Kota Malang, blok-A.com – Korban selamat tragedi Kanjuruhan alami mata memerah pasca terpapar tembakan gas air mata dengan jarak 2 meter.
Kondisi yang cukup mengenaskan dialami oleh Raffi Atha Dziaulhamdi (14). Saat ditemui di kediamannya, Jalan Prof Moh Yamin Gang 2A, Kelurahan Sukoharjo, Klojen, kota Malang, warna merah pada matanya usai kena tembakan gas air mata belum hilang hingga hari ke-10 tragedi.
Jika dilihat secara langsung, bagian mata yang berwarna putih kini hampir tak terlihat. Tampak bola mata dikelilingi warna merah seperti darah.
Raffi, siswa SMP 2 kota Malang ini menceritakan kondisi kedua matanya yang memerah pekat ini imbas dari tembakan gas air mata oleh aparat keamanan pada tragedi Kanjuruhan.
Menurut ceritanya, ia menonton pertandingan Arema FC vs Persebaya bersama dengan kakaknya, Yuspita Nuraini (25) dan beberapa teman lainnya. Ia yang mengaku duduk di tribun 10, saat peluit tanda pertandingan berakhir, Raffi turun ke tribun bawah yang biasa ditempati para penonton berdiri.
Ia mengatakan, pada saat itu aparat keamanan tiba-tiba menuju ke arahnya dan menembakkan gas air mata tepat di hadapannya, dengan jarak hanya sekitar 2 meter dari tempatnya berdiri.
“Sekitar 15 menitan setelah pertandingan selesai, saya turun ke bawah yang untuk berdiri. Pas saya jalan, aparat nembak saya,” tuturnya.
Pada saat itu, ia berada di kepulan asap gas air mata selama kurang lebih 15 menit. Ia pun panik dan mencoba untuk menyelamatkan diri untuk naik ke area tribun 12.
Dengan kondisi yang berdesakan pun Raffi akhirnya terjatuh pingsan, yang ia rasakan sesak hingga perih akibat tembakan gas air mata dan desak-desakan antar suporter yang berusaha menyelamatkan diri dari kepungan gas air mata.
“Saya pingsan dua jam. Sesak, depan saya ada orang pingsan. Dari belakang desel-desalan dorong. Kepala saya di bawah, gak bisa nafas, diem lalu pingsan,” ungkapnya.
Saat Raffi tersadarkan diri, posisi sudah berada di luar stadion. Ia merasakan bagian dalam matanya terasa perih sakit.
Kemudian Raffi pun dibawa oleh teman temannya menuju ke Rumah Sakit Teja Husada. Disana Raffi tak mendapatkan pertolongan hingga 30 sampai 40 menit. Hingga pada akhirnya, ia dibawa pulang dengan kondisi mata yang masih memerah pekat.
“Mata saya memerah pas saya sadar dari pingsan. Di Teja Husada saya gak diperiksa sama sekali, digeletakkan gitu aja. Saya langsung dibawa pulang sama teman-teman,” katanya.
Sekitar pukul 2 pagi, ia pun langsung tertidur. Ketika keesokan harinya ia terbangun, masih dengan kondisi mata memerah namun ia sudah tidak merasakan sakit dan penglihatannya pun mulai normal sampai saat ini.
“Setelah bangun tidur pengelihatan saya sudah normal. Cuma memang merah sampai sekarang. Gak ada kendala pengelihatan, sudah seperti biasa,” ungkapnya.
Terpisah, Ayah dari Raffi, yakni Sutrisno (45) menuturkan bahwa dirinya kala itu ia sangat mengkhawatirkan kondisi anaknya setelah mendengar informasi bahwa tengah ada kericuhan di Stadion Kanjuruhan.
“Saya sebagai ayah sangat khawatir. Anak saya telpon gak bisa, ternyata handphone-nya gak dibawa. Akhirnya dapat kabar dari temennya anak saya sudah perjalanan pulang,” tuturnya.
Keesokan harinya, Sutrisno membawa Raffi ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang. Selama dua hari menjalani perawatan di RSSA, kata Sutrisno, hanya ada pemeriksaan mata dan diberikan 5 jenis obat.
“Cuma dikasih obat, tapi gak saya tebus. Ada 5 obat, yang tiga gak ada saya cari,” tambahnya.
Tidak hanya itu, ia juga membawa anaknya, Raffi ke posko Tragedi Kanjuruhan Malang di wilayah Balai Kota Malang. Disitu, Raffi pun dirujuk ke Rumah Sakit Hermina Malang.
Dalam pemeriksaan, dugaannya mata Raffi mengalami iritasi akibat terpapar tembakan gas air mata.
“Mata merah karena kena gas air mata itu. Katanya bakal berangsur normal warna matanya setelah satu bulan,” jelas Sutrisno.
Pemeriksaan di RS Hermina tersebut pada Rabu (5/10/2022) lalu. Sutrisno mengatakan akan melihat perkembangan kondisi mata anaknya setelah satu pekan kedepan.
Jika selama satu pekan ini tak ada perubahan signifikan dari kondisi warna mata anaknya, ia akan kembali membawa anaknya ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
“Kalau gak ada perkembangan saya periksakan lagi,” tambahnya.
Sedangkan, untuk kondisi kakak dari Raffi, yakni Yuspita Nuraini sebelumnya sempat merasakan sesak napas hingga beberapa hari pasca tragedi Kanjuruhan.
Namun keadaannya berangsur membaik, kini Yuspita Nuraini tidak merasakan sesak napas seperti yang dialami beberapa waktu yang lalu.
“Kalau dia (Yuspita) udah agak sembuhan sekarang. Dia kemarin-kemarin panas dingin dan sesak,” pungkasnya.
(mg2)










Balas
Lihat komentar