KOTA MALANG – Uji coba penutupan Jalan Basuki Rahmat atau Kayutangan berdampak pada kemacetan di sejumlah titik Kota Malang. Berdasarkan pantauan dari Blok-A, di depan Balai Kota Malang sudah terjadi penumpukan kendaraan hingga Jalan Majapahit, Senin (9/11) siang.
Kemudian, efek kemacetan juga terjadi di depan Ramayana. Bahkan, juga terjadi di sejumlah jalan tikus, yakni di belakang RSSA, perempatan Jalan Pattimura hingga belakang Pavilyun RSSA.
Menanggapi hal tersebut, Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata mengungkapkan penutupan jalan yang semula direncanakan mulai Jalan Jaksa Agung Suprapto hingga Gereja Kayutangan diubah. Penutupan tersebut hanya dilakukan di beberapa titik saja.
“Penutupan akan dilakukan dari Gereja Kayutangan sampai kawasan perbankan di Jalan Kauman, totalnya sepanjang 634 meter,” terang Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Leonardus Simarmata usai meninjau langsung penutupan kawasan Kayutangan.
Leo menjelaskan, proyek Kayutangan Heritage terdiri dari beberapa aspek. Pertama, jalan di kawasan tersebut akan dibongkar dan diganti dengan batu andesit. Kemudian, pembongkaran koridor jalan untuk dipasang lampu dan kursi.
“Nantinya, akan dibentuk seperti di Jalan Malioboro (koridornya). Sehingga harus dilakukan penutupan jalan dikawasan tersebut namun tidak total,” kata dia.
Untuk itu, pihak kepolisian dan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang juga telah berupaya melakukan rekayasa lalu lintas agar proyek bisa tetap berjalan namun tidak mengganggu aktivitas warga.
“Kami pikirkan masak-masak (rekayasa lalu lintasnya). Kami upayakan sebelum Natal bisa selesai. Nanti akan kami adakan evaluasi terkait titik kepadatan lalu lintas yang ada sehingga bisa segera terurai dan tidak menimbulkan titik kemacetan di tempat lain,” papar dia.
Sementara, terkait kendaraan darurat, seperti ambulance dan Pemadam Kebakaran (Damkar), pihaknya akan memberikan prioritas.
“Nanti, akan kami prioritaskan dan akan diberi jalur khusus. Kami juga akan mencarikan jalur tercepat yang bisa mereka lalui. Dari sini akan kami evaluasi lagi ,” kata Leo.
Leo menambahkan, pihaknya juga telah mengusulkan kepada pelaksana proyek untuk terus memberikan sosialisasi terhadap masyarakat, terutama pengendara jalan. Utamanya, dengan memasang banner dan spanduk.
“Sehingga bisa memberikan pengetahuan dan alternatif kepada masyarakat agar memilih jalan lain untuk menghindari kemacetan. Mereka bisa memilih alternatif jalan sesuai dengan tujuan yang dipilih,” imbuh dia.
Untuk diketahui, pembangunan Kayutangan Heritage merupakan program Kementerian PUPR bertajuk Kotaku. Sebelumnya, proyek senilai Rp 1,6 Miliar dari APBD tahun 2019 tersebut memang sempat terhambat lantaran pandemi covid-19.
Ditargetkan, keseluruhan proyek Kayutangan Heritage yang rencananya mirip kawasan Braga di Bandung dan Malioboro di Yogyakarta tersebut, akan rampung pada bulan Februari 2021 mendatang.










Balas