6 Fakta Kecelakaan Maut Bus SMK Lingga Kencana, Kronologi – Penjelasan Sopir

Bus Trans Putera Fajar yang alami kecelakaan di Ciater, Subang, Jawa Barat (foto: Kementerian Perhubungan Ditjen Hubdat)

Blok-a.com – Kecelakaan bus rombongan pelajar dan guru SMK Lingga Kencana Depok di Ciater, Subang, Jawa Barat yang menewaskan 11 orang, hingga kini masih menjadi perhatian publik.

Kecelakaan tersebut terjadi pada Sabtu (11/5/2024) sekitar pukul 18.45 WIB. Saat itu, rombongan SMK Lingga Kencana hendak kembali ke Depok seusai acara perpisahan.

Dirangkum Blok-a.com, Senin (13/5/2024), berikut deretan fakta terkait insiden kecelakaan maut yang menimpa rombongan pelajar dan guru SMK Lingga Kencana.

1. Kronologi Kejadian

Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Jules Abraham Abast, menjelaskan awalnya bus Trans Putera Fajar mengalami oleng ke kanan saat melintasi jalanan menurun.

Kemudian, bus tersebut bertabrakan dengan mobil Feroza yang datang dari arah berlawanan. Akibatnya, bus terguling miring ke kiri dan kemudian tergelincir, menabrak tiga motor yang terparkir di bahu jalan.

“Kendaraan bus terhenti setelah menabrak tiang yang ada di bahu jalan arah Subang menuju Bandung tepat di depan Masjid As Saadah,” kata Jules dalam sebuah keterangan resmi.

Total ada sebanyak lima kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan yakni satu bus, tiga sepeda motor dan satu mobil.

2. Dugaan Penyebab

Menurut Dirlantas Polda Jawa Barat Kombes Wibowo, kecelakaan maut ini diduga diakibatkan oleh rem blong.

“Berdasarkan keterangan sementara tadi juga saya sempat tanya beberapa korban yang selamat memang menyatakan seperti rem blong,” kata Wibowo.

Meski demikian, penyebab tersebut masih merupakan dugaan awal. Polisi masih melakukan penyelidikan dan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk memastikan penyebab tersebut.

3. Jumlah Korban

Kecelakaan maut ini diketahui merenggut 11 korban jiwa. Dari jumlah tersebut, 10 korban merupakan pelajar dan guru, sementara satu korban lainnya adalah pengendara sepeda motor yang tercatat sebagai warga Cibogo, Subang.

Selain memakan korban jiwa, insiden ini juga mengakibatkan 12 orang mengalami luka berat dan 19 lainnya mengalami luka ringan.

4. Bus Tak Punya Izin Angkut

Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata bus yang mengalami kecelakaan tidak memiliki izin angkutan. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Bagian Hukum dan Humas Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Aznal.

“Adapun pada aplikasi Mitra Darat, bus tersebut tercatat tidak memiliki izin angkutan,” kata Aznal.

Tidak hanya itu, berdasarkan hasil pengecekan pada aplikasi Mitra Darat, status uji berkala dari bus bernopol AD 7524 OG itu telah kadaluwarsa sejak Desember 2023.

5. Sopir Bus Minta Maaf

Atas kejadian ini, sopir bus, Sadira menyampaikan permohonan maafnya kepada keluarga korban, baik korban meninggal maupun luka berat atau ringan.

“Keluarga-keluarganya (korban) saya mohon maaf sebesar besarnya, karena kejadian ini semua tidak ada yang mau, karena ini namanya musibah. Maafkan saya, telah tidak ada keluarganya pada saat saya bawa, yang luka berat, atau ringan, atau meninggal saya mohon maaf sebesar besarnya,” kata Sadira.

Sadira juga mengakui bahwa rem memang sempat rusak saat istirahat siang hari. Namun pada saat itu langsung ia perbaiki dengan memanggil montir. Nahas pada malam harinya, rem kembali blong hingga kecelakaan tak dapat dihindarkan.

“Tapi sayang, tiba-tiba rem tersebut blong saat masuk turunan pertigaan Sariater, hingga akhirnya terjadi kecelakaan maut ini,” imbuhnya.

6. Pemkot Evaluasi Perpisahan Sekolah

Buntut dari kecelakaan maut ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok akan mengevaluasi kegiatan perpisahan sekolah atau study tour guna menghindari tragedi serupa ke depannya.

“Ini akan ada evaluasi besar-besaran ya. Karena ini kasusnya SMA/SMK, ini di bawah KCD (Kantor Cabang Dinas), Provinsi Jawa Barat. Kami akan koordinasi dengan Jawa Barat,” ujar Wakil Wali Kota Depok Imam Budi Hartono

Tak hanya di tingkat SMA/SMK, evaluasi ini kemungkinan juga dilakukan pada jenjang SD dan SMP. Meski demikian, Imam belum bisa memastikan kapan evaluasi itu bakal berlangsung karena masih fokus terhadap penanganan korban.

“Dan mungkin juga nanti di tingkat SMP atau SD juga nanti akan ada evaluasi,” sambungnya. (hen)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com