Jos! Inovasi Pengelolaan Popok dari Puskesmas Polowijen Sukses Meraih Top 45 Kovablik Jatim 2020

Rumah Diapers Puskesmas Polowijen Masuk Top 45 Kovablik Jatim 2020
Rumah Diapers Puskesmas Polowijen Masuk Top 45 Kovablik Jatim 2020 - Foto: istimewa

KOTA MALANG – Rumah Diapers sebuah inovasi pelayanan dari Puskesmas Polowijen berhasil membawa harum nama Kota Malang di wilayah Jawa Timur.

Inovasi yang dibentuk sejak 2017 itu berhasil menyabet Top 45 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KOVABLIK) Provinsi Jawa Timur 2020.

Wali Kota Malang, Sutiaji pun merasa bangga akan prestasi yang disumbang oleh Puskesmas Polowijen itu.

Ia pun mengajak, inovasi Puskesmas Polowijen ini agar bisa diikuti oleh sejumlah puskesmas lainnya. Tujuannya supaya eksistensi Kota Malang bisa terdengar hingga ke seluruh dunia.

“Pemerintah sedang menggalakkan berinovasi terus, bahkan kita saat ini sedang maju ditingkat nasional. Tingkat nasional sudah masuk. Rencananya kita masuk internasional,” kata Sutiaji seusai apel dan menyerahkan penghargaan Top 45 Kovablik 2020, Senin (16/11).

Seperti apakah Rumah Diapers itu?

Sanitarian puskesmas Polowijen sekaligus inovator Rumah Diapers Anita Resky D.,SKL. menjelaskan ke Blok-A.

Inovasi itu berawal dari tahub2017. Awalnya Anita mengamati permasalahan di sekitar Polowijen. Survei Mawas Diri (SMD) pun dilakukan Anita dan sejumlah pegawai Puskesmas Polowijen.

SMD sendiri adalah suatu kegiatan untuk menangkap keadaan masalah dan upaya dalam mengatasi masalah tersebut.

Dari SMD pun ditemukan permasalahan sampah diapers satu kali pakai yang dibuang sembarangan. Limbah tersebut dibuang ke sungai ataupun ke selokan.

“Dan itu (diapers) yang dibuang kadang tidak dicuci. Jadi kotorannya masih ada. Kan jadi bahaya untuk lingkungan. Pertama diapers sulit diurai. Kedua feses juga sarang penyakit,” kata Anita.

Anita pun yang gelisah akan tercemarnya lingkungan di Polowijen menemukan solusi. Ia berpikir, bahan plastik diapers bisa dibuat kerajinan.

Kerajinannya yang ia buat sederhana, seperti bunga plastik. Untuk itu sejumlah warga sekitar dan ibu-ibu Posyandu diajak untuk membuat kerajinan itu.

Sembari melakukan edukasi kerajinan itu, Anita juga memberikan sosialisasi pentingnya diapers untuk tidak dibuang sembarangan dan harus dibersihkan sebelum dibuang.

“Kami latih ibu-ibu untuk membuat kerajinan itu. Dan alhamdulilah mereka bersemangat dan yang terpenting kami edukasi pula pembersihan diapers itu,” kata Anita.

Ke depan, Anita masih ingin lebih untuk inovasi dari diapers itu. Ia ingin lebih dari hanya sekadar kerajinan.

“Kalau kerajinan aja kan biasa. Masyarakat juga mengembangkan kerajinan dengan membuat tas juga. Semua bisa, kami ingin lebih,” imbuh ia.

Tahun 2018, Anita pun menemukan bahwa diapers bekas bisa dibuat untuk media taman tanaman atau pot.

“Karena di diapers itu ada hydro gel dan kandungan hydro gel itu ternyata bisa jadi media tanam karena kan ada airnya. Akhirnya kami buat pot juga,” kata ia.

Inilah yang membuat inovasi Anita tuntas. Diapers pun kemudian berangsur-angsur berkurang. Masyarakat mulai sadar ternyata diapers masih bisa dimanfaatkan dengan dibersihkan dan dikelola dengan benar.

Betapa tidak, kini satu pot dari Rumah Diapers dibanderol seharga Rp 10 ribu sementara bunga plastik dari Rumah Diapers dibanderol dengan harga Rp 15 sampai 150 ribu.

“Dan biasanya masyarakat langsung membuat ketika ada pesanan. Jumlahnya per bulan kami tidak bisa pastikan. Pokoknya ya 140 popok per bulan habislah untuk kerajinan dan pot,” kata Anita.

Meskipun menguntungkan dibuat bisnis, Anita mengaku yang terpenting di Rumah Diapers adalah bukan perkara uang. “Namun kesadaran masyarakat untuk mengurangi sampah diapers itu yang terpenting. Kalau bisa dijual ya itu bonus,” tutupnya.

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com