Kota Malang, blok-a.com — Kampung Kayutangan Heritage saat ini menjadi sebuah ikon kampung tematik di Kota Malang.
Sebelum menjadi ikon, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang yang beranggotakan Budi Fathoni, Agung Buana, Widya Ayu, Ponimin, dan Dwi Cahyono melaksanakan kegiatan pencarian bentuk nyata dari Malang Kota Heritage pada tahun 2017.
“Saya waktu itu bersama rekan-rekan TACB angkatan pertama, mencari bentuk atau contoh dari Kota Malang yang sering disebut sebagai Kota Heritage,” ujar Agung Buana, Budayawan Kota Malang, pada wartawan blok-a.com, Selasa (28/2/2023).
Berdasarkan keterangan dari Budayawan Kota Malang tersebut, kegiatan yang dilakukan oleh TACB sejalan dengan prorgam dari Pemerintah Kota (Pemkot) Malang yaitu rencana pembangunan jangka menengah daerah tahun 2018-2023.
“Dan itu sejalan dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah tahun 2018-2023,” ujarnya.
Saat itu, dirinya bersama dua teman lainnya yaitu Dwi Cahyono dan Budi Fathoni berkesempatan melakukan survey ke Kampung Kauman (saat ini Kampung Kayutangan Heritage).
“Pada saat itu berkesempatan survey ke daerah Kayutangan, terutama Kayutangan bagian utara yaitu yang berada di belakang McDonald’s Oro-oro Dowo,” terang Agung.
Ketika melakukan survey, mereka menemukan sebuah pintu air peninggalan kolonial Belanda yang memisahkan Kampung Kauman menjadi dua saluran.
“Yang mana pada saat itu kami menemukan banyak peninggalan kolonial yaitu pintu air dari jaman Belanda. Dimana pintu air ini membelah kampung kayutangan menjadi dua saluran,” lanjutnya.
Menurutnya, tujuan dari dibangunnya pintu saluran ini adalah untuk meminimalisir banjir di area Kecamatan Klojen pada saat itu.
“Dan itu merupakan bagian dari upaya meminimalisir bahaya banjir di daerah Kayutangan, Klojen, dan sekitarnya,” ujar Agung.
Setelah melakukan survei pintu air, Agung dan teman-temannya merasa tertarik untuk melanjutkan survei ke dalam Kampung Kauman.
“Dari kami melihat atau melakukan survei pintu air tersebut, akhirnya kami melakukan survey terhadap kampung-kampung di sekitarnya yaitu Kampung Oro-oro Dowo, dan Kampung Kauman,” jelasnya.

Saat memasuki wilayah tersebut mereka sangat kagum dengan arsitektur rumah yang masih asli dan belum berubah sama sekali.
“Ternyata di situ melihat bangunan-bangunan rumah yang berada di sisi tepi sungai yang membelah Kampung Kayutangan tadi, masih dalam corak arsitektur yang dipertahankan oleh pemilik rumah,” ujarnya.
Agung mengaku saat memasuki wilayah tersebut ia merasa seperti dibawa ke pemukiman era 1930-1940 an.
“Sehingga saat kita masuk ke kampung ini rasanya dibawa kembali ke tahun 40-30 an,” tambahnya.
Dari situlah mereka memutuskan untuk melakukan rekonstruksi apakah Kampung Kauman ini bisa menjadi contoh dari sebutan Kota Malang Kota Heritage.
“Nah di situlah kita mencoba melakukan rekonstruksi apakah mungkin Kampung Kauman ini bisa kita angkat sebagai contoh heritage di Kota Malang,” tutur Agung.
Membuat Pokdarwis
Proses perubahan sebuah kampung biasa menjadi kampung tematik sangatlah panjang. Salah satunya adalah perubahan Kampung Kauman menjadi Kampung Kayutangan Heritage.
Menurut Agung Buana, Budayawan Kota Malang, Kota Malang sendiri perlu membangun sebuah lokasi wisata yang menonjolkan sisi kebudayaan. Selain itu juga, Kota Malang sendiri bisa dijadikan destinasi wisata belanja.
“Karena Kota Batu memiliki ciri khas wisata buatan, lalu ada Kabupaten Malang yang punya ciri khas wisata alamnya, akhirnya pada saat itu kami membuat rencana untuk membangun ciri khas wisata Kota Malang sebagai pariwisata yang berbau kebudayaan dan belanja,” terangnya.
Hal ini diinisiasi oleh penta helix yaitu akademisi yang diwakili oleh Budi Fathoni, Pemerintah Kota Malang yang diwakili Agung Buana dari Dinas Kebudayaan, Media, Businessman yang diwakili oleh Chandra dari Soak Ngalam, serta komunitas masyarakat.
“Kami berempat berusaha membentuk masyrakat yang tadinya tertutup menjadi lebih sadar pariwisata,” ujar Agung Buana pada wartawan blok-a.com, Selasa (28/2/2023).
Akhirnya, mereka berempat membentuk sebuah kelompok bernama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Kelurahan Kauman di RW 01, 09, dan 10.
“Kami membentuk Pokdarwis di Kelurahan Kauman yaitu di RW 09, 01, dan 10. Sebelumnya memang RW 02 belum masuk dalam program Kampung Kayutangan Heritage ini, namun sekarang sudah bergabung,” jelas Agung.

