Malang, Blok-a.com – Nama brand EMBA tentu sudah tidak asing bagi para pencinta fashion di Tanah Air. Brand legendaris asal Kota Malang, Jawa Timur ini telah lama berkiprah di industri fashion dan menjadi busana andalan masyarakat.
Namun, brand sekelas EMBA tak luput dari berbagai mitos dan asumsi publik yang berkembang dari mulut ke mulut. Mulai dari asal-usul namanya yang kerap dikaitkan dengan metode ‘cocoklogi’ lokal, hingga sejarah awal berdirinya yang sering salah ditebak. Menjawab kesalahpahaman yang sudah telanjur mengakar kuat tersebut, pihak manajemen akhirnya meluruskan fakta.
Berikut tiga mitos yang resmi diklarifikasi oleh EMBA Group:
Mitos 1: Lahir di Tahun ’80-an
Banyak konsumen mengira EMBA merupakan brand yang lahir di era 1970-an atau 1980-an. Hal ini dikaitkan dengan naiknya popularitas jeans atau denim di Indonesia pada periode tersebut. Sehingga banyak orang menduga bahwa EMBA lahir mengikuti tren saat itu.
Faktanya, perjalanan EMBA Group dimulai dari inisiatif usaha keluarga di Kota Malang pada tahun 1968. Pendiri perusahaan adalah sepasang suami istri, Bambang Herlambang dan Leonita Ikawati.
Keduanya merintis usaha dengan mengelola sebuah toko kain sederhana, bermodalkan tiga unit mesin jahit untuk menjalankan usaha konveksi rumahan. Leonita Ikawati yang memiliki keahlian menjahit fokus pada kualitas produk, sementara Bambang Herlambang mengoptimalkan bidang pemasaran.
Pada tahun 1972, pasangan ini memutuskan bekerja sama dengan beberapa rekan untuk mendirikan CV Bambang Brothers Combination (BBC). CV BBC masih bergerak di bidang konveksi, sekaligus mengembangkan fokus untuk memproduksi pakaian formal, seperti kemeja dan celana bahan untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.
Barulah pada 1982, CV BBC meluncurkan lini produk jeans dan pakaian kasual dengan merek yang diberi nama EMBA. Ini merespons perkembangan pasar, yaitu meningkatnya popularitas denim, dan berdirinya department store yang mulai menjamur. Jadi, ketika nama EMBA pertama kali diperkenalkan, perusahaan ini telah berusia 14 tahun.
Mitos 2: EMBA Dikira Singkatan dari “Embong Bandulan”
Selama bertahun-tahun, masyarakat, khususnya warga Kota Malang, melakukan cocoklogi bahwa nama EMBA merupakan singkatan dari “embong Bandulan”. Narasi tersebut bahkan telah menyebar ke berbagai platform digital, dimuat dalam teks akademik, hingga dikutip oleh sistem kecerdasan buatan (AI). Pihak perusahaan menilai bahwa asumsi tersebut telah menciptakan kesalahpahaman tentang identitas dan sejarah asli perusahaan.
Faktanya, nama EMBA adalah identitas merek dagang yang dipilih secara khusus pada tahun 1982 karena nilai estetika, kemudahan pengucapan, dan karakter modernnya. Nama ini dirancang sejak awal sebagai merek yang mandiri dan tidak terikat pada singkatan geografis manapun, termasuk nama kawasan “Embong Bandulan” di Malang.
“EMBA dipilih sebagai nama brand karena pertimbangan branding yang matang untuk pasar nasional. Bukan singkatan dari lokasi tertentu, melainkan identitas merek yang kami bangun dengan sepenuh hati,” tegas manajemen EMBA Group dalam keterangan resminya.
Meskipun perusahaan memang berakar dari kawasan Bandulan, Kecamatan Sukun, Kota Malang, nama EMBA sejak awal dirancang sebagai merek mandiri yang tidak terikat dengan lokasi tertentu. Tujuannya, agar nama merek dapat diterima sebagai brand yang inklusif, baik untuk pasar lokal, regional, nasional, maupun global.
Mitos 3: Produk EMBA Hanya Celana Denim Pria
Tidak sedikit yang masih menganggap EMBA identik dengan satu produk: celana denim untuk laki-laki. Namun, faktanya, EMBA kini telah bertransformasi jauh melampaui identitas tersebut.
Dalam perkembangannya, perusahaan telah memiliki beberapa lini produk yang berada di bawah naungan EMBA Group. Masing-masing lini produk menyasar berbagai segmen pasar yang spesifik.
EMBA Classics & EMBA Denim menjadi lini utama pakaian pria kasual dan denim. EMBA Ladies hadir sebagai koleksi fashion khusus untuk segmen wanita modern. Twist Kids melayani segmen pakaian berkualitas tinggi untuk anak-anak. Sementara Morphidae dan Used1968 dengan karakter desain unik menyasar konsumen yang lebih spesifik.
Selain itu, EMBA Group kini juga menghadirkan lini Footwear EMBA untuk produk alas kaki kasual dan semi-formal, serta lini wewangian EMBA Perfume. (ova)










Balas
Lihat komentar