Wisata Tlogomas, Pengelolaan & Fasilitasnya Tak Lagi Menarik bagi Generasi Baru

Terlihat sejumlah pengunjung memanfaatkan kolam renang di Taman Rekreasi Tlogomas (foto: M. Naufal Abiyyu/Blok-a.com)
Terlihat sejumlah pengunjung memanfaatkan kolam renang di Taman Rekreasi Tlogomas (foto: M. Naufal Abiyyu/Blok-a.com)

Malang, Blok-a.com – Sebagai salah satu destinasi wisata tertua di Kota Malang, Taman Rekreasi Tlogomas kini menghadapi tantangan baru. Fasilitas yang menua, wahana yang tak lagi terawat, serta pengelolaan yang tidak sekuat dulu. Kombinasi tersebut membuat Tlogomas semakin kehilangan daya tarik di mata generasi baru yang kini terbiasa dengan wisata modern.

Fasilitas yang Menyusut dan Minim Perawatan

Isa, karyawan yang sudah bekerja selama 12 tahun, menyebut bahwa penurunan kualitas fasilitas mulai terasa ketika jumlah karyawan berkurang drastis. Hal ini berdampak langsung pada perawatan wahana yang sebelumnya menjadi kebanggaan Tlogomas.

Dulu jumlah pegawai mencapai 13–14 orang, namun sekarang hanya tinggal lima. Kondisi itu memaksa pengelola memprioritaskan perawatan pada satu fasilitas yang dianggap paling vital, yaitu kolam renang.

“Kalau pembaruan belum. Perawatan kita khususkan kolam dulu. Yang terpenting kolamnya bersih,” ungkapnya saat ditemui di Taman Rekreasi Tlogomas. Rabu (12/11).

Sementara itu, wahana lain yang dahulu menjadi daya tarik mulai tidak difungsikan atau tidak terawat. Kantin pun tidak selalu buka, terutama pada hari kerja seperti Senin hingga Rabu.

Tertinggal dari Wisata Modern

Ketiadaan pembaruan membuat Tlogomas kesulitan bersaing dengan destinasi wisata baru. Terutama yang menawarkan spot foto, wahana edukatif, hingga pengalaman hiburan yang lebih relevan dengan anak muda.

Isa menilai bahwa salah satu faktor Tlogomas kurang diminati adalah karena fasilitas sudah tidak lengkap lagi. Ia juga melihat bahwa generasi baru mungkin mencari pengalaman yang lebih bervariasi, bukan hanya berenang.

“Yang dicari orang sekarang cuma kolamnya,” ujarnya.

Karena itu, ia menyarankan perlunya penambahan wahana untuk kembali menarik minat pengunjung.

“Menambah wahananya, kayak yang edukasinya diperbarui. Intinya biar ramai kayak dulu, kayak bikin foto spot,” tambahnya.

Kondisi sejumlah spot di Taman Rekreasi Tlogomas yang kurang terawat (foto: M. Naufal Abiyyu/Blok-a.com)
Kondisi sejumlah spot di Taman Rekreasi Tlogomas yang kurang terawat (foto: M. Naufal Abiyyu/Blok-a.com)

Banyak Fasilitas Terbengkalai

Sudut pandang berbeda datang dari dua pengunjung lama, Lilik dan Titik, ibu-ibu dari generasi yang telah mengenal Tlogomas sejak puluhan tahun lalu. Mereka menyebut kondisi fasilitas saat ini memprihatinkan.

“Kalau sekarang fasilitas banyak yang terbengkalai, banyak yang nggak terurus,” ujar Lilik saat ditemui area kolam wisata Tlogomas, Rabu (12/11).

Jika dulu Tlogomas dikenal ramai dengan wahana lengkap dan kondisi yang terawat, kini mereka melihat banyak bagian wisata yang tidak lagi seperti dulu. Bahkan daya tarik ikon seperti “Tujuh Keajaiban Dunia” di area atas kini tak terurus.

“Kalau di atas itu dirawat dan diperbarui insyaallah bisa menarik pelanggan. Karena sekarang kalau ke Tlogomas cuma renang, bukan untuk rekreasi,” ungkap Titik.

Mereka juga menilai bahwa kurangnya perawatan membuat generasi baru lebih memilih wisata modern dengan banyak pilihan dalam satu tempat.

“Sekarang persaingan banyak. Apalagi di Batu itu kan bagus-bagus. Orang sekali ke Batu bisa ke banyak wisata,” tambahnya.

Promosi Ada, Tapi Tidak Cukup Mengangkat

Dari sisi manajemen, promosi masih dilakukan, namun tidak dalam bentuk kampanye besar atau inovatif. Isa menyebut bahwa kerja sama dilakukan dengan sekolah atau lembaga tertentu.

“Kalau promosi kita kerjasama dengan sekolah, kayak bikin potongan harga tiket masuk,” ujar Bu Isa.

Langkah ini memang membantu menghadirkan lebih banyak pengunjung kelompok, tetapi belum cukup untuk mengembalikan citra Tlogomas sebagai tempat wisata keluarga yang lengkap.

Baik pengelola maupun pengunjung lama sepakat bahwa Tlogomas perlu memperbarui fasilitas dan melakukan revitalisasi agar kembali diminati. Dalam pandangan Lilik, promosi dan kerja sama sekolah adalah langkah awal yang baik, namun revitalisasi tetap menjadi kunci.

“Menurut saya dengan adanya kerja sama dengan sekolah-sekolah dan adanya promo sudah bagus untuk bikin ramai. Tapi fasilitasnya tetap harus dibenahi,” katanya. (mg2/gni)

Penulis: Muhammad Naufal Abiyyu (mahasiswa magang UTM Bangkalan)