KOTA BATU – Pemerintah Kota (Pemkot) Batu melalui Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) mencanangkan setiap Satu Desa Satu Batik. Batik ini harus memiliki ciri khas maing-masing desa, sehingga kedepan Kota Batu bisa memiliki 24 motif batik sesuai jumlah desa.
“Sudah waktunya di masing-masing desa atau kelurahan mempunyai ciri khas batik tersendiri. Sehingga Kota Batu bisa memiliki 24 motif batik yang berbeda-beda,” jelas Ketua TP-PKK Kota Batu, Wibi Asri Punjul Santoso, Senin (19/10).
Istri dari Wakil Wali Kota Batu ini menambahkan selama ini baju batik identik dengan orang tua. Namun di era milenial seperti saat ini, batik sudah mulai membaur dan cocok digunakan semua kalangan.
Terlebih dengan adanya desa atau kelurahan di Kota Batu yang memiliki ciri khas tersendiri, pihaknya berharap dapat bekerjasama dengan baik untuk merealisasikan progam Satu Desa Satu Batik.
“Kan Desa atau Kelurahan ini banyak ciri khasnya, kalau bisa dituangkan menjadi batik akan sangat luar biasa. Terlebih batik di Kota Batu akan berbeda karena lebih menonjol keindahan alamnya,” imbuhnya.
Wibi menilai Pembatik di Kota Batu ini sudah seharusnya memanfaatkan potensi desa sebagai ciri khas dari karya batiknya. Terlebih, sebagian pembatik Kota Batu juga sudah mengikuti uji sertifikasi yang diselenggatakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Batik.
Dengan demikian, para pembatik Kota Batu memiliki nilai tambah. Sehingga, pangsa pasarnya juga lebih meluas lagi.
“Sejauh ini sudah ada beberapa desa yang menerapkan hal tersebut. Misalnya di Dadaprejo memiliki potensi bunga anggrek sehingga mempopulerkan batik anggrek. Bisa juga di Tulungrejo itu kan banyak pohon bambu disekitar lingkungan, maka bisa diambil tema batik bambu. Desa lainnya juga pasti punya potensi sendiri yang menjadi ciri khas,” katanya.
Selain itu, menurut Wibi kesadaran warga Kota Batu dalam memakai batik juga sudah cukup tinggi. Di lingkungan Pemerintah sudah diwajibkan saat dinas keluar kota untuk mengenakan pakaian batik khas Kota Batu.










Balas