Hujan Mulai Turun Tapi Tak Merata, Desa Alami Kekeringan di Malang Bertambah

Situasi kekeringan ladang persawahan di Kabupaten Malang. (blok-a.com/Putu Ayu Pratama S)
Situasi kekeringan ladang persawahan di Kabupaten Malang. (blok-a.com/Putu Ayu Pratama S)

Kabupaten Malang, Blok-a.com– Meskipun hujan sudah melanda sebagian wilayah Kabupaten Malang, namun bencana kekeringan masih terjadi. Bahkan seiring berjalannya waktu, luas wilayahnya kian bertambah.

Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, hingga Senin (24/10/2023) kemarin, terdapat 12 desa yang tersebar di empat kecamatan mengalami bencana kekeringan.

Sebanyak 12 desa yang alami kekerungan di Kabupaten Malang tersebut salah satunya ada di  di Kecamatan Jabung, yakni Desa Jabung dan Kemiri Krajan. Selanjutnya ada di Kecamatan Singosari, yakni Desa Klampok.

Selanjutnya, di Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Desa Sumawe, Desa Kedungbanteng, Desa Sumberagung, Desa Ringisari, Desa Sitiarjo. Serta di Kecamatan Kalipare, di Desa Putukrejo, Desa Kalipare, Desa Kalirejo dan Desa Sumberpetung.

Data tersebut mengalami kenaikan dari sebelumnya. Pada Minggu (15/10/2023) kekeringan hanya terjadi di sembilan desa yang tersebar di tiga kecamatan.

Meluasnya wilayah kekeringan tersebut, membuat BPBD Kabupaten Malang terus melakukan droping air untuk memenuhi kebutuhan masyrakat yang terdapak.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan mengatakan, sejak 1 September hingga Senin (24/10) kemarin, ribuan liter air sudah didistribusikan di 12 desa yang terdampak.

“Sejak satu September sampai Senin (24/10) kemarin, pencapaian sebenyak 3.205.100 liter air yang sudah yang sudah didistribusikan,” ujar Sadono kepada Blok-a.com, Selasa (24/10/2023).

Dikatakan Sadono, droping akan terus dilakukan oleh BPBD Kabupaten Malang hingga tanggap darurat kekeringan tuntas alias tidak ada desa yang mengajukan permintaan droping air.

“Hujan belum menerus, hanya beberapa kali di Jabung lainnya nihil. Karena walaupun hujan juga belum tentu secepatnya bisa menjadi resapan air,” jelasnya.

Diakhir, BPBD juga mengimbau agar masyarakat yang terdampak dapat bijak memanfaatkan air bersih dengan berhemat. Sebab, suplai air tidak bisa disamakan dengan kebutuhan penggunaan masa normal.

“Selain itu untuk jangka panjang warga diharapkan mencegah penebangan hutan sembarangan untuk menjaga sumber air. Sejumlah desa sudah mulai memerluka pipanisasi untuk penyaluran dari sumber PDAM karena debit berkurang,” pungkasnya. (ptu/bob)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?