Tak Ada PMK, Penjual Hewan Kurban di Malang Ketiban Was-was Gegara Hal Ini

Stand penjualan hewan kurban milik Hermanto, di Gondanglegi Kulon, Kabupaten Malang (Blok-a.com / Putu Ayu Pratama S)
Stand penjualan hewan kurban milik Hermanto, di Gondanglegi Kulon, Kabupaten Malang (Blok-a.com/Putu Ayu Pratama S)

Kabupaten Malang, blok-a.com – Usai wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) berangsur hilang, kekinian muncul kerisauan baru di kalangan peternak wilayah Kabupaten Malang. Utamanya menjelang hari raya Idul Adha 2023.

Turunnya harga tebu yang berdampak langsung pada merosotnya penghasilan para petani, dikhawatirkan ikut membawa ‘apes’ bagi peternak.

Pasalnya, sejauh ini mayoritas pelanggan utama hewan kurban di Kabupaten Malang adalah petani tebu.

Peternak khawatir pasar mereka akan ikut menurun di musim kurban tahun ini.

Kerisauan itu dirasakan oleh salah satu peternak kambing di wilayah Gondanglegi, Kabupaten Malang, Hermanto (65).

“Kami peternak di Kabupaten Malang penghasilannya bisa diprediksi dari penghasilan petani. Kalau petani, terutama petani tebu makmur kita pasti juga makmur. Karena pembeli kita dari petani, berbeda dengan peternak atau penjual hewan kurban di kota,” tuturnya saat ditemui blok-a.com di lapangan Gondanglegi Kulon, Selasa (20/6/2023).

Pria yang sudah berkecimpung di dunia ternak kambing sejak 2002 ini memprediksi, pendapatan petani tebu merosot akibat musim hujan cukup panjang. Sehingga hasil panen juga tak maksimal.

“Tapi kelihatannya ini harga tebu merosot, karena tebunya gak terlalu panjang. Karena musim hujannya terlalu panjang, jadi tebu jelek. Kalau petani rugi pedagang hewan seperti saya ini juga rugi,” jelasnya.

Untuk saat ini, Hermanto bisa sedikit bernapas lega karena hasil penjualannya terhitung cukup baik.

“Alhamdulillah dua hari ini banyak, ada lima kambing terjual setiap harinya. Karena saya juga baru berjualan h-10 biasanya h-15 hari, menunggu harga kambing turun,” jelasnya.

Untuk jenis kambing, ia menjual mulai dari kambing gibas, kambing etawa, hingga peranakan etawa. Dengan rentan harga mulai Rp3 juta hingga Rp 4,5 juta.

“Peminat paling besar jenis etawa. Harganya beragam mulai dari Rp3,5 juta sampai Rp4,5 juta juga ada. Kalau gibas sekarang sudah jarang peminat apalagi yang dari luar kota,” kata Hermanto.

Ia berharap tahun ini penjualannya dapat kembali pesat seperti sebelum adanya kasus PMK. Terutama dari luar wilayah Kabupaten Malang, seperti Kota Malang, Blitar, hingga Lumajang.

Sehingga, ia tak lagi perlu mengandalkan para petani tebu sebagai pelanggan tetapnya.

“Semoga meskipun di wilayah Gondanglegi sepi peminat karena panen tebu merosot, harapan saya semoga langgan dari luar kota bisa tetap masuk. Karena kambing di wilayah Kabupaten Malang dikenal lebih murah dibandingkan di luaran,” bebernya.(ptu/lio)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?