersebut. Usai menerima laporan, pihaknya langsung menerjunkan tim untuk melakukan penelusuran di lokasi dugaan pemalakan.

Polres Jombang menegaskan komitmennya untuk memberantas praktik premanisme yang meresahkan masyarakat dan pelaku usaha kecil.

“Terima kasih infonya mas, kami tindaklanjuti,” ujar AKBP Ardi Kurniawan saat dikonfirmasi melalui pesan singkat. (sya/ova)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com