blok-a.com – Autopsi merupakan jawaban dari penyebab utama kematian korban Tragedi Kanjuruhan.
Autopsi ini akan dilakukan kepada dua jenazah korban Tragedi Kanjuruhan pada Sabtu (5/11) mendatang. Menurut Tim Gabungan Independen Pencaru Fakta (TGIPF), autopsi yang dilakukan pada korban merupakan jawaban apakah kematian korban disebabkan ikeh gas air mata atau bukan.
Pendamping hukum Tim Gabungan Aremania (TGA) hingga Komnas HAM telah mengungkap, mayoritas korban meninggal dalam Tragedi Kanjuruhan kondisi wajahnya membiru. Oleh karena itu, autopsi jenazah korban dapat menjadi pembuktian ilmiah gas air mata itu mematikan atau tidak.
Hingga saat ini, tidak banyak keluarga korban yang bersedia untuk melakukan autopsi. Menurut Akmal Marhali, anggota TGIPF, hanya ada dua keluarga yang memperbolehkan korban untuk dilakukan autopsi.
Sebelumnya, sempat akan dilakukan autopsi namun gagal karena keluarga korban diduga mendapat intimidasi dari pihak kepolisian. Maka dari itu, keluarga korban yang bersedia untuk melakukan autopsi ini meminta adanya jaminan pendampingan dan keselamatan.
“Autopsi ini salah satu kunci. Makanya kami berharap banyak korban yang mau diautopsi. Sehingga kita banyak pilihan untuk melakukan penelitian terhadap kadar gas air mata yang dilontarkan,” ujar Akmal.
Akmal pun berharap agar proses autopsi berjalan lancar. Sebab, hal tersebut dapat mengungkap tabir tragedi Stadion Kanjuruhan 1 Oktober 2022.
“Mudah mudahan autopsi tanggal 5 besok berjalan lancar. Sehingga hasil autopsi ini akan sangat menentukan pengembangan kasusnya,” harap Akmal.
Jika kemudian memang fakta yang ditemukan bahwa gas air mata adalah penyebab utama ratusan nyawa melayang. Akmal menyebut kasus harus kembali dikembangkan.
“Kalau kemudian ditemukan fakta bahwa penyebab utama meninggalnya banyak korban karena gas air mata yang kedaluwarsa ini kan banyak pihak lagi yang harus dikembangkan penegak hukum,” tegas Akmal.










Balas
Lihat komentar