Malang, Blok-a.com – EMBA Group, salah satu pelopor industri fashion nasional yang lahir dari Kota Malang, telah menorehkan perjalanan panjang selama lebih dari lima dekade. Berawal dari usaha konveksi rumahan yang sederhana, brand ini kini telah tumbuh menjadi ekosistem multi-brand yang dikenal luas di seluruh Indonesia.
Kisah EMBA Group dimulai dari inisiatif usaha keluarga di Kota Malang pada tahun 1968. Pendiri perusahaan adalah sepasang suami istri, Bambang Herlambang dan Leonita Ikawati. Keduanya merintis langkah pertama dengan mengelola sebuah toko kain sederhana, bermodalkan tiga unit mesin jahit yang digunakan secara optimal.
Leonita Ikawati yang memiliki keahlian menjahit berkonsentrasi pada kualitas produk, sementara Bambang Herlambang dengan kemampuan pemasarannya bertugas menjangkau konsumen agar produk mereka dikenal luas.
Selama beberapa tahun, kepercayaan pelanggan terhadap produk jahitan mereka perlahan-lahan tumbuh. Jika awalnya pesanan hanya berasal dari sekitar lokasi usaha, konsumen dari kota-kota tetangga pun mulai berdatangan. Banjir pesanan ini membuat kapasitas produksi rumahan tidak lagi memadai.
Maka pada tahun 1972, pasangan ini memutuskan bekerja sama dengan beberapa rekan untuk mendirikan CV Bambang Brothers Combination (BBC). Pada fase ini, selain konveksi, perusahaan mengembangkan fokusnya untuk memproduksi pakaian formal seperti kemeja dan celana bahan guna memenuhi kebutuhan pasar lokal.
Transformasi ini menandai perubahan sistem kerja menjadi lebih terstruktur. Di mana identitas CV BBC mulai dikenal sebagai produsen pakaian berkualitas dengan harga terjangkau.
Lahirnya Brand EMBA (1982)
Memasuki tahun 1980-an, tren fashion bergeser ke arah kasual. Celana jeans menjadi tren di kalangan anak muda. Permintaan pasar terhadap denim sangat tinggi, namun produk yang tersedia saat itu mayoritas adalah barang impor dengan harga mahal.
Bambang Herlambang dengan jitu melihat kondisi tersebut sebagai peluang bisnis. Oleh karena itu, pada tahun 1982, CV BBC meluncurkan lini produk jeans dan pakaian kasual dengan merek yang diberi nama EMBA. Kelahiran merek baru ini merupakan respons strategis perusahaan terhadap perkembangan pasar modern dan department store yang mulai menjamur.

Nama EMBA dipilih sebagai identitas merek dagang yang orisinal dan modern, merepresentasikan nilai estetika perusahaan agar mudah diingat oleh pelanggan setia.
Penting untuk diketahui, nama EMBA bukanlah akronim dari nama kawasan tertentu. Manajemen EMBA Group menegaskan bahwa nama tersebut bukan singkatan dari “embong bandulan”.
“EMBA dipilih sebagai nama brand karena pertimbangan branding yang matang untuk pasar nasional. Bukan singkatan dari lokasi tertentu, melainkan identitas merek yang kami bangun dengan sepenuh hati,” tegas manajemen EMBA Group dalam keterangan resminya.
Berdirinya EMBA Group dengan Ekosistemnya
Memasuki dekade 1990-an, permintaan terhadap produk-produk yang dikelola grup terus melonjak dari Sabang sampai Merauke. Menyadari perlunya infrastruktur yang lebih kuat, pada tahun 1994 didirikanlah EMBA Group sebagai korporasi pusat yang menaungi seluruh merek yang dikelola.
Untuk mendukung operasional massal tersebut, perusahaan didukung oleh PT Kasih Karunia Sejati sebagai unit manufaktur dengan fasilitas pabrik modern dan sistem kontrol mutu yang ketat. Sejak saat itu, seluruh proses, mulai dari pemilihan bahan baku, desain pola, produksi, hingga distribusi, dikelola secara profesional dan terstandarisasi.
Kini, setelah lebih dari 56 tahun berdiri, EMBA Group telah berkembang menjadi grup perusahaan fashion dengan berbagai lini merek. EMBA Group saat ini menaungi berbagai merek dengan masing-masing memiliki positioning segmen yang jelas.
Di antaranya EMBA Classics & EMBA Denim sebagai lini utama fashion denim dan flagship selama puluhan tahun. EMBA Ladies sebagai koleksi fashion untuk wanita modern. Twist Kids untuk pakaian berkualitas premium anak-anak. Serta Used1968 dan Morphidae di lini fashion premium.
Terbaru, EMBA Group kini juga menaungi lini Footwear EMBA untuk produk alas kaki, dan EMBA Perfume di segmen wewangian. (ova)










Balas
Lihat komentar