Sejarah Hari Santri Nasional, Ditetapkan Usai Jokowi Berkunjung ke Malang

Hari santri
Ilustrasi santri. (unsplash/Mufid Majnun)

Kota Malang, blok-a.com – Peringatan Hari Santri Nasional setiap tanggal 22 Oktober ternyata memiliki latar belakang sejarah panjang.

Tanggal ditetapkannya Hari Santri bermula dari usulan masyarakat pesantren yang ingin menghormati dan mengenang peran penting santri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Sejarah penetapan Hari Santri bermula saat Joko Widodo (Jokowi) berkunjung ke Pondok Pesantren Babussalam, Malang, Jawa Timur, pada 27 Juni 2014, sebelum dirinya menjabat sebagai presiden.

Para kiai dan santri di pesantren tersebut mengusulkan adanya Hari Santri. Saat itu, usulan awal adalah untuk menetapkan Hari Santri pada tanggal 1 Muharam.

Namun, Nahdlatul Ulama (PBNU) mengusulkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri sebagai pengakuan yang lebih tepat terhadap peran dan kontribusi para santri dalam sejarah Indonesia.

“Saat itu saya belum presiden. Setelah terpilih jadi presiden, permohonan yang saya ingat dari pesantren di Malang, kita kaji dan tindaklanjuti. Lalu, kita putuskan adanya Hari Santri lewat Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Sejak itu kita punya Hari Santri,” tutur Jokowi dalam sambutannya saat apel Hari Santri 2023 di Tugu Pahlawan Surabaya, Minggu (22/10/2023).

Melansir situs Nahdlatul Ulama, tanggal 22 Oktober dipilih untuk memperingati peristiwa penting dalam perjuangan para santri dan masyarakat sipil melawan penjajahan oleh sekutu.

Pada tanggal ini, tepatnya pada tahun 1945, sekelompok pejuang santri bersama rakyat lainnya melakukan perlawanan heroik di kota Surabaya terhadap pasukan sekutu yang mencoba merebut kembali wilayah Indonesia.

Peristiwa ini dikenal sebagai “Pertempuran Surabaya” dan menjadi simbol perlawanan santri dan pejuang Indonesia terhadap penjajah.

Pertempuran ini berujung pada tewasnya Jenderal Mallaby dan ribuan pasukan Inggris, mencapai puncaknya pada tanggal 10 November 1945.

Resolusi Jihad

Penetapan Hari Santri merujuk pada Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dikeluarkan oleh Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, seorang ulama dan pahlawan nasional.

Resolusi ini menggerakkan massa untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah.

Resolusi Jihad, yang dicetuskan oleh Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari, memanggil ulama dan santri di berbagai pesantren di seluruh Indonesia untuk berjihad fi sabilillah, yang berarti berperang di jalan Allah.

Namun, panggilan ini lebih luas daripada sekadar perang, mencakup segala bentuk aktivitas yang mendukung perjuangan Indonesia melawan Sekutu.

Dalam resolusi ini, terdapat tiga poin pokok yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari:

1. Hukum memerangi orang kafir yang menghalangi kemerdekaan Indonesia adalah fardhu ain bagi setiap Muslim, baik yang memiliki kemampuan maupun yang tidak.
2. Hukum meninggal dalam peperangan melawan musuh adalah mati syahid, sesuai dengan ajaran Al-Qur’an.
3. Orang yang memecah belah persatuan Indonesia, yang pada saat itu merujuk pada Sekutu, harus dihukum mati.

Resolusi jihad digambarkan sebagai momen kebangkitan santri menuju arah yang lebih maju dan berkembang dalam jiwa nasionalisme.

Santri saat ini berperan dalam memerangi disinformasi di era digital, sebagai bentuk perwujudan resolusi santri di zaman modern.(lio)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?