Cuaca Kemarau dan Faktor Kelalaian Manusia, Gresik Rawan Kebakaran

Ilustrasi pemadaman kebakaran di wilayah Kabupaten Gresik.

Gresik, blok-a.com – Peristiwa kebakaran di wilayah Kota Pudak hampir setiap hari terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Kadis Damkarla Gresik Suyono mengungkapkan, Selama Juli saja, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarla) Kabupaten Gresik mencatat 27 peristiwa kebakaran.

Faktor kelalaian menjadi penyebab tertinggi. Terutama aktivitas warga yang membakar sampah maupun membuang putung rokok sembarangan.

“Pernah dalam sehari kami menangani 9 kebakaran. Seluruhnya di wilayah lahan kosong yang cukup dekat dengan pemukiman,” ungkapnya.

Wilayah Gresik Selatan cukup rawan memicu amukan si jago merah. Mulai dari Kecamatan Menganti, Driyorejo, hingga Wringinanom.

Kondisi tersebut cukup berbeda dengan wilayah Gresik Utara yang masih didominasi tambak dan sawah.

“Tumpukan sampah dan rongsokan juga bisa memicu titik api. Tanpa ketahuan tiba-tiba api langsung merembet,” ujarnya, senin (15/7/2024).

Faktor cuaca juga cukup berpengaruh terhadap fatalitas kebakaran. Dalam kondisi kemarau dan berangin, api dengan cepat menjalar. Hal itu juga dipengaruhi pemanasan suhu muka laut.

Upaya untuk menekan peristiwa tersebut terus dilakukan. Dengan aktif melakukan sosialisasi pencegahan maupun mitigasi bencana saat terjadi kebakaran.

“Melalui forum-forum di tingkat desa maupun kecamatan. Karena kebakaran bisa terjadi kapan pun dan di manapun,” terang mantan Camat Cerme itu.

Sementara itu, Sukardi Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik, memprediksi musim kemarau akan terjadi hingga September mendatang.

Sehingga, mengurangi curah hujan dan mengakibatkan kekeringan di sejumlah wilayah.

“Biasa disebut El Nino, berdasarkan data dari BMKG fenomena itu mungkin terjadi hingga September,” kata Sukardi, senin (15/7/2024).

Pihaknya juga mengimbau agar masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah dalam beberapa pekan ke depan. Khususnya di wilayah pesisir maupun rawan terjadi banjir. Sebab, masa peralihan musim juga memicu anomali cuaca.

“Bisa sewaktu-waktu berubah. Kami akan terus berkoordinasi dengan BMKG untuk mengantisipasi potensi bencana yang mungkin terjadi,” tandasnya. (ivn/lio)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com