Sosiolog Soal ‘Malang Gaya Bebas’ Perlihatkan Sejoli Bercumbu di Kafe, Jadi Gaya Hidup Baru di Malang?

Tangkapan layar video mesum (Instagram)

Kota Malang, Blok-a.com – Baru-baru ini, masyarakat Malang dihebohkan dengan beredarnya video tindakan bercumbu di sebuah kafe. Dalam video yang beredar di media sosial dan berjudul ‘Malang Gaya Bebas’ itu, nampak sejoli tengah melakukan tindakan asusila di salah satu kafe, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Video tersebut beredar di media sosial X dan Instagram. Video ‘Malang Gaya Bebas’, dengan durasi sekitar 16 detik yang memperlihatkan seorang laki-laki dan perempuan tengah bercumbu mesra di kafe tersebut. Hal itu jelas membuat netizen gaduh di media sosial.

Namun, nampaknya fenomena itu sudah menjadi gaya hidup baru di Kota Malang. Pasalnya, memang kesempatan itu didukung oleh berbagai faktor yang membuat fenomena tersebut menjamur di Kota Pendidikan ini.

“Ada ruang yang diberikan oleh masyarakat sehingga diisi oleh orang-orang baru yang membawa nilai-nilai baru,” ujar sosiolog Universitas Brawijaya, I Wayan Suyadnya, kepada blok-a.com, pada (19/12/2023).

Ruang-ruang kesempatan itu juga didukung oleh pergeseran gaya hidup di berbagai sektor paling kecil di tengah masyarakat. Seperti gaya hidup yang ekonomis dan individualis yang merajalela di kalangan masyarakat juga turut serta dalam aksi pembiaran aksi asusila di tempat umum.

“Dulu masih ada karakteristiknya, salah satu contohnya, ada orang tua antara pemilik kos dan anak kos, sehingga orang tua kandung menitipkan sang anak dengan pemilik kos. Sehingga terjadi proses pendidikan di sana,” bebernya.

Sementara itu, bentuk hubungan seperti itu sudah digantikan hanya dari sisi ekonomis saja. Contohnya, kini pemilik kos sudah tidak lagi peduli dengan apa yang dilakukan penghuninya. Terlebih, kini banyak bermunculan kos yang bersifat campuran, sehingga baik laki-laki maupun perempuan bisa tinggal di satu atap yang sama.

Gaya hidup ekonomis dan individualis ini semakin terpupuk dengan tidak terkendalinya pergaulan di Kota Malang. Wayan menyebut, pembatasan-pembatasan untuk tujuan pendidikan sudah tidak ada lagi. Digantikan oleh berbagai akses hiburan yang menjamur di Kota Malang.

Pengaruh fenomena mesum di muka umum juga dari tontonan konten-konten yang kerap ditemui bebas di media sosial. Dengan beredarnya video-video mesum di sosial media, apalagi yang dilakukan di tempat umum, justru membuat beberapa pelaku terinspirasi untuk meniru.

Sehingga, Wayan menyebut lebih baik apabila melihat tindakan serupa langsung ditegur saja tanpa merekamnya dan mempostingnya di sosial media. Wayan menyebut, kontrol lingkungan terhadap perbuatan tersebut diperlukan. Dalam kasus video asusila di kafe tersebut, ada baiknya kini pekerja kafe lebih awas terhadap lingkungan sekitar.

Tindakan asusila tersebut apabila terus menerus dibiarkan untuk disebarluaskan justru menimbulkan persepsi baru bahwa penyimpangan tersebut akan dianggap benar.

“Soal dampak, perilaku-perilaku seperti ini kan termasuk perilaku yang bisa diimitasi yang bisa ditiru, jadi kalau kita melakukan pembiaran, maka orang-orang itu (pelaku) akan menganggap bahwa perbuatan itu (asusila di tempat umum) bisa diterima. Dampak yang paling besar adalah bisa ditirukan bukan yang masih duduk di perguruan tinggi, tapi juga yang duduk di bangku SMA,” ujar dia. (mg2/bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com