Gresik, Blok-a.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik memastikan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Anak Tahun 2026 bukan sekadar forum seremonial. Forum ini ditegaskan sebagai ruang partisipasi bermakna yang akan melahirkan program nyata bagi anak.
Kegiatan yang digelar di Kantor Bupati Gresik pada 12-13 Februari 2026 itu diikuti 50 anak perwakilan dari 18 kecamatan se-Kabupaten Gresik.
Sejak hari pertama, peserta dibekali pemahaman mengenai mekanisme perencanaan pembangunan daerah.
Materi disampaikan Naily Itqiana dari Bappeda Kabupaten Gresik, Christina Setianingrum selaku Mitra Muda UNICEF, serta Raditya, Fasilitator Forum Anak Jawa Timur.
Diskusi dipandu Arif Priyanto dari Lembaga Perlindungan Anak Kabupaten Gresik dan Agika Rahma Putri, Fasilitator Forum Anak Kabupaten Gresik.
Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif menerangkan kehadiran anak-anak dalam forum tersebut membawa tanggung jawab besar.
“Hari ini kalian hadir sebagai perwakilan dari 18 kecamatan. Itu bukan hal kecil. Suara kalian mewakili ribuan anak di kecamatan masing-masing. Maka kesempatan ini harus dimanfaatkan secara maksimal,” kata Alif.
Ia menjelaskan sistem perencanaan pembangunan di Kabupaten Gresik berbasis dari bawah melalui Musrenbang. Karena itu, hasil Musrenbang Anak akan dikawal agar masuk dalam dokumen perencanaan daerah.
Namun Alif mengingatkan agar usulan tidak berhenti pada tema besar semata.
“Jangan hanya berhenti pada tema seperti menurunkan kenakalan anak. Yang kami butuhkan adalah programnya apa, kegiatannya seperti apa. Apa yang kalian sepakati harus jelas, terukur, dan bisa langsung ditindaklanjuti,” ujarnya.
Menurutnya, Musrenbang Anak 2026 harus berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Anak-anak tidak hanya diundang untuk berbicara, tetapi benar-benar merumuskan gagasan yang akan diperjuangkan hingga masuk APBD.
Ia juga mendorong forum anak di tingkat kecamatan aktif menjaring aspirasi ke sekolah-sekolah sebelum Musrenbang tingkat kabupaten.
“Kebutuhan anak di Pulau Bawean, tentu berbeda dengan wilayah daratan seperti Panceng, Kebomas, maupun Balongpanggang sehingga program harus kontekstual,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas KBPPPA Kabupaten Gresik Titik Ernawati menjelaskan Musrenbang Anak dilaksanakan selama dua hari. Pada hari pertama, peserta mempelajari alur penyaluran aspirasi melalui dokumen perencanaan daerah, termasuk RPJMD.
“Usulan yang masuk sangat banyak. Hari ini kita menyaring dan menentukan skala prioritasnya untuk dibacakan dalam Musrenbang Kabupaten bulan Maret mendatang sebagai bagian dari perencanaan tahun 2027,” ujar Titik.
Ia menyebut sejumlah aspirasi anak tahun sebelumnya telah direalisasikan Pemkab Gresik, diantaranya penguatan ruang bermain ramah anak, pengembangan sekolah ramah anak, pengaturan jam operasional truk demi keselamatan anak, dukungan transportasi ramah anak melalui Trans Jatim, penguatan Universal Health Coverage (UHC), penerbitan Peraturan Bupati tentang pencegahan perkawinan anak, hingga inovasi layanan “Hatiku Padamu” bagi anak penyandang disabilitas.
“Ini menunjukkan bahwa suara anak benar-benar didengar dan ditindaklanjuti. Musrenbang Anak adalah bagian nyata dari perencanaan pembangunan daerah yang ramah anak,” katanya.
Antusiasme peserta juga terlihat dari Ricky Ardiansyah (12), siswa kelas 6 SD NU 1 Trate dari perwakilan Kecamatan Gresik. Ia mengaku bersemangat mengikuti kegiatan selama dua hari tersebut.
Menurut Ricky, Ia mendapat banyak ilmu salah satunya bagaimana mekanisme penyampaian aspirasi kepada pemerintah daerah.
Ia berharap aspirasi yang telah disampaikan, khususnya di bidang kesehatan dasar dan kesejahteraan anak sesuai Klaster 3 yang diamanahkan kepadanya, bisa segera ditindaklanjuti. (Ivn/gni)









Balas
Lihat komentar