KABUPATEN MALANG – Pemerintah Kabupaten Malang mencanangkan program inovatif bagi seluruh pemerintah desa di Kabupaten Malang.
Program tersebut bernama one village one destination and product. Dalam program tersebut, satu desa musti memiliki satu destinasi atau produk oleh-oleh.
Bupati Malang, H.M Sanusi mengatakan prorgram tersebut akan membuat desa lebih mandiri dalam hal penganggaran.
“Pendapatannya semakin banyak karena sudah ada destinasi wisata yang dikelola oleh BUMDes (Badan Usaha Milik Desa),” kata Sanusi saat di NK Cafe, Senin (18/1).
Sanusi juga mengatakan bahwa saat ini sudah banyak desa yang mempunyai destinasi wisata. Contohnya adalah Cafe Sawah di Desa Pujon Kidul Kecamatan Pujon ataupun NK Cafe yang terletak di antara Desa Ampeldento dan Desa Ngijo Kecamatan Karangploso.
“Dua cafe itu saja bisa dan konsepnya bekerjasama dengan pengusaha. Akhirnya menemukan win-win solution antara BUMDes dan pengusaha,” kata Sanusi.
“Nanti urusan perizinan tanah jika memang sulit untuk membentuk destinasi wisata. Akan kami bantu dan didampingi langsung oleh DPMPTSP (Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Pelayanan Terpadu Satu Pintu). Dan permodalan juga,” ucap ia.
Sanusi pun yakin tidak ada satupun desa di Kabupaten Malang yang tidak memiliki potensi untuk dijadikan destinasi wisata ataupun pengelolaan produk oleh-oleh.
“Semua ada kalau gak ada langsung didampingi Disparbud (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan). Nanti didampingi Sekda (Sekretaris Daerah Kabupaten Malang, Wahyu Hidayat). Jadi saya harap 2021 semua desa sudah punya,” tutup ia.
Terpisah salah satu pemilik cafe yang bekejsama dengan BUMDes, yakni NK Cafe, Joni Sujatmoko mengatakan yang saat ini menjadi ketakutan pengusaha untuk berurusan dengan BUMDes adalah masalah perizinan tanah.
“Ya mereka tidak mau masuk ke BUMDes karena izin tanah. Tanah Kas Desa (TKD) ruwet lah. Akhirnya nanti malah diambil CSR dari perusahaan besar dan tidak ada sistem disitu. Dibangun, diberi ke warga sudah tidak terawat,” kata Joni.
Berbeda lagi, lanjut Joni, jika BUMDes bekerjasama dengan pengusaha. Pengusaha seperti dirinya akan membangun sistem di tanah desa tersebut.
“Contoh NK Cafe ini. Saya pinjam tanahnya saya bangun jogging track. Itu saya pinjam tanah kas desa. Terus saya bangun juga fasilitas lainnya di depan NK Cafe. Jadi ketika semua sudah jadi. 15 tahun berlalu. Nanti ya BUMDes yang akan mengelola dan sistemnya sudah. Jadi lebih optimal,” tutup ia.










Balas