UB Lirik Kampung Budaya Polowijen Sebagai Tempat Belajar Seni Budaya

UB Lirik Kampung Budaya Polowijen Sebagai Tempat Belajar Seni Budaya
UB Lirik Kampung Budaya Polowijen Sebagai Tempat Belajar Seni Budaya

Kota Malang, blok-a.com – Kampung Budaya Polowijen kini mulai dilirik mahasiswa sebagai tempat mengenal sejarah di Kota Malang.

Kota Malang merupakan kota dengan sejuta sejarah didalamnya, serta kota yang tak lepas dengan pendidikan. Maka keduanya akan saling bersinambungan membentuk pendidikan yang berkualitas.

Dengan demikian Kota Malang menjadi tempat yang relatif komplit untuk studi budaya, salah satunya yakni di Kampung Budaya Poliwijen.

Tak hanya sebagai kampung budaya, kampung ini juga dikenal sebagai kampung wisata andalan Kota Malang. Berbagai seni budaya tersedia mulai dari seni tari, musik angkulung, karawitan, pendalangan hingga kerajinan topeng dan batik menjadi daya tarik kampung ini.

Seperti halnya, mahasiswa prodi Seni Rupa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (UB) yang tertarik berkunjung untuk mempelajari seni budaya yang ada di Kampung Budaya Polowijen.

Tak jauh dari kampus UB, tempat Kampung Budaya Polowijen menjadi salah satu refrensi untuk mengembangkan bakat seni terutama seni kriya.

Sebanyak 30 mahasiswa berkunjung untuk membuat topeng malangan dari kayu. Serta didampingi langsung oleh Ki Demang sebagai penggagas Kampung Budaya Polowijen.

“Bakalan tipemg kayu sudah dibentuk muka dan di gambar, mahasiswa tinggal mengukir mahkota topeng saja,” ungkap Ki Demang.

Sebagai penggagas tempat ini, Ki Demang merasa bangga jika masih banyaj generasi muda tertarik bahkan peduli dengan sejarah Kota Malang.

Dalam kesempatannya, ia menjelaskan jenis serta pembeda antara topeng malangan dengan topeng lain, Ki Demang menyebut topeng malang lebih realis dan estetik serta lebih kaya akan ragam hiasnya.

“Hampir 74 karakter topeng ragam hias mulai dari mahkota, sumping, rambut warna cat berbeda itulah ciri khas topeng malang,” tuturnya.

Lebih lanjut, pria yang memiliki nama asli Isa Wahyudi ini menjelaskan sejarah penggunaan topeng pada masa kerajaan Kanjuruhan. Dimana raja Gajayana memakai topeng sebagai kegiatan ritual.

Demikian juga dengan kerjaan Singhasari yakni Raja Kartanegara juga mengenakan topeng. Dilanjutkan pada masa Hayam Wuruk Raja Majapahit, topeng tersebut mulai dipentaskan sebagai pertunjukan dan kesenian rakyat.

Terpisah, mahasiswa prodi Seni Rupa UB, Sintia mengusulkan topeng malang bisa lebih di kembangkan lagi dengan mengusung tema yang futursitik, pasalnya menurutnya topeng malang terkesan terlalu pakem.

“Banyak ragam topeng yang buda diaplikasikan dalam berbagai kerajinan lainnya, yang lebih futuristik. Jadi kamu yang sedang belajar membuat topeng bjsa lebih eksploratif,” ungkapnya.

Sedangkan, dosen pemdamping prodi Seni Rupa UB, Fatmawati menuturkan Kampung Budaya Poliwijen ini memiliki keunikan serta memiliki karya seni yang tinggi.

“UB punya kepentingan untuk mendorong ini bukan sekedar kerjainan biasa tetapi kerjainan pelastarian seni dan tradisi,” ungkap Fatmawati.

Lebih lanjut, Fatimah mengatakan perlu adanya elaborasi antara topeng malang dengan kerjainan lain untuk mendongkrak perekononomian Kampung Budaya Polowijen melalui kolaborasi antara umkm yang ada.

“Perlunya kerjainan topeng malang dielaborasi dengan kerajinan lain sehingga bisa jadi souvernir cenderamata oleh oleh khas malang,” pungkasnya.

(ptu)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?