BLOK -A – Pertemuan dan perpisahan bisa terjadi di semua lini kehidupan, termasuk dalam sebuah industri media. Kali ini, Blok-A pun menyoroti media kreatif yang dikenal khas dengan anak muda, Zetizen Malang.
Media kreatif anak muda di bawah asuhan Jawa Pos Radar Malang ini hiatus selama 2 bulan. Tidak ada unggahan apapun terhitung sejak 29 Juni. Namun, secara mengejutkan akun media dengan ribuan followers itu mengunggah posting terbaru pada Rabu sore (2/9).
Sebagai followers, postingan ini awalnya memantik rasa bahagia. Ah, akhirnya media yang santer di telinga anak muda Malang ini kembali bangkit. Namun rasa senang yang memuncah itu tiba-tiba surut dengan cepat.
Betapa tidak, dalam postingan itu Zetizen Malang bukannya menyambut followers dengan unggahan yang membuat bahagia, seperti biasanya. Justru unggahan video sore ini menyayat hati followers-nya.
Dalam unggahan video berdurasi 1 menit tersebut, Zetizen Malang menyuguhkan video overview karyanya selama 7 tahun. Dengan narasi perpisahan membuat ribuan followers itu kecewa, bahkan memilih unfollow.
“Our journey might stopped here, but our story will always last,” Begitu judul video yang mereka unggah.
Beragam unggahan feed, story, hingga video khas anak muda selama 7 tahun dirangkum dalam video berdurasi singkat itu. Warna-warna pastel pink, biru, hijau, kiranya warna yang membawa ceria. Namun menjadi warna menyedihkan saat dibubuhi narasi perpisahan.
Kenapa Zetizen Malang menghentikan produksi kontennya? Apakah media ini tak berdaya karena tidak mendapat perhatian ayahnya, Jawa Pos Group?
Berdasarkan keterangan yang dihimpun Blok-A dari sumber yang tidak ingin disebut namanya, Zetizen Malang kandas karena kekosongan kru. Kok bisa? Ya, per akhir juni kru Zetizen Malang tak lagi mengisi ruang anak muda di media tersebut.
Sumber terpercaya yang merupakan mantan kru Zetizen Malang mengaku, dia masih ingin berkarya di Zetizen Malang. Namun akhirnya tidak bisa berkutik karena keputusan manajemen. Lantas apakah Jawa Pos Radar Malang tak mampu mengakomodir kreasi mereka?
Menurut Blok-Addict, perlukah media serupa Zetizen Malang muncul, untuk mewadahi anak muda di kota Malang?









Balas