Musim Panas Membawa Berkah Bagi Petani Tembakau di Desa Jatiguwi Malang

Caption : Petani tembakau di Dusun Krajan, Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung raup untung banyak saat musim kemarau (Blok-a.com/ Putu Ayu Pratama S)
Caption : Petani tembakau di Dusun Krajan, Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung raup untung banyak saat musim kemarau (Blok-a.com/ Putu Ayu Pratama S)

Kabupaten Malang, Blok-a.com – Musim panas membawa berkah tersendiri bagi petani tembakau di Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Tahun ini, omsetnya melejit hingga 50 persen dibanding tahun 2022 kemarin.

Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki, Setyo (47) menjelaskan, tanaman tembakau merupakan tanaman yang tumbuh subur saat musim kemarau.

Di musim ini, kualitas yang didapat juga cukup bagus, sehingga mampu laku tinggi di pasaran.

“Kondisinya di tahun ini petani tembakau ya rejekinya banyak. Alhamdulillah lumayan harganya juga mahal, hasil panennya bagus karena cuaca panas,” ujar Setyo saat ditemui di kediamannya, Jumat (13/10/2023).

Dibandingkan tahun lalu, omset petani tembakau melejit mencapai 50 persen lebih. Kenaikan itu tentunya disambut baik oleh petani.

Sebab sejak dua tahun yang lalu, petani tembakau merintih. Sebab harga jual tembakau cenderung menurun karena musim penghujan yang lebih panjang dibandingkan musim kemarau.

Terlebih saat musim penghujan, petani hanya mampu panen satu kali dalam satu sekali tanam. Sedangkan saat musim panas, bisa tiga kali panen dalam satu kali tanam dengan hasil yang lebih bagus.

“Penghujan biasanya satu kali panen, panen berikutnya sudah banyak yang busuk jadi gak bisa di jual,” jelasnya.

Tak hanya itu, untuk mengeringkan tembakau yang sudah dipotong tipis juga memerlukan waktu yang cukup panjang saat musim penghujan.

Jika musim penghujan, perawat yang dibutuhkan cukup besar. Petani harus membayar pegawai untuk memindahkan tambakau yang dijemur.

“Kalau panas biasanya hanya dijemur dua hari sudah kering, kalai hujan kadang sampai seminggu baru kering nah itu juga kan butuh biaya lebih,” ujarnya.

Risiko yang ditimbulkan juga cukup besar, saat musim penghujan tembakau rawan membusuk hingga perlu tambahan ongkos lebih untuk membantu proses pengeringan.

“Kalau gak ada panas ya kita terpaksa pakai oven, tambah biaya lagi. Terus hasil yang diperoleh juga gak maksimal, gak seperti di jemur di bawah terik matahari,” ungkapnya.

Disinggung mengenai harga tembakau, Setyo menyebut, saat ini harga cenderung naik dibandingkan tahun kemarin yakni mencapai Rp 120 ribu hingga Rp 140 ribu per kilogramnya.

Sedangkan di musim penghujan tahun lalu, hanya Rp 70 ribu sampai Rp 90 ribu per kilogramnya.

“Petani sini biasanya menjual langsung ke pasar lokal, di Malang sendiri, Blitar, Banyuwangi. Ada juga yang jualnya lewat kelompok tani ada yang langsung ke pasar,” pungkanya. (ptu/bob)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?