Kota Malang, blok-a.com – Wali Kota Malang, Sutiaji habis ini bakal berakhir jabatannya per September 2023 nanti. Dari lima tahun menjabat, ada satu gebrakan Sutiaji yang cukup menarik untuk dibahas yakni Jembatan Kedungkandang.
Jembatan Kedungkandang yang diresmikan pada tahun 2021 lalu, merupakan bentuk perhatian Sutiaji terhadap perkembangan Kota Malang bagian timur dan juga bakal akses jalan tol Malang-Kepanjen.
Peresmian jembatan itu disebut gebrakan karena, proyek jembatan sepanjang 330 meter itu sempat mangkrak 6 tahun. Bahkan dua periode pimpinan Wali Kota Malang sebelumnya tak berhasil merampungkan jembatan itu.
Terakhir saat masa kepemimpinan Abah Anton, proyek jembatan itu malah menjadi biang kasus korupsi dan hasilnya 43 anggota dewan dan tiga pejabat Pemkot Malang kala itu masuk bui.
Namun, di tangan Sutiaji, proyek Jembatan Kedungkandang itu dituntaskan.
Dilansir dari berita blok-a.com pada tahun 2021 lalu, Sutiaji ingin menuntaskan pembangunan Jembatan Kedungkandang karena ada dua factor.
Pertama adalah faktor mengurangi kemacetan. Sebelum jembatan Kedungkandang itu rampung, jalan di Gadang kerap macet. Sebab truk masih lewat Gadang sering.
“Nantinya dengan dibukanya fly over kemacetan di Gadang tidak ada lagi karena truk-truk bisa lewat fly over ini,” tutur Sutiaji saat pembukaan Fly Over Kedungkandang pada tahun 2021 lalu.
Memang sejak dibangun truk-truk kini dengan lancar lewat di Jembatan Kedungkandang. Jalannya cukup mulus dan lebar. Tidak seperti dulu sebelum adanya jembatan atau Fly Over Kedungkandang ini. Dahulu, jalannya curam menurun dan sempit.
Kedua adalah faktor ekonomi, diharapkan jembatan ini mampu menarik investor karena akses jalan yang semakin mudah.
Warga diharapkan mampu bangkit juga perekonomiannya khususnya sektor UMKM dengan meningkatnya usaha-usaha di daerah Kedungkandang.
Warga Kini Bisa Tidur Tenang

Sodiq Ketua RW 06 yang mana daerahnya adalah di bawah Fly Over atau Jembatan Kedungkandang tersenyum.
Dia mengenang pada tahun sebelum adanya Jembatan Kedungkandang dirampungkan Sutiaji, di daerahnya bising.
Sebelumnya suara truk dan polusi-nya berupa asap berwarna abu-abu bahkan mewarnai hari-harinya dan warga yang tinggal di sana.
Kadang dia mendengar bahwa warganya sangat sumpek dan sering teriak-teriak ketika berbicara. Teriakan itu diperlukan karena bisingnya suara klakson dan lalu lalang kendaraan sebelum jembatan itu dibangun.
“Apalagi dulu kan di sini sering macet, jadi ya cukup bising,” kata dia.
Kini, setelah jembatan itu dibangun dan diresmikan Sutiaji pada tahun 2021, warganya bersyukur dan hidup di sekitar jembatan Kedungkandang menjadi damai.
Warganya pun yang mayoritas adalah pegawai swasta ketika pulang kerja bisa merasakan ketenangan. Tidurnya pun pulas.
“Karena sudah tidak ada kemacetan. Di rumah tidak bising lagi,” jelasnya.
Warga Kedungkandang Bahagia, Anaknya Tidak Main Gadget Lagi

Anak-anak main gadget terus adalah keresahan warga di sekitar Jembatan Kedungkandang kala sebelum jembatan itu diresmikan.
Sebabnya tidak ada pilihan lagi untuk hiburan anak-anak. Tempat bermain di sana tidak ada. Sebab perkampungan cukup padat.
Lantas, kebiasaan bermain gadget oleh anak-anak mudah ditemui kala itu.

Hal itu meresahkan para orang tua di sekitaran Jembatan Kedungkandang waktu itu.
“Waduh dulu itu sempat gadget itu jadi langganan terus mas. Umek ae sama gadget itu,” kata dia.
Namun, sekarang pemandangan itu berubah. Pasca Jembatan Kedungkandang diresmikan, ternyata juga dibangun taman di sana. Namanya Taman Adam Malik.
Di sana tamannya cukup bagus dan cocok buat anak-anak bermain. Terdapat sejumlah fasilitas seperti ayunan dan juga ada rumput hijau yang menjadikan anak-anak krasan bermain di sana.
“Sekarang ya beda. Orang tua kalau mau ajak anak berwisata ya murah. Gak perlu jauh-jauh tapi di taman itu sudah bisa. Dan itu menjauhkan anak-anak dari gadget juga,” ujarnya.
Tak Lagi Macet
Seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Brawijaya (FISIP UB) Ni Putu Adinda Sari tengah bergelut dengan skripsi. Setiap hari, dia harus bolak-balik dari rumah ke kampusnya. Rumahnya yang terletak di Puri Cempaka Putih itu membuatnya selalu melewati jembatan Kedungkandang setiap hari.
“Saya sempat menyaksikan pembangunan jembatan Kedungkandang dari proses peletakan pondasi, sampai pada proses peresmian jembatan tersebut,” bebernya.
Menurutnya, dibandingkan dengan sekarang, dampak positif lebih bisa dirasakan di awal pembangunan. Akses jalan yang masih longgar mampu memotong 10 hingga 15 menit waktu perjalanan. Padahal, dia menggunakan mobil. Lebar jalan masih cukup untuknya berlaju Bersama dengan kendaraan lain.

Dinda, nama sapaannya, menyayangkan kemacetan kembali muncul. Menurutnya akses masuk dan keluar jembatan masih terbatas. Hal itu karena dua jalur yang sempit. Sementara, kendaraan besar seperti bus arau truk semakin banyak. Dan turut memberikan kemacetan yang signifikan di dua perbatasan jembatan.
“Jarak dari rumah saya ke jembatan lumayan dekat, sekitar lima menit apabila dalam keadaan lancar, dan berubah menjadi lama ketika dalam keadaan macet atau padat, yang mana bisa 10-20 menit.,” ujar gadis berambut panjang ini. (mg2/bob)










Balas
Lihat komentar