Selain Bantu Siswa Belajar Daring, Pendopo Kembang Kopi Mendongkrak Perekonomian Warga

Siswa Belajar Di Pendopo Kembang Kopi
Siswa Belajar Di Pendopo Kembang Kopi - Foto: ist

KABUPATEN MALANG – Warung kopi kebanyakan hanya berbasis bisnis yang keuntungannya hanya ke pemilik saja.

Namun warung kopi di Dusun Ngemplak Desa Sumbersuko Kecamatan Wagir, yakni Pendopo Kembang Kopi ini beda. Keuntungan bukan hanya untuk pemilik. Tapi juga untuk meningkatkan perekonomian warga sekitar. Bagaimana bisa?

Seluruh menu seperti menu kopi, makanan hingga camilan semua disediakan oleh warga sekitar, yakni warga Desa Sumbersuko.

Pengelola Pendopo Kembang Kopi, Agus Sugiarto membeli semua masakan dan minuman yang disediakan warga sekitar itu sebagai menu di warung kopinya.

“Jadi sistemnya kami seperti terminal saja. Penghubung antara warga desa sekitar dengan kekayaan alam sini membuat menu dan kami jual ke konsumen. Untungnya nnati ya di masyarakat sekitar,” tuturnya ke Blok-A, Minggu (6/9).

Pendopo Kembang Kopi
Pendopo Kembang Kopi

Contohnya adalah kopi. Kopi di warung kopi ini tidak menggunakan jenis kopi yang terkenal seperti Kopi Dampit. Tapi kopi asli warga Desa Sumbersuko, yakni Kopi Kawi.

“Kami beli di petani sini sendiri dan ada yang nanam juga. Soalnya di sini 60 persen petani kopi. Jadi kami manfaatkan itu dan uangnya nanti kembali ke warga sekitar. Dan harga kopi ini sekitar 10 ribu sampai 12 ribu,” tuturnya.

Selain itu ada dari makanan, makanan di sini dibuat oleh warga sekitar. Ada delapan ibu rumah tangga yang terdaftar sebagai pembuat makanan. Menunya juga menu rumahan yang biasa dibuat, seperti sayur lodeh, sayur pedas, sama sayur bobor beserta tahu dan tempe goreng.

“Setiap hari gantian yang buat dan menunya setiap hari beda-beda. Dan kami langsung bayar setelah masakan itu di bawa ke warung kopi. Satu orang bisa menikmati masakan dengan sistem prasmanan dengan harga 25.000 per orang,” kata ia.

Terakhir, menu snack atau camilan. Camilan di sini di sediakan warga sekitar juga. Bedanya tidak ada plastik. Snack itu dimasukkan ke dalam toples.

“Dan kalau mau mengambil langsung saja. Taruh piring. Sekali ambil satu snack bayar Rp 5000,” kata ia.

Alhasil dengan konsep seperti ini, kata Agus, bisa menghidupkan perekonomian warga Desa Sumbersuko.

“Ya alhamdulilah bisa diberdayakan masyarakat. Mereka bisa meningkat ekonominya. Itu memang tujuan kami membangun kopian ini untuk memberdayakan masyarakat desa. Jadi kami sebagai penghubung saja potensi desa yang bisa dijual ke masyarakat luas,” tuturnya.

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com