Setelah dibentuk Pokdarwis, mereka melaksanakan sebuah rapat di setiap minggunya yang diselenggarakan pada hari Rabu. Rapat tersebut disebut sebagai diskusi Reboan. Awalnya pertemuan ini sangat diminati oleh masyarakat, terlihat dari banyaknya masyarakat yang ikut hadir dalam diskusi Reboan tersebut.
Namun, lambat laun masyarakat semakin sedikit yang ikut rapat Reboan tersebut. Akhirnya para budayawan berinisiatif mengajak masyarakat di Kampung Kauman yang berada di sebelah barat Jalan Basuki Rachmat itu ke sebuah kampung lawas di Surabaya.
“Namun, lambat laun masyarakat semakin sedikit yang mengikuti diskusi Reboan. Akhirnya kami berempat menginisiasi untuk mengajar masyarakat study banding ke Kampung Lawas Maspati di Surabaya,” ujar Agung.
Studi Banding ke Surabaya
Budayawan, Businessman, Media, serta Pemerintah Kota Malang bersinergi untuk mengajak para warga Kampung Kauman melakukan study banding di Kampung Lawas Maspati di Surabaya. Dengan mengajak total 25 warga dari RW 01, 09, dan 10 di Kampung Kauman.
“Untuk menyadarkan kembali masyarakat akan potensi wisata di kampungnya, maka kami berempat menginisiasi mengajak warga untuk study banding ke Kampung Lawas Maspati di Surabaya, dengan mengajak total 25 orang dari RW 01, 09, dan 10,” ujar Agung Buana, Budayawan sekaligus perwakilan Dinas Kebudayaan Kota Malang, pada wartawan blok-a.com, Selasa (28/2/2023).
Menurutnya Kampung Lawas Maspati memiliki karakteristik yang sama dengan Kampung Kauman. Hanya saja, ia merasa bahwa Kampung Maspati lebih kecil namun hebatnya secara rutin mereka menerima kunjungan wisata dari mancanegara.
“Kami mengajak masyarakat Kampung Kauman ini ke Kampung Lawas Maspati di Surabaya, alasannya adalah karena kampung ini memiliki karakteristik yang sama dengan Kampung Kauman, namun bedanya kampung ini lebih kecil dan hebatnya mereka secara rutin menerima kunjungan wisata dari mancanegara,” jelas Agung.

Agung juga mengatakan bahwa turis mancanegara berkunjung ke Indonesia karena mereka senang dan ingin melihat kebudayaan yang ada di kota-kota di Indonesia.
“Karena turis mancanegara itu tertarik dengan sosial ekonomi, sosial budaya pada masyarakat di Indonesia,” tuturnya.
Akhirnya setelah melaksanakan study banding, antusias masyarakat terhadap pembangunan Kampung Kauman menjadi Kampung Kayutangan Heritage kembali meningkat.
“Setelah kita adakan study banding atau study tiru ke Kampung Lawas Maspati di Surabaya, akhirnya warga sadar bahwa kampungnya memiliki potensi untuk dijadikan kampung wisata heritage,” ujar Agung Buana. (len/bob)










Balas
Lihat komentar