Blitar, blok-a.com – Krisis pendidikan di Blitar kian mengkhawatirkan dengan meningkatnya angka anak putus sekolah yang berujung pada keterlibatan mereka dalam aksi kerusuhan dan tindakan anarkis.
Hal ini terlihat, sebagian besar (80 persen) anak-anak usia sekolah terlibat langsung dalam kerusuhan, penyerangan Makopolres Blitar Kota dan pembakaran Gedung DPRD Kabupaten Blitar, Sabtu (30/8/2025) malam hingga Minggu (31/8/2025) dini hari lalu.
Kepala Sekolah Kelas Bung Karno, Joko Pramono mengatakan, bahwa kondisi ini merupakan darurat pendidikan kebangsaan yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah, pelaku pendidikan, dan masyarakat luas.
Menurut Joko, tingginya angka putus sekolah mencerminkan tantangan lebih dalam, yaitu kegagalan dalam membangun karakter kebangsaan di kalangan generasi muda.
“Anak-anak yang putus sekolah rentan terjerumus ke dalam perilaku negatif, seperti kerusuhan dan tindakan anarkis, karena kurangnya pendidikan karakter dan kesadaran kebangsaan,” tandasnya.
Sebagai upaya untuk mengatasi krisis ini, Joko mengusulkan penguatan pendidikan karakter melalui program “Nation and Character Building”. Program yang digagas melalui Kelas Bung Karno ini bertujuan menanamkan nilai-nilai nasionalisme, seperti cinta tanah air dan tanggung jawab sosial, melalui kegiatan edukatif dan interaktif.
“Kami ingin anak-anak, baik yang masih bersekolah maupun yang putus sekolah, memahami identitas dan tanggung jawab mereka sebagai warga negara,” jelasnya.
Lebih lanjut Joko menilai, kehadiran Satuan Pendidikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) penting dalam menyelamatkan anak-anak yang tidak dapat melanjutkan pendidikan formal.
“PKBM adalah jembatan untuk mengembalikan anak-anak putus sekolah ke jalur pendidikan yang produktif. Kami menawarkan pendidikan alternatif yang fleksibel,” ujarnya.
Joko mengajak pemerintah daerah untuk memperkuat PKBM dengan kurikulum kebangsaan yang relevan.
Joko menambahkan, bahwa nilai-nilai nasionalisme yang diajarkan oleh Bung Karno harus menjadi fondasi untuk membentuk generasi yang berintegritas.
“Pendidikan karakter ala Bung Karno menanamkan semangat cinta tanah air dan anti-kekerasan, yang penting untuk mencegah pelajar terlibat dalam tindakan anarkis,” tambahnya.
Dengan situasi yang semakin mendesak, Joko menegaskan perlunya kerja sama lintas sektor. Ia mengajak pemerintah Kota dan Kabupaten Blitar, sekolah, serta masyarakat untuk bersama-sama membangun sistem pendidikan yang inklusif.
“Jika kita tidak bertindak sekarang, masa depan generasi muda Blitar dan bangsa ini akan semakin terancam. Dengan semangat gotong royong, kita harus bangkit dari darurat pendidikan kebangsaan ini,” pungkasnya. (jar/lio)










Balas