Emil Siap Kawal Keunggulan Komparatif Jatim Meski Tak Murni dari SDA

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elistianto Dardak.(dok. blok-a.com)

Surabaya, blok-a.com – Seiring perkembangan teknologi, banyak aktivitas sehari-hari yang mulai berubah dan meninggalkan kebudayaan daerah di Jawa Timur.

Untuk itu, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Timur menggelar rapat paripurna membahas Raperda tentang kemajuan kebudayaan, Senin (8/1/2024).

Pada rapat tersebut, Komisi E DPRD Jatim menyebutkan beberapa kelemahan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Jawa Timur 2019-2024 mulai dari rendahnya minat budaya, sejarah lokal, apresiasi, data informasi, ekonomi kreatif, ekosistem dalam mendukung kebudayaan, hingga penggalian nilai luhur kearifan lokal dan penguatan karakter masyarakat yang berkebudayaan.

Setelah rapat berakhir, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elistianto Dardak mengakui atas keberagaman budaya yang berada di Jawa Timur khususnya budaya tak benda yang sulit dipertahankan.

“Ini akan fokus kepada budaya tak benda, ya cukup banyak di sana ada olahraga tradisional, manuskrip,” kata Emil.

Tak hanya itu, Emil juga menyatakan dia bersama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mengawal progress pematangan Raperda di sisa masa jabatannya ini.

“Sisa masa jabatan ini tentu kita (bersama Pemprov Jatim) berkomitmen untuk mengawal progres dari persiapan Raperda ini,” ujarnya

Dia juga berharap atas pembahasan Raperda tentang Kemajuan Kebudayaan bisa membangkitkan kembali ‘Keunggulan Komparatif’ tetapi tidak menggunakan kekayaan alam.

“Tapi untuk Jawa Timur dengan penduduk 48 juta jiwa, luas wilayah 48.000 km² , tentu kita tidak bisa murni mengandalkan sumber daya alam, ” ungkap Emil.

Ia juga membandingkan penduduk Jawa Timur yang berpotensi memiliki keunggulan lebih daripada negara tetangga dan ingin meninggalkan kesan baik terhadap setiap individu yang telah berkunjung ke Jawa Timur.

“Malaysia penduduknya 30 juta, luas 3 kali lipat dari kita. Memang kita memiliki SDA mineral dan juga lahan yang subur, tapi kita harus tetap bergeser ke keunggulan yang ‘Intangible’ (keunggulan yang tak kasat mata),” kata Emil.

“Salah satunya kalau keunggulan kompetitif kan kita bangun pendidikan, kita bangun kemampuan IT, dsb. Tapi yang komparatif kita punya, yang tidak mungkin negara lain punya itu sejarah budaya. Jadi bagaimana kalau orang ingat Jawa Timur itu bisa ingat kebudayaannya, ingat sejarahnya, ingat eksotikanya, ” imbuhnya.

Emil juga mengungkapkan atas keberadaan Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) yang baru kali ini bertujuan untuk membangun kesadaran kolektif untuk menjadikan kebudayaan menjadi keunggulan komparatif yang bisa bermanfaat bagi semua masyarakat. Dimana nantinya juga akan menjadi bahan keunggulan kompetitif.

Lebih lanjut, Emil mengingatkan untuk inventarisasi sejarah untuk bisa menjamin budaya tak benda yang nantinya di memiliki tahapan yang akan tetap diajukan ke UNESCO.

Ia pun memberi contoh acara syukuran asal dari Trenggalek yang terdapat bukti kuat akan warisan budaya tak benda.

“Disana ada Londoan, Ayam Londo. Jangan dilihat makanannya, tapi dilihat kebudayaan londoan sebagai bukti warisan budaya tak benda. Ini bagian dari anak tangga untuk memperkuat agar nanti eksistensi budaya kita tidak diklaim oleh negara lain,” tutupnya.(fa/kim)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com