Hidup itu Perkara Berkorban dan Berubah

Hidup itu selalu berubah. Baik tinggal di jaman es atau manusia purba atau jaman serba digital saat ini.
Rumusnya tetap sama. Siapa yang bisa berubah menyesuaikan waktu dan keadaan saat itu dialah yang bertahan.

Namun, jika orang tetap bertahan denga keadaannya saat ini, jawabannya sudah pasti. Dia akan punah atau kalah.

Setiap perubahan sendiri perlu ada usaha. Tidak jarang pula, perubahan itu musti perlu pengorbanan.
Pengorbanan yang tidak tahu mendapatkan hal baik atau tidak. Nabi Ibrahim AS tidak tahu pengorbanannya menyembilih Nabi Ismail AS akan berkelanjutan seperti apa. Tapi Nabi Ibrahim tetap melakukannya. Semua demi berkorban.

Tapi semesta itu maha adil, barang siapa yang berubah, entah pengorbanannya seperti apa pasti akan mendapat hal yang baik.

Denny Caknan adalah contoh sosok yang menangkap perubahan itu. Dia dulunya adalah tukang sapu Dinas Lingkungan Hidup (DLH) di Ngawi.

Namanya tidak mentereng seperti saat ini. Pagi nyapu, sampai sore juga nyapu terus pulang. Tapi dia tahu akan perubahan itu penting.
Dicobalah menjadi musisi. Tujuannya apa? untuk merubah nasib.

Awalnya dia menyanyikan lagu pop. Tiga sampai empat lagu dia nyanyikan dan dia produksi di genre itu. Namun nahasnya uang Rp 650 ribu untuk produksi lagu itu gagal di pasaran.

Jika saja dia menyerah dan tidak mencoba perubahan mungkin Kartonyono Medot Janji atau Satru tidak akan terdengar seantero pecinta dangdut.

Namun dia berkorban. Dia merubah nasibnya. Lagu bergenre pop dia tinggalkan. Dangdut dia pilih sebagai genre lagu-lagunya.

Kartonyono Medot Janji dia telurkan sebagai lagu ciptaanya beberapa tahun lalu di channel Youtubenya. Meledaklah lagu itu. Tapi tidak semasif sekarang.

Beberapa orang sudah mulai mengenal Denny. Denny mulai diajak foto oleh sejumlah orang. Dia pun akhrnya berani banting setir lagi. Dia korbankan kerjaanya menemani sampah dan pohon untuk fokus musik.

Awalnya tidaklah langsung sukses. Pengorbanan Denny seperti tidak ada hasil. Minggu-minggu tidak ada job manggung.
Namun dia tetap bersabar. Saya tidak tahu persis apakah dia percaya perubahan atau pengorbanan, tapi akhirnya job manggung mulai muncul hingga saat ini.

Dia pun kini sudah mulai menuai bibit yang dia tanam. Atas perubahan dan pengorbanan yang dia buat. Semua lagunya didengarkan masyarakat. Konsernya dihadiri ribuan penonton dan bahkan paduan suara penonton selalu membuat merinding di tempat konsernya.

Hidup memang tidak ada yang tahu. Sukses atau tidak adalah suatu misteri. Tapi yang pasti adalah perubahan dan pengorbanan itu diperlukan untuk hidup.

JIka saja dulu perang dunia satu dan perang dunia dua, para petinggi negara tidak berkorban untuk berdamai. Tidak mengorbankan egonya untuk kebaikan perdamaian dunia. Mungkin sudah hancur dunia ini. Atau mungkin kita akan hidup dalam dentuman bom atau kerasnya suara senjata api.

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com

Redaktur pelaksana sekaligus Jurnalis blok-a.com yang memfokuskan liputan pada isu sosial, politik, dan peristiwa terkini di Malang Raya.