Kota Malang, blok-a.com – Aksi Hari Tani yang digelar Aliansi Mahasiswa Resah Brawijaya (Amarah Brawijaya) di depan Gedung DPRD Kota Malang, Kamis (24/9/2026), diwarnai pertunjukan teatrikal. Teatrikal bertajuk Liturgi Menjelaga itu dibawakan Teater Kertas Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (FH UB) dengan mengangkat kisah hutan Kalimantan dan dampak kebakaran hutan.
Sutradara Pertunjukan Liturgi Menjelaga, Abigail mengatakan, pemilihan sudut pandang hantu digunakan untuk menggambarkan kemarahan makhluk yang terdampak akibat kerusakan hutan. Dampak tersebut, kata dia, juga dirasakan setiap makhluk seperti manusia, hewan, hingga makhluk ghaib yang mereka anggap sebagai penghuni lain di hutan.
“Ini monolog teatrikal khusus untuk Hari Tani, yang mengangkat tema karhutla atau kebakaran hutan di Kalimantan. Kami mengambil POV atau sudut pandang dari hantu-hantu yang ada di hutan Kalimantan itu sendiri yang kehilangan tempat tinggal karena keserakahan para pemangku kekuasaan yang membakar hutan itu sendiri,” ujarnya saat ditemui di lokasi aksi.
Pertunjukan tersebut melibatkan lima orang yang memerankan sosok hantu yang telah lama hidup di kawasan hutan Kalimantan. Dalam teatrikal itu, para pemeran menggambarkan kehilangan tempat tinggal setelah hutan yang menjadi ruang hidup mereka terbakar.
“Jadi ketika hutannya dibakar mereka marah karena kehilangan tempat tinggal itu. Apalagi makhluk yang tidak hidup saja itu merasa terdampak, apalagi makhluk hidup seperti hewan-hewan,” kata Abigail.
Menurut Abigail, pertunjukan tersebut juga menjadi cara Teater Kertas menyampaikan kritik secara simbolik terhadap persoalan lingkungan. Ia menyebut teatrikal itu ingin menggambarkan bahwa kerusakan alam dapat memunculkan kemarahan dari berbagai pihak yang terdampak.
“Ini kami lebih ke sarkastik bahwasanya makhluk yang sudah tidak hidup saja itu marah, apalagi makhluk hidup seperti manusia, hewan, dan lain-lain,” ujarnya.
Melalui pertunjukan tersebut, Teater Kertas berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap keberlangsungan hidup satwa dan lingkungan di kawasan hutan Kalimantan.
“Harapan kami ke depannya adalah pemerintah untuk kembali memberikan hak hidup kepada hewan-hewan yang ada di hutan Kalimantan itu sendiri dengan tidak melakukan pembakaran secara sembarangan,” ujarnya.
Sementara itu, judul Liturgi Menjelaga memiliki makna yang berkaitan dengan konsep pertunjukan. Abigail menjelaskan, “menjelaga” merujuk pada abu, sedangkan liturgi dimaknai sebagai ritual untuk mengingat dan mendekatkan diri kepada sesuatu yang dianggap lebih tinggi dalam kepercayaan adatnya.
Dalam pertunjukan, konsep tersebut divisualisasikan melalui monolog, abu, flare, dan asap yang merepresentasikan kebakaran hutan.
“Ketika ritual yang kita lakukan dengan monolog ini, karena saya gambarkannya adalah dengan monolog ini, jadi ritual yang direpresentasikan dengan abu atau menjelaga itu sendiri, yakni kebakaran hutan itu sendiri. Dan juga tadi direpresentasikan dengan flare dan juga asap-asap,” pungkasnya. (ber)









