Surabaya, blok-a.com – Puluhan ekor sapi super, dan kambing berkualitas berjejer di halaman Masjid Agung Surabaya (MAS). Satu persatu jumlah dari 74 ekor sapi dan 48 ekor kambing berkurang.
Ada dua hingga tiga petugas berkaus merah bertuliskan Masjid Al Akbar Surabaya, dan merek penyedap masakan menjemput dari tambatannya di halaman MAS.
“Sapi tiga, kambing 7, silakan,” ujar petugas berkaus merah berpeci putih mengeluarkan info sekaligus perintah.
Tak lama berselang sapi dan kambing masuk di basement Masjid. Di sini sudah siap 20 an jagal yang sedari awal sudah memegang pedang dan asahan di tangan.
“Allahumma hadhi hi min ka, wa ilaika wataqobbal minna,” ujar ustaz berpeci putih ini, memegang microphone.
Lalu disusul kalimah takbir, berkali-kali “Allahu akbar, allahu akbar…” dan seterusnya.
Para jagal pun menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Sapi dan kambing menggelepar sekejap kemudian digeser ke zona sebelah.
Kawasan basement untuk pemotongan hewan kurban sudah didesain sedari awal dengan baik.
Ada 4 zona di basement untuk penanganan hewan kurban. Zona pertama berisi daftar nama peng kurban, dan tempat duduk pengkurban. Di zona ini ditutup kain tirai. Dilengkapi minuman, kipas angin, dan tempat duduk.
Lantai khusus di zona ini ada yang didesain berlubang untuk tempat pemotongan sehingga darah hewan kurban mengalir langsung ke tempat pengomposan.
“Jeroan, kulit, dan kepala disendirikan penangananya. Untuk kepala dan jeroan dibersihkan tim khusus, dan dimasak setengah matang. Kepala dicacah untuk dimasak setengah matang. Tidak termasuk yang dibagikan,” ujar Helmy Noor, Humas Masjid Agung Surabaya, menyela.
Usai dipotong, hewan kurban digeser ke zona II, dipisahkan daging, tulang, dan hati serta parunya. Hati dan paru dikirim ke ruang pemeriksaan dokter. Di sini drh Arief, dari Dinas Peternakan memeriksa kesehatan daging.
“Dari sekian yang ada, semuanya layak konsumsi,” ujar drh Arief.
Menurut dr Arief, yang diperiksa tampak luar adalah jeroan paru-paru, jantung, dan hati hewan.

Ada pembedahan sedikit untuk memastikan tidak ada cacing pita, dan cacing organisme lain.
“Semua kita periksa luar dan dalam Mas. Agar terhindar dadi bakteri atau cacing pita,” ujar drh Arief.
Di zona II, lantai steril dan memakai mesin pemotong tulang. Sistem kerja jadi cepat. Hasil zona ini, semua daging dan tulang terbagi-bagi rapi sesuai jenis, dipisahkan memakai tong yang sudah diberi nama.
Kemudian tong-tong ini masuk zona selanjutnya, zona III untuk penimbangan dan pembungkusan memakai plastik.
Jeroan dibungkus sendiri sekian ons, daging sendiri, dan tulangan sendiri. Lalu ketiganya disatukan hingga berjumlah 1,5 Kilogram.

“Untuk pembagian ke dhuafa dan masyarakat itu, jumlahnya 1,5 kilogram. Terdiri dari daging, jeroan, dan tulangan,” ujar pekerja di zona III mayoritas perempuan ini.
Dari zona ini, masuk zona IV pelabelan dan distribusi. Di zona ini, tim petugas sudah membawa daftar penerima, sasaran dan area distribusi.
Suasana sibuk di basement ini, sangat kontras dengan suasana di luar. Di luar dan halaman, banyak anak kecil bermain ditemani ibu,nenek dan sodaranya.
Mereka ini menyaksikan satu persatu sapi, dan kambing digiring petugas untuk masuk basement sampai tidak ada yang tersisa.
Dr Helmy Noor, Humas Masjid Agung Surabaya, mengatakan penyembelihan hewan kurban di Masjid Al Akbar Surabaya, tidak mengotori lingkungan atau sungai. Kareaa semua limbah hewan kurban diproses jadi kompos.
Selain itu, untuk menjaga higienitas, daging kurban mendapat supervisi dari Tim Dinas Peternakan dan Tim Kedokteran Hewan dari Provinsi Jatim.
“Kalau untuk jeroan dicuci, kepala dipecah, lalu dimasak setengah matang, kemudian didistribusikan ke masyarakat. Ada 4 kompor dan 4 dandang besar untuk pengolahannya,” tambah Helmy Noor.
Pantauan data media ini, ada 48 ekor kambing, dan 74 ekor sapi disembelih di MAS.
Mereka para pengkurban ada dari Presiden, Kapolri, Gubernur, Wagub, Ketua DPRD Jatim, Kapolda, Pangdam V Brawijaya, Pangko Armada II, Sekda Provinsi, NasDem Jatim, Poltek Pelayaran, PTPN X, PT Royco, dan ada nama jemaah terjauh yakni dari Arjasa, Kabupaten Situbondo atas nama Atkasa Galih Nur Indahsari.(kim)










Balas
Lihat komentar