Kampung Topeng di Kota Malang yang Kini Mati Suri, Warga Susah Cari Kerja

Kampung Topeng Desaku Menanti Kemensos di Kota Malang Yang Kini Mati Suri, Warga Susah Cari Kerja
Anak-anak bermain di Kampung Topeng Desaku Menanti Kota Malang (blok-A/Syams Shobahizzaman)

Kota Malang, blok-A.com – Dua puluh meter dari lokasi dua topeng raksasa setinggi 7,5 meter dan lebar 5 meter, seorang pria paruh baya terlihat kesusahan menyalakan api di antara tumpukan sampah. Berbekal sebuah korek api, ia terus mencoba membakar sampah-sampah dari rumah warga Kampung Topeng Desaku Menanti tersebut.

Satu per satu sampah rumah tangga itu akhirnya terbakar juga meskipun harus berulang kali karena sebagian besar basah terkena air hujan.

Suwito (47), begitu dia disapa, Bapak delapan anak ini adalah salah satu penduduk Kampung Topeng Desaku Menanti di Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Ada 30 Kepala Keluarga yang “masih” bertahan di sini dari total awal berjumlah 40 rumah penduduk.

Kampung Topeng Desaku Menanti merupakan program dari Kementerian Sosial sebagai upaya mengentaskan kemiskinan dengan memberikan tempat tinggal bagi mereka yang terpinggirkan dan tidak memiliki rumah di Kota. Sebagian besar mereka berasal dari daerah Muharto, Kota Lama dan Kecamatan Sukun. Mereka adalah orang-orang yang hidupnya memang seharusnya dijamin oleh negara menurut undang-undang.

Suwito menceritakan, Ia dan sebagian besar penduduk mulai menempati kampung tersebut sejak tahun 2017. Mereka juga dibekali berbagai macam keterampilan guna memutar roda ekonomi keluarga. Satu hal yang harus bisa dikuasai oleh warga yaitu membuat kerajinan topeng malangan. Sebagaimana tema yang diusung pemerintah untuk menjadikan kampung ini sebagai destinasi wisata. Keterampilan itu nantinya untuk membimbing para wisatawan yang tertarik membuat kerajinan topeng malangan.

“Dulu ini tempat ‘bengkel’ kreasi mas, tempatnya orang-orang membuat apa saja yang bisa dijual ke wisatawan dan orang-orang di luar kampung” kata Suwito sembari menunjukkan salah satu bangunan.

Bangunan tersebut kini terlihat tidak terawat. Beberapa retakan menjalar di banyak sudut tembok, lantainya dipenuhi debu, dan sebagian atap satu per satu tampak jebol. Di belakang bangunan itulah Suwito membakar sampah hampir setiap hari.

Siang itu, langit mulai terang setelah hujan mengguyur Malang sejak pagi hari. Suasana Kampung Topeng tampak sepi, hanya beberapa anak terlihat bermain-main dengan teman sebayanya. Tak berselang lama, di sudut lain, orang-orang kembali mengeluarkan jemurannya, lalu kembali masuk ke rumah masing-masing.

Menurut Suwito, sejak masa awal pandemi, kunjungan wisatawan ke kampung itu turun drastis, sebagaimana semua tempat wisata mengalami hal yang sama. Dampaknya tidak ada pemasukan untuk biaya perawatan seluruh sarana-prasarana, sehingga dalam kurun waktu itulah kampung ini tidak ubahnya seperti kampung biasa.

“Saya pernah mas jalan kaki dari sini ke Muharto itu bisa sampai dua jam. Ya, untuk cari kerjaan di sana, karena ngga ada pemasukan dari sini. Padahal sebenarnya ngga boleh warga cari kerja di luar. Tapi ya gimana lagi mas, wisatawannya ngga ada. pemasukannya juga ngga ada.” ungkapnya sembari tetap membakar sampah-sampah yang menumpuk.

Jadi, lanjut Suwito sekarang orang-orang mesti dan terpaksa kerja di luar kampung, sampai ada penanganan dari pemerintah untuk menghidupkan kembali Kampung Topeng ini. “Saya sendiri juga masih nganggur mas, sekarang ya yang bisa saya kerjakan ya menjadi petugas pemungut sampah warga. Saya dapat duit dari situ,” tambahnya.

Kampung yang pernah menarik pengunjung sampai ratusan orang tiap harinya saat awal mula dibuka tersebut, kini hanya mampu mendapat kunjungan yang bisa dihitung jari. Entah, kapan Kampung wisata ini akan “hidup” kembali, tapi yang pasti Kampung Topeng Desaku Menanti ini sempat jadi penompang hidup Suwito dan teman-temannya. (bob/sya)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com