Banyuwangi blok-a.com – Jemaah Haji Banyuwangi yang menjalani ibadah haji di Tanah Suci, sejak hari Jum’at (14/6/2024) secara bertahap dari Makkah menuju Arafah untuk menjalani Wukuf pada Sabtu (15/6/2024).
Masa puncak haji dimulai dari tanggal 14 Juni 2024 (8 Dzulhijjah 1445) hingga tanggal 19 Juni 2024 (13 Dzulhijjah 1445).
Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Genteng, sekaligus Pembimbing Ibadah Kloter 57, H. Saeroji, saat wawancara dengan salah satu Stasiun Radio FM di Banyuwangi menyampaikan, Jemaah Haji dari berbagai negara di dunia hari ini berangkat dari Makkah menuju ke Arafah atau menjalani wukuf di Padang Arofah.
“Jamaah Haji Indonesia termasuk kloter SUB 57, 58, 59 dan 60, dari Kabupaten Banyuwangi, sudah menuju arafah untuk mengikuti acara puncak Haji, yakni menjalani Wukuf di padang Arofah hari ini,” terang H. Saeroji.
Perlu diketahui, dari data yang diperoleh blok-a.com dari berbagai sumber, Prosesi wukuf dimulai saat matahari tergelincir hingga jelang terbenam.
Setelah mendengar khutbah wukuf serta melaksanakan salat Zuhur dan Asar secara jamak taqdim, semua jemaah mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai ritual yang bisa mereka jalankan, mulai dari zikir, salawat, serta bermunajat.
Momen ini begitu sakral. Sebab, di fase inilah, para jemaah haji diajak untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta di waktu dan tempat yang sangat mustajab.
Sementara itu, pembimbing ibadah (PPIH) Arab Saudi Daker Madinah, H. Aswadi, di Arafah menjelaskan, Prosesi ini yang disebut sebagai inti haji “Sebab, Al Hajju Arafah. Haji itu Arafah”.
Menurut guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya asal Gresik itu, apa saja keutamaan wukuf tak lepas dari makna yang begitu mendalam dari prosesi ini?
Pertama, wukuf adalah sebuah simbol kebulatan tekad manusia untuk menghentikan semua keburukan yang pernah dia buat agar jangan dilakukan lagi. Juga sebagai momen mengabadikan nilai kebaikan sehingga menjadikannya bibit yang berkembang.
“Ibarat tanah yang subur lalu ditanami hal-hal yang baik. Sehingga menjadikan manusia menjadi lebih baik,” paparnya.
Makna kedua, wukuf terletak pada waktu pelaksanannya yang dimulai pada ba’da zawal atau setelah matahari mulai tergelincir.
“Ini memiliki makna bawa sinar matahari ibarat mata hati kita yang berusaha untuk menghilangkan semua keburukan, serta selalu menumbuhkan hal-hal baik demi selalu bisa mendekat kepada Sang Pencipta,” bebernya
“Bagaikan matahari yang tengah condong dan mendekat pada kebaikannya, kecondongan untuk selalu mendekat,” imbuhnya.
Jika itu terwujud, tujuan utama wukuf sebagiai puncak kesadaran untuk selalu berbuat kebajikan. Baik untuk diri agar bertakwa, untuk sesama, dan alam semesta.
Demi kesempurnaan wukuf, selain mendekatkan diri kepada Sang Khalik, jamaah juga tak boleh melakukan larangan wukuf.
“Seperti memotong tanaman di Arafah, menyiksa hewan dan lainnya. Ini sebagai latihan agar kesadaran diri terbentuk dari dalam tubuh,” pungkas H. Aswadi. (kur/bob)










Balas