Kota Malang, blok-a.com – Signage Kayutangan Heritage yang sempat rusak karena dijadikan alas bermain mercon oleh seorang pemuda, kini sudah diperbaiki, hari Rabu (17/4/2024).
Signage tersebut rusak di bagian huruf T yang pecah, hingga menampakkan kerangka susunan lampu LED di dalamnya.
Alasan perbaikan baru dapat dilaksanakan seminggu setelah kejadian, adalah karena hari aktif baru dimulai pada hari Selasa (16/4/2024) lalu.
“Kejadiannya saat itu pas hari raya, dan sampai beberapa hari kemarin semua toko perlengkapan masih belum buka. Sekarang sudah mulai aktif lagi,” terang Kabid Ruang Terbuka Hijau Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Laode KB Al Fitra.
Momen perusakan itu terjadi tepat usai salat ied pada hari Rabu minggu lalu (10/4/2024), beruntungnya terekam oleh CCTV.
Video kejadian pun sempat diunggah oleh akun Instagram resmi DLH Kota Malang @dlhkotamalang, dan menjadi viral.
Berkat video tersebut, pelaku yang merupakan seorang anak di bawah umur cepat ditemukan dan saat ini sudah ditangani oleh pihak kepolisian.
“Identitas remaja ini berinisial R warga Kelurahan Oro-oro Dowo Kecamatan Klojen Kota Malang,” terang Kapolsek Klojen Kompol Syabain Rahmad Kusriyanto.
Diketahui signage Kayutangan Heritage tersebut adalah bagian dari proyek renovasi taman bundaran Rajabali dengan nilai proyek sekitar Rp180 juta.
Sebelumnya, signage ini sempat menimbulkan kontroversi karena dinilai mirip dengan signage kedai bubur Kayungyun. Sebutan Kayungyung Heritage pun sempat menjadi pembicaraan ramai di media sosial.
Namun, ternyata masyarakat Kota Malang masih menunjukkan rasa sayangnya ke signage tersebut saat mengetahui signage itu dirusak.
Video unggahan Instagram DLH Kota Malang terkait kejadian tersebut turut mengundang komentar netizen, di antaranya menyayangkan aksi perusakan itu.
Contohnya komentar dari akun Instagram @hari.ani.3323457 yang mengatakan, “Ini merupakan salah satu bentuk vandalisme yang tidak bisa dibiarkan. Harus ada efek jera bagi pelakunya.”
Atau komentar lain dari @gangsar_secondhand yang mengatakan, “Dikei fasilitas apik ga dirumat malah dirusak. Ngko lek ono elek e nyalahno pemerintah e. Ooo nggladik tanganmu (Dikasih fasilitas bagus tidak dirawat malah dirusak. Nanti kalau ada jeleknya menyalahkan pemerintah. Ooo lancang tanganmu.”









