Hidup itu Adalah Pilihan: Berjuang, Menggerutu, atau Bersyukur

Ilustrasi cegah depresi (sumber: freepik)
Ilustrasi cegah depresi (sumber: freepik)

Hidup itu adalah pilihan. Ada yang memilih untuk berjuang ada yang memilih menggerutu dan ada yang memilih neriman alias bersyukur.

Pilihan pertama itu adalah bagi yang kuat. Mereka biasanya yang memilih si berjuang adalah mereka siap melakukan sesuatu yang melelahkan walau sesuatu itu menurutnya salah.

Sesuatu yang salah itu dilakukannya terus menerus. Tanpa ada protes, tanpa ada berpikir keuntungan buat dirinya. Semuanya dilakukan untuk satu hal, perjuangan tidak mengkhianati hasil.

Penulis pernah berada di posisi ini. Penulis pernah mengikuti perusahaan yang atasannya selalu memerintahkan hal yang menurut penulis tidak benar.

Tidak benar di sini menurut penulis adalah usaha penulis tidak sepadan dengan apa yang penulis dapat.

Hampir satu tahun lebih penulis digaji Rp 1,7  juta dimana upah minimum di kota penulis adalah Rp 2,9 juta.

Namun usaha menggapai uang tersebut ialah penulis harus siap 24 jam selama 7 hari alias satu minggu. Penulis harus siap berangkat kemanapun.

Jaraknya 60  kilometer dari rumah jam 19.00 petang, penulis harus ke sana. Tidak ada jawaban tidak. Tidak ada jawaban menolak. Harus dikerjakan penulis.

Kadang pun penulis juga kesal. Sebab usaha penulis untuk ke lokasi tidak dihargai. Tidak dihargai karena hasil karya atau artikel penulis kala itu tidak dimuat. Artinya itu tidak bayaran.

Kejadian itu bukan sekali atau dua kali. Penulis mendapati hal tersebut berulang kali. Namun penulis tidak mengeluh ke siapapun.

Penulis mencoba memperbaiki diri. Penulis tidak pernah mengeluh dan minta ke perusahaan agar mengerti.

Hal ini berbuah hasil.  Hasilnya penulis mengerti celah dari perusahaan itu sendiri dan keberhasilan didapat. iPhone yang tidak diharapkan, jadi kebeli oleh penulis.

Pilihan kedua si penggerutu itu adalah bagian mereka yang memang hanya kesal dengan keadaan, tanpa mengoreksi diri sendiri.

Mereka atau si penggerutu ini biasanya melihat dunia sebagai apa yang harus dituntut. Mereka melihat dunia seakan-akan harus adil terhadap dirinya.

Namun adil di sini adalah menurut mereka saja. Mereka seolah-olah sudah berbuat semua. Seolah-olah sudah berjuang mati-matian.

Padahal yang terjadi sebaliknya. Tidak ada sama sekali usahanya mampu diterima dunia atau belum cocok di dunia si penggerutu berada.

Namun alih-alih energinya dipergunakan untuk mengembangkan diri di tengah ketidakadilan, si penggerutu memilih untuk menghabiskan energinya untuk melawan ketidakadilan menurutnya. Untuk menggerutu saja tanpa memperbaiki diri. Hingga akhirnya yang ada ya dia akan bernasib gerutu saja.

Penulis juga pernah mengalami hal demikian. Penulis dulu waktu kecil ingin Playstasion atau PS.

Namun ibu penulis waktu itu tidak punya uang atau tidak menjadikan PS sebagai prioritas untuk hal yang harus dibeli.

Namun ibu penulis sempat bilang kalau penulis mau PS harus menabung. Uang jajan penulis harus dipotong 50 persen.

Penulis pun alih-alih mencoba atau berusaha tirakat untuk hemat, penulis malah memprotes langsung

Penulis hanya menggerutu ke ibu penulis. Menurut penulis waktu kecil, dunia tidak adil sama sekali. Sebab, teman penulis dibelikan PS.

Hingga akhirnya penulis tidak mampu mencoba berhemat, dan hanya merengek sambil meminta uang ibu terus untuk ke rental PS.

Hasilnya ya hingga dewasa ini PS itu tidak datang. Ibu tidak pernah membelikan PS.

Ketiga adalah si bersyukur. Si bersyukur ini paling enak dan penulis ingin menjadi seorang yang mudah bersyukur.

Nasib apapun yang diterima penulis entah jomblo atau kerjaan yang menyebalkan, penulis ingin menyukuri itu. Menikmati hidup yang ada dan takdir yang ditetapkan untuk penulis.

Si bersyukur ini orangnya adalah seadil-adilnya orang. Dia bisa tidak menggerutu sekaligus juga tidak berusaha.

Contoh, si A ini adalah orang pemalas dan tidak mau belajar dan tidak mau rugi dan, tidak mau diatur oleh dunia. Padahal dia bukan siapa-siapa dan belum melakukan apa-apa.

Lantas dunia menjadikan A yang penuh kesusahan. Ngopi di kafe pun tidak bisa. Padahal ngopi di kafe adalah hal yang diinginkan A. Beli baju baru atau sepatu baru yang diinginkan oleh A tidak bisa juga dibeli.

Alih-alih menggerutu, A ini malah nerima nasib itu. Dia mengetahui posisinya. Ya akhirnya A berpikir ya wajar tidak bisa menggapai impiannya karena ya tidak usaha dan memperbaiki diri

Akhirnya A ini berpikir, menerima nasib itu. A mengubah mindset. Tidak lagi kafe yang membahagiakannya tapi hanya segelas air putih sudah membuat bahagia. Bukan baju baru yang membuat dia bahagia, tapi hanya mencuci baju dan melihat bajunya bersih sudah menyejukkan hati dan pikirannya.

Nah penulis pun mencoba ikhtiar menjadi si A ini. Penulis mencoba memilih menjadi kelompok orang yang bersyukur.

Penulis opini: Bob Bimantara Leander

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?