Muncul Lagi Fenomena Rojali, Mall Ramai Pengunjung Tapi Sepi Pembeli

Ilustrasi: gerai komersial di mal yang sepi pembeli
Ilustrasi: gerai komersial di mal yang sepi pembeli

Blok-a.com – Istilah “Rojali” atau ‘Rombongan Jarang Beli’, kembali mencuat sebagai fenomena mengkhawatirkan yang menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Para ekonom menilai tren masyarakat yang datang ke mal hanya untuk “cuci mata” tanpa berbelanja, ini mirip dengan situasi krisis ekonomi 2008.

Apa Itu Fenomena Rojali?

Istilah “Rojali” pertama kali populer setelah seorang pengusaha kafe, Agus Arya mengunggah video di media sosial, sekitar Juni 2024. Berisi curahan hatinya tentang ulah mahasiswa yang datang ke kafenya, hanya untuk menumpang tempat dan WiFi tanpa membeli apa-apa.

Video tersebut kemudian viral di media sosial dan memancing komentar netizen. Banyakelaku bisnis serupa yang merasakan hal yang sama. Agus menceritakan pengalamannya, di mana pernah ada sekitar 30 mahasiswa datang ke kafenya, tetapi hanya 10 orang yang memesan minuman. Bahkan pernah lebih parah, ada yang membawa botol dan meminta air mineral secara cuma-cuma.

Dari sinilah istilah “Rojali” sebagai singkatan dari “Rombongan Jarang Beli” mulai menyebar. Kemudian menjadi perhatian para ekonom karena mencerminkan kondisi daya beli masyarakat yang melemah.

Fenomena Rojali kini juga terlihat di pusat-pusat perbelanjaan besar. CNBC Indonesia melaporkan bagaimana mal-mal di kota besar seperti Jakarta kembali ramai pengunjung, tetapi tetap sepi pembeli. Banyak orang datang hanya untuk sekadar jalan-jalan, ngadem, atau mencari spot foto, tanpa atau hanya sedikit belanja.

Laporan tersebut bahkan menyebut mal yang sempat “bak kuburan” kini kembali diserbu, namun tetap saja banyak toko-toko yang sepi transaksi. Ini memperkuat dugaan bahwa daya beli masyarakat sedang melemah, meskipun mobilitas meningkat.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, memang tahun ini ada peningkatan jumlah kunjungan ke mal.

“Januari-Mei 2025 kunjungan naik 10-15% karena ada beberapa momen penting khususnya ada tahun baru, kemudian Imlek Chinese New Year dan bulan Ramadhan di Maret dan IdulFitri di April,” katanya, Selasa (15/7/2025).

Meski demikian, ia juga mengungkap bahwa banyak pengunjung, khususnya kalangan menengah ke bawah, masih belum sepenuhnya pulih secara finansial. Mereka tetap datang ke mal, namun lebih selektif dalam belanja.  Produk dengan harga satuan kecil atau kebutuhan pokok menjadi pilihan utama, bukan lagi barang-barang yang bersifat tersier.

Kondisi Mirip Krisis 2008

Keberadaan fenomena Rojali didukung oleh data ekonomi yang menunjukkan perlambatan konsumsi masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), laju konsumsi sepanjang tiga bulan pertama tahun 2025 hanya mencapai 4,87 persen, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni sebesar 4,91 persen.

Cukup mengejutkan pula, karena perlambatan ini tetap terjadi meski ada efek Ramadan dan Lebaran pada periode tersebut. Seperti diketahui, momen Ramadan dan Lebaran biasanya ditandai dengan meningkatnya konsumsi masyarakat.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengonfirmasi keberadaan fenomena Rojali, terutama dari sisi kelas menengah atas.

“‘Rojali’ ini memang kelihatan. Di mal-mal kan kita lihat,” ujar David dalam Bank Indonesia Editors Briefing 2025 di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Jumat (16/7/2025), melansir CNN.

“Orang Jakarta kalau ke mal biasanya makan saja, cari diskon, cafe yang diskon, apalagi sekarang ada e-commerce,” sambungnya.

Menurut David, kelompok menengah atas masih menahan konsumsi padahal kelompok tersebut menopang sekitar 70 persen konsumsi rumah tangga di Indonesia.

“Tercermin di big data, jadi di big data kalau kita lihat trennya sejak awal tahun sampai Juni belum bagus. Company sudah oke terutama di beberapa sektor. Tapi secara konsumen, terutama kelas menengah atas yang punya uang, mereka men-drive 70% konsumsi,” tutur David dalam acara yang sama.

Yang paling mengkhawatirkan, David mengungkapkan bahwa kondisi saat ini mengingatkan pada krisis ekonomi 2008 berdasarkan pengakuan para supplier produk mewah.

“Saya bertemu dengan beberapa supplier produk-produk luxurious, seperti tas, arloji, mereka merasakan (penurunan minat beli) mirip-mirip krisis 2008,” ujarnya.

Meski kondisi semester pertama 2025 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, David Sumual meyakini konsumsi pada semester II akan membaik.

“Pemerintah juga belanja dan memberikan stimulus. Saya pikir, kondisi (konsumsi) semester II akan berbeda jauh dengan semester I secara keseluruhan,” ujarnya. (gni)

 

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com