Kota Malang, blok-a.com – Politeknik Negeri Malang (Polinema) menggelar Rapat Terbuka Senat Polinema dengan tajuk penyampaian visi dan misi program kerja calon direktur periode 2025-2029.
Pemilihan calon direktur ini diikuti oleh empat calon yang sudah menyampaikan visi dan misi untuk membawa Polinema yang lebih baik sebagai salah satu kampus di Kota Malang.
Calon Direktur Polinema nomor urut 4, Mohamad Zenurianto, Dipl. Ing. HTL., MSc. menekankan pentingnya menjadikan Polinema sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga humanis dan adaptif terhadap perubahan zaman.
“Ini merupakan ajang untuk memberikan ide-ide terbaik bagi Polinema. Ya mestinya kami berharap yang terpilih itu kami, tapi ide itu juga bisa diserap siapapun nanti yang jadi direktur,” kata Zenurianto usai penyampaian visi dan misi, Rabu (6/8/2025).
Menurutnya, sejumlah tantangan ke depan harus dihadapi dengan cara-cara kolektif dan dialogis. Salah satunya adalah wacana perubahan status Polinema dari Badan Layanan Umum (BLU) menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH), atau bahkan menjadi Universitas Terapan (Applied University).
“Itu bukan sekadar wacana. Sudah banyak insight dari para guru besar dan senat. Kita harus berani mengambil tantangan, termasuk kemungkinan berubah menjadi Polinema University,” ucapnya.

Zenurianto juga menekankan pentingnya komunikasi dua arah antara pimpinan dengan sivitas akademika. Menurutnya, cara kepemimpinan yang terlalu kaku dan satu arah justru menghambat solusi.
“Komunikasi ala warungan itu penting. Kita ngobrol bareng, saling menghargai, dan menghormati. Dari situ solusi akan lebih mudah ditemukan,” ujarnya.
Dalam paparannya, Zenurianto juga merespons sejumlah masukan dari mahasiswa terkait keterlambatan pembangunan infrastruktur dan transparansi anggaran. Ia berjanji akan mengupayakan percepatan penyelesaian proyek mangkrak melalui dana internal atau mengajukan bantuan ke Kementerian PUPR.
“Mereka sudah bayar kuliah, wajar mereka menuntut. Kalau bisa kita selesaikan dengan dana Kementerian, maka anggaran internal bisa dialihkan ke kegiatan kemahasiswaan,” katanya.
Zenurianto juga menyinggung soal pengembangan tenaga kependidikan yang selama ini dinilai kurang mendapat perhatian. Ia ingin menumbuhkan budaya organisasi yang setara dan tidak memandang staf sebagai pihak kelas dua.
“Semua adalah keluarga besar yang punya visi sama, melayani mahasiswa dan menyiapkan mereka untuk dunia kerja. Tidak boleh ada sekat-sekat,” tegasnya.
Ia menekankan konsep kepemimpinan kolegial-kolektif sebagai fondasi penting dalam pengambilan keputusan.
“Direktur itu hanya tugas tambahan. Nanti kita semua kembali jadi dosen lagi. Kalau budaya humanis dan kerja kolektif sudah terbangun, siapapun pimpinannya akan dihargai,” ucapnya.
Menutup penyampaiannya, Zenurianto menegaskan bahwa program kerja 100 harinya bukan formalitas. Ia menyiapkan delapan agenda prioritas mulai dari penyelesaian infrastruktur, integrasi sistem kampus, hingga peningkatan kemitraan agar Polinema memiliki kemandirian anggaran.
“Itu bukan rancangan main-main. Itu jawaban dari masalah hari ini dan tantangan masa depan,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Pemilihan Ir. R.N. Akhsanu Takwim, ST., MT., menyampaikan, setelah penyampaian visi dan misi calon direktur, selanjutnya dilakukan penyaringan oleh Senat dalam rapat tertutup untuk menentukan tiga calon terpilih yang akan melaju ke tahap akhir.
Puncaknya, proses pemilihan Direktur Polinema akan dilaksanakan pada 10 September 2025 dalam rapat tertutup yang juga akan dihadiri perwakilan Kementerian.
“Panitia berharap seluruh tahapan dapat berjalan lancar, transparan, dan menghasilkan pemimpin terbaik bagi masa depan Polinema” jelasnya. (yog/bob)









