Blitar, blok-a.com – Di usia yang masih sangat belia, Muhammad Dewa Fortuna Mahaputra Dijagad membuktikan bahwa seseorang mampu menaklukkan dua dunia yang tampak bertolak belakang, dunia catur yang tenang dan penuh hitungan, serta dunia tinju yang penuh aksi dan keberanian.
Siswa kelas VI SDN Bendogerit 1, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar ini baru saja pulang membawa gelar Juara Pertama dari kejuaraan tinju yang digelar di Kediri, Sabtu (29/8/2026).
Prestasi ini terasa lebih istimewa mengingat nama Dewa sebelumnya lebih dikenal di papan catur. Ia tercatat sebagai bagian dari jajaran atlet Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Kota Blitar dan kerap menjadi tumpuan di ajang Kejurprov hingga Kejurnas. Namun di atas ring tinju di Kediri, ia tampil dominan dan tenang, mampu menundukkan lawan lewat pertarungan sengit selama tiga ronde.
Kehebatan ini pun kian menonjol karena Dewa bukan hanya jago di dua bidang tersebut. Ia juga menekuni bela diri silat serta aktif dalam kegiatan drumband. Sebuah bukti bakat yang luar biasa besar pada anak usia sekolah dasar.
Kepala SDN Bendogerit 1, Wahono menyambut gembira sekaligus rasa bangga yang mendalam atas keberhasilan anak didiknya. Baginya, kemenangan ini bukan sekadar piala, melainkan bukti keberhasilan pembentukan karakter anak.
“Kami dari SDN 1 Bendogerit mengucapkan selamat kepada Ananda Dewa Fortuna. Dewa ini kebetulan sekarang duduk di kelas VI. Semoga prestasi yang diraih bisa memotivasi siswa yang lain untuk terus berprestasi dan menjadi generasi yang tangguh, berkarakter, berprestasi, serta berakhlak mulia,” kata Wahono saat ditemui di lingkungan sekolah, Senin (31/8/2026).
Menurut Wahono, keberhasilan ini tak lepas dari pendekatan pendidikan yang memandang olahraga bukan sekadar kompetisi, melainkan wadah pembinaan mental dan kedisiplinan. Ia melihat energi besar pada anak-anak harus disalurkan ke saluran yang positif.
“Bagi anak-anak usia SD, kegiatan olahraga seperti ini bukan hanya soal prestasi. Ada pembentukan karakter, kedisiplinan, keberanian dan sportivitas. Anak-anak mempunyai energi dan potensi yang besar, sehingga harus disalurkan melalui kegiatan yang positif. Daripada energi mereka tersalurkan ke hal-hal yang tidak baik, lebih bagus diarahkan melalui olahraga dan kegiatan yang mereka sukai,” jelasnya.
Sekolah yang dipimpin Wahono memang dikenal sangat terbuka mendukung potensi beragam siswanya. Catur, basket, hingga drumband mendapatkan ruang pembinaan yang setara. Kehadiran Dewa menjadi bukti nyata dari kebijakan ini.
“Dewa ini termasuk anak yang multitalenta. Selain tinju, dia juga memiliki kemampuan di bidang catur. Di sekolah kami memang banyak anak-anak yang memiliki potensi di berbagai bidang, seperti catur, basket maupun drum band. Kami akan terus memberikan ruang dan pembinaan agar potensi anak-anak tersebut bisa berkembang,” tandasnya.
Dukungan pun mengalir dari lingkungan keluarga yang solid. Dewa adalah putra dari Mohammad Trijanto, seorang aktivis antikorupsi, dan Novi Nurhayati, Aparatur Sipil Negara di lingkungan Pemerintah Kabupaten Blitar. Latar belakang kakak-kakaknya yang juga berprestasi, kakak pertama lulusan Akmil dan kakak kedua bersekolah di SMA Taruna Nusantara turut menjadi inspirasi bagi Dewa.
Kemenangan di Kediri menjadi bukti bahwa ketajaman berpikir layaknya saat bermain catur justru menjadi senjata ampuh menyusun strategi di atas ring. Ia mampu menggabungkan ketenangan dan keberanian dalam satu kesatuan yang harmonis. Meski telah menjadi juara, Wahono mengingatkan agar kaki anak ini tetap berpijak di bumi dan pendidikan tetap menjadi prioritas utama.
“Kami berharap Dewa terus berkembang. Jangan berhenti hanya karena sudah menjadi juara. Terus berlatih, tetap disiplin, tetap rendah hati dan yang paling penting pendidikan tetap diutamakan. Kami juga berharap prestasi Dewa bisa menginspirasi siswa lainnya untuk menemukan dan mengembangkan bakat mereka masing-masing,” pesan Wahono.
Kini, nama Muhammad Dewa Fortuna menjadi kebanggaan warga Kota Blitar. Ia membuktikan di usia muda bahwa mimpi bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk, dari papan catur yang hening hingga ring tinju yang riuh, tanpa kehilangan jati diri. (jar)










Balas