Mall Ramai Tapi Sepi Pembeli, Pemerintah Santai Tanggapi Fenomena Rojali

Ilustrasi: kondisi salah satu pusat perbelanjaan/mal yang sepi di Jakarta (dok: wikimedia)
Ilustrasi: kondisi salah satu pusat perbelanjaan/mal yang sepi di Jakarta (dok: wikimedia)

Blok-a.com – Kembali mencuatnya istilah ‘Rojali’ atau ‘Rombongan Jarang Beli‘ yang mencerminkan pelemahan daya beli masyarakat, ternyata justru direspons dengan cukup santai oleh pemerintah. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menilai, tidak ada yang salah apabila konsumen datang ke toko fisik hanya untuk membandingkan harga atau mengecek kualitas barang sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli secara online.

Mendag menyebut kebiasaan masyarakat yang datang ke mal untuk sekadar melihat-lihat barang, namun kemudian berbelanja secara daring, adalah hal yang wajar. Menurutnya, hal itu mencerminkan kebebasan konsumen dalam menentukan preferensi belanja, di tengah persaingan sehat antara toko fisik dan platform digital.

“Ya, jadi kan kita bebas. Kita mau beli di offline, online kan bebas ya. Orang kan juga pasti mencari harga yang murah dengan kualitas yang bagus. Tapi kalau ternyata melihat di online juga bagus atau murah ya silakan saja pilih-pilih,” ujar Budi kepada awak media, Jumat (18/7/2025) dikutip dari CNBC.

“Karena begini, kalau di offline kan bisa ngeliat fisiknya. Jadi, mungkin ‘oh ini, kayaknya harganya segini’. Makanya sekarang salah satu cara yang juga dilakukan oleh online kan misalnya live shopping gitu kan. Orang maksudnya biar tidak perlu melihat secara fisik ke offline. Ya, namanya persaingan, persaingan offline dan online kan setara. Jadi silakan saja ngecek-ngecek ke toko offline. Tapi akhirnya bisa saja beli di online atau offline, itu kan pilihan saja ya,” tambahnya.

Fenomena ‘Rojali’ kembali menjadi sorotan usai laporan CNBC mengenai kondisi sejumlah mal di Jakarta. Dalam ungkapan tersebut, sejumlah mal di Jakarta memang terlihat padat, tetapi sebagian besar pengunjung hanya melihat-lihat tanpa melakukan pembelian signifikan.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja mengonfirmasinya dengan menunjukkan turunnya daya beli masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah.

“Kunjungan ke mal tumbuh, masyarakat datang ke mal, tapi yang terjadi perubahan pola belanja. Tren belanja utamanya yang kelas menengah ke bawah daya belinya belum pulih. Mereka beli produk yang harga satuannya kecil, tetap datang,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja.

Menurutnya, pembelian tetap ada, tetapi frekuensinya berkurang.

“Misal dia belanja baju baru sebulan 3-4x, sekarang 1-2x, dengan harga lebih rendah. Makan minum dan sebagainya tetap, tapi milih menu yang harganya lebih efisien, itu yang terjadi, secara kunjungan tetap tumbuh tapi pola belanja berubah,” lanjutnya.

Keberadaan fenomena Rojali didukung oleh data ekonomi yang menunjukkan perlambatan konsumsi masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), laju konsumsi sepanjang tiga bulan pertama tahun 2025 hanya mencapai 4,87 persen, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni sebesar 4,91 persen.

Cukup mengejutkan pula, karena perlambatan ini tetap terjadi meski ada efek Ramadan dan Lebaran pada periode tersebut. Seperti diketahui, momen Ramadan dan Lebaran biasanya ditandai dengan meningkatnya konsumsi masyarakat. (gni)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